Guru Besar Made Saihu: Universitas PTIQ Kembangkan Pendekatan Keilmuan Bercorak Theohumanistik-Integralistik

0

Jakarta, Teritorial.com – Wacana tentang integrasi ilmu dan agama telah muncul cukup lama dan populer di kalangan muslim, terutama pada masa kejayaan peradaban Islam, dimana sains dan agama telah menyatu. Mengacu sejarah tersebut, konsep integrasi keilmuan yang akan dikembangkan ketika PTIQ Jakarta menjadi universitas bukan sekadar penggabungan antara wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia, tetapi memberi proporsi yang “layak” bagi Tuhan dan manusia dalam keilmuan. Integrasi keilmuan bukanlah “sekularisme”, dan bukan juga “asketisisme”. Tetapi yang diharapkan dapat menyelesaikan konflik antara sekularisme ekstrem dan agama-agama radikal dalam banyak sektor.

Hal tersebut dikemukakan Prof. Made Saihu M.Pd.i, pada Acara Pengukuhan Universitas PTIQ dalam Bidang Ilmu Pendididkan Islam Universitas PTIQ Jakarta, 21 November 2023, di Jakarta. Pidato ilmiah bertajuk “Tauhid Keilmuan: Sebuah Pendekatan Keilmuan Bercorak Theohumanistik-Integralistik”, disampaikan Prof. Made bersamaan dengan Launching Institut PTIQ menjadi Unversitas PTIQ serta Wisuda Program Sarjana S1, S2, dan S3.

Hadir di acara tersebut antara lain Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Al-Qur’an H. Ibnu Sutowo, Rektor PTIQ Jakarta Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA, dosen PTIQ, 790 wisudawan, orang tua wisudawan, dan para duta besar dari berbagai negara seperti Dubes Saudi Arabia, Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Palestina, Iran, Irak, dan Sudan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Dosen Pascasarjana Unviversitas PTIQ tersebut, hal penting dalam keilmuan dan upaya pengembangannya adalah pemahaman dan penguasaan atas masalah epistemologi, karena ia berkaitan dengan persoalan sumber, metode, dan verifikasi (uji kebenaran) sebuah keilmuan. Jadi siapa yang tidak menguasai epistemologi, menurutnya akan sulit mengembangkan ilmunya karena yang bersangkutan berarti tidak memiliki alat dan metode untuk mengembangkan keilmuannya.

Untuk itu, ungkap Doktor Ilmu Pendidikan Islam dari Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, PTIQ Jakarta, wajib mempertimbangkan ulang tiga prinsip dasar pola budaya berfikir kegamaan sebagai landasan epistemologinya, yaitu hadarah al-Nash (pola pikir keagamaan Islam yang dilandasi oleh budaya Nash atau teks bayani), Hadarah al-Ilm (pola pikir keagamaan yang ditopang oleh evidence-based argument, ilmu empirik, rasio burhani), dan hadarah al-falsafah (pola pikir keagamaan yang berlandaskan pada etik-transformatif-filosofis atau critical philosophy), yang berpadu dan menjadi kunci dialog dari integrasi keilmuan, yaitu semipermeable (saling menembus), Intersubjective Testability (keterujian intersubjekctif), dan Creative Imagination (Imajinasi Kreatif), yang tidak saja menekankan aspek Know How tetapi Know Why, yakni makna dari kemampuan dan keterampilan yang dimiliki dalam mencapai kebahagiaan hitup.

Sebelum sampai kepada gagasannya tersebut, Made Saihu yang merupakan alumni S1 STIT Al-Mustakim Negara-Bali, menjelaskan, realitas-realitas wujud yang ada di alam ini tidak semuanya dapat dipahami oleh rasio, karena rasio memiliki kelemahan-kelemahan dan keterbatasan- keterbatasan. Misalnya, soal kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Apa ukuran-ukurannya? Benarkah bahwa kebaikan akan membawa keselamatan? Bagaimana menentukan prinsip yang paling tepat untuk kehidupan manusia diantara banyak prinsip-prinsip dan beragamnya realitas-realitas wujud?

Menjawab hal ini, menurut Prof. Made Saihu, diperlukan sumber yang tidak saja berasal dari realitas, tetapi juga membutuhkan inspirasi dari langit atau wahyu yang nanti akan melahirkan ilmu-ilmu keagamaan (‘Ulūm al-Syar’iyāh). Sementara untuk realitas alam dibutuhkan ilmu (pengenalan) tentang objek dan sebab-sebab yang melingkupinya, yaitu objek indrawi (mudrak bi al-ḥawās), benda-benda lahir dan objek-objek rasional (mudrak bi al-‘aql), dan substansi dari benda-bendar lahir tersebut. Dua macam bentuk objek ini kemudian melahirkan disiplin keilmuan yang berbeda. Objek-objek indrawi melahirkan sains, sedangkan objek-objek rasional melahirkan hikmah (filsafat).

Dua bentuk wujud inilah menjadi sumber pengetahuan manusia (kauniyah dan kauliyah atau wahyu dan rasio) yang berhubungan secara selaras. Rasio memiliki peran besar dalam proses pemahaman terhadap wahyu seperti juga yang terjadi dalam proses pemahaman terhadap realitas. Ia berfungsi sebagai sarana untuk menggali ajaran-ajaran dan prinsip-prinsipnya lewat melalui metode tafsir dan takwil untuk memahami kandungan Al-Qur’an sekaligus untuk dibumikan yang kemudian akan melangitkan manusia. “Jadi melalui dari Al-Qur’an dan Realitas Alam, melahirkan hadarah al-Nash, Hadarah al-Ilm, dan hadarah al-falsafah,” ujar lulusan S2 Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur tersebut.

Share.

Comments are closed.