TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah pusat masih mengupayakan bantuan sosial bagi warga yang terdampak banjir dan tanah longsor hebat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana yang terjadi sejak akhir November ini telah menelan ratusan korban jiwa dan menghancurkan rumah serta mata pencaharian warga di tiga provinsi tersebut.
Bantuan untuk Hidup Selama Pemulihan
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan fasilitas jaminan hidup sementara (jadup) kepada para korban.
Jadup ini diberikan setelah warga mulai menempati hunian sementara (huntara) atau nantinya rumah tetap (huntap).
Setiap orang akan mendapatkan Rp10.000 per hari selama tiga bulan. Besaran ini akan dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga. Misalnya, keluarga dengan empat anggota akan menerima Rp40.000 per hari.
Meski demikian, Gus Ipul menjelaskan bahwa nilai itu masih bersifat usulan dan bisa disesuaikan lagi dengan kebutuhan hidup saat ini.
Santunan untuk Korban Meninggal dan Luka
Pemerintah juga menyiapkan santunan untuk keluarga yang kehilangan anggota akibat bencana ini. Ahli waris korban meninggal akan menerima santunan Rp15 juta, sementara korban yang mengalami luka berat akan mendapatkan Rp5 juta untuk membantu pemulihan.
Bantuan Lainnya untuk Kebutuhan Dasar
Selain jadup dan santunan, korban bencana akan memperoleh dukungan tambahan berupa Bantuan perlengkapan rumah tangga senilai Rp3 juta, meliputi peralatan dapur, meja, kursi, dan barang kebutuhan sehari-hari lainnya.
Selain itu, dukungan pemulihan ekonomi tahap awal sebesar Rp5 juta per keluarga juga akan diberikan untuk membantu mereka bangkit kembali secara ekonomi setelah kehilangan sumber pendapatan.
Gus Ipul menegaskan bahwa bantuan sosial ini merupakan bagian dari upaya bersama seluruh jajaran pemerintah untuk membantu proses pemulihan masyarakat terdampak.
“Kementerian Sosial bukan bekerja sendirian, tapi bagian dari tim besar penanganan bencana,” ujarnya kepada wartawan.
Data terbaru pemerintah menunjukkan jumlah korban jiwa terus bertambah seiring upaya pencarian dan evakuasi di lapangan. Hingga pertengahan Desember 2025, lebih dari 1.000 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan ratusan lainnya masih hilang dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi.
Pemerintah juga mempercepat pembangunan hunian sementara dan rencana relokasi rumah permanen di lokasi yang aman, termasuk penilaian lahan dan persiapan logistik.

