TERITORIAL.COM, JAKARTA – Minat membaca buku fiksi sejarah terus meningkat, khususnya di kalangan generasi muda.
Buku genre fiksi sejarah dianggap dapat menghadirkan masa lalu dengan cara yang lebih ringan dan menarik, dengan sentuhan yang tidak kaku.
Fiksi dan Fakta dalam Satu Cerita
Fiksi sejarah menggabungkan dua elemen sekaligus, fakta sejarah yang didukung riset serta imajinasi penulis untuk menghidupkan suasana serta karakter di masa lalu.
Melalui cara ini, pembaca dapat menikmati cerita layaknya novel biasa, sekaligus memperoleh wawasan baru tentang sejarah.
Misalnya, kisah tentang perang kemerdekaan atau kehidupan masyarakat kolonial bisa dikemas dalam cerita tokoh fiktif yang menghadapi dilema cinta, persahabatan, atau perjuangan.
Alur seperti ini membuat pembaca merasa dekat dengan sejarah karena disajikan melalui pengalaman manusiawi.
Belajar Sejarah Tanpa Terbebani
Banyak orang menganggap pelajaran sejarah itu membosankan karena dipenuhi tanggal dan peristiwa yang harus dihafalkan.
Namun, melalui fiksi sejarah, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena adanya alur narasi, konflik, dan tokoh-tokoh yang relatable membuat fakta sejarah lebih mudah diingat.
Penulis sekaligus pengajar sastra, beberapa kali menekankan bahwa membaca fiksi sejarah bisa menjadi “jembatan” antara ilmu pengetahuan dan hiburan.
Tidak sedikit mahasiswa atau pelajar yang mengaku lebih tertarik mempelajari sejarah setelah membaca novel-novel berlatar masa lalu.
Dekat dengan Nilai dan Emosional
Selain memberikan wawasan, fiksi sejarah juga menawarkan manfaat emosional.
Pembaca bisa merasakan atmosfer masa lalu, memahami penderitaan atau perjuangan tokoh, bahkan merefleksikan nilai-nilai moral dari peristiwa bersejarah.
Bagi sebagian orang, membaca fiksi sejarah bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga sarana untuk merenung tentang identitas, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Dengan begitu, fiksi sejarah berperan penting dalam membentuk kesadaran sejarah yang lebih personal dan bermakna.

