Jakarta, Teritorial.com – Maulid Nabi Muhammad saw. tidak terlepas dari kisah kelahiran sekaligus perjalanan Nabi Muhammad mulai saat ia dilahirkan sampai akhirnya diangkat menjadi nabi dan rasul dan wafatnya.
Kelahiran Nabi Muhammad memberikan kegembiran bagi orang-orang di zaman itu, karena hari kelahiran Nabi Muhammad sangatlah istimewa. Oleh karena itu, di zaman sekarang umat Muslim sering merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad yang di sebut dengan Maulid.
Perayaan ini tidak dirayakan atau tidak dilakukan oleh Rasullullah saw., namun peringatan ini pertama kali dirayakan ketika Rasulullah telah wafat. Selain itu, dengan diadakannya peringatan Maulid Nabi merupakan sebagai wujud rasa cinta dan syukur umat Muslim kepada Nabi Muhammad saw.
Lantas siapa orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi, dan bagaimana sejarahnya? Mari kita simak informasinya.
Kisah Kelahiran Nabi Muhammad saw.
Berikut ini adalah kisah kelahiran Nabi Muhammad saw. secara lengkap:
1. Terlahir Tanpa Seorang Ayah
Nabi Muhammad saw. lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah atau 570 Masehi, tepatnya pada hari Senin, di Kota Mekah. Waktu kelahiran Nabi Muhammad ini diceritakan sendiri oleh Nabi Muhammad melalui Abu Qatadah, beliau bersabda,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
Artinya: “Itu adalah hari aku dilahirkan, diangkat menjadi Nabi, dan diturunkannya kepadaku Al Quran (pertama kali),” (HR Muslim).
Beliau terlahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang saudagar yang sering bepergian ke Negeri Syam, dan Aminah bin Wahab. Abdullah, ayah dari Rasulullah saw., merupakan anak dari pemimpin suku Quraisy dan sangat dihormati di kalangan warga.
Sementara Aminah, merupakan pemimpin dari Bani Zuhrah. Ia adalah sosok wanita paling mulia dalam hal keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy, sebagaimana diceritakan oleh Abul Hasan al-Ali Hasani an-Nadwi melalui tulisannya yang berjudul Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw.
Namun, Abdullah meninggal dunia saat Aminah mengandung Nabi Muhammad yang saat itu baru berusia 2 bulan. Sehingga Nabi Muhammad terlahir sebagai seorang anak tanpa didampingi oleh ayahnya.
Lantaran Abdullah meninggal dunia, sedangkan Aminah, ibunda Rasulullah saw., sedang mengandung beliau. Ketika itu, ia telah menyaksikan tanda-tanda dan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa anaknya memiliki kemuliaan.
2. Nabi Muhammad saw. dan Ibu Susunya
Dikisahkan dari buku Sirah Nabawiyah-Ibnu Hisyam karya Ibnu Hisyam, kisah kelahiran Nabi Muhammad saw. berlanjut saat sang ibu, Aminah, mengutus seseorang untuk mengabarkan tentang kelahiran anaknya kepada Abdul Muthalib, kakek Rasulullah. Abdul Muthalib sangat senang dengan kelahiran Nabi Muhammad.
Sejarawan menyebut, Abdul Muthalib membawa bayi Nabi Muhammad saw. ke Ka’bah. Hal ini dilakukannya untuk berdoa sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi Muhammad.
Kakek Rasulullah saw. kemudian menyerahkan bayi Muhammad kepada salah seorang ibu susuan dari Bani Sa’ad bin Bakar. Ibu susuannya bernama Halimah binti Abi Dzuaib.
Sebelum Halimah menjadi ibu susu yang terpilih, diceritakan bahwa saat itu Halimah dan rombongannya pergi ke Mekah. Di sana, mereka kemudian ditawari untuk menyusui bayi Muhammad.
Namun, rombongan Halimah menolak tawaran tersebut. Mereka beralasan bahwa Muhammad saat itu adalah seorang anak yatim, sementara mereka membutuhkan imbalan dari ayah sang bayi.
Di tengah-tengah kelompok yang menolak, hanya Halimah yang bersedia dan bersikeras untuk menyusui bayi Muhammad. Hingga ia dan suaminya berhasil membawa sang bayi pulang. Nabi Muhammad pun saat itu tinggal bersama ibu susunya di dusun Bani Sa’ad selama empat tahun.
Perlu diketahui bahwa zaman dulu masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusukan anak-anak mereka kepada perempuan desa. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya tumbuh di lingkungan pedesaan yang udaranya masih bersih dan berada di lingkungan dengan bahasa Arab yang fasih.
Selain itu, menurut Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, dengan adanya anak-anak yang tumbuh di lingkungan pedesaan tentunya memiliki tujuan yaitu agar anak dapat berbicara bahasa yang asli, bahasa Arab Kaum Badwi sejati, bahasa yang belum rusak karena belum dipengaruhi bahasa asing. Dengan demikian, anak dapat bertutur kata dengan bahasa Arab yang baik dan dialek Arab yang asli serta fasih,
3. Wafatnya Sang Ibu dan Kakek
Muhammad kecil saat berusia 5 tahun sudah kembali ke rumahnya. Ia mulai kembali hidup bersama ibunda dan kakeknya. Namun tak lama setelah itu tepatnya saat Rasul berusia 6 tahun,
Nabi Muhammad juga kehilangan sang Ibu, Siti Aminah, yang meninggal dunia setelah mereka berdua ziarah ke makam Abdullah. Aminah dikabarkan jatuh sakit sebelumnya dan dikuburkan di sebuah desa bernama Abwaa’.
Alhasil, Nabi Muhammad saw. kembali ke Mekah bersama Ummu Aiman, sosok pelayan di keluarganya yang kemudian dianggap sebagai saudara sendiri oleh orang tua Nabi Muhammad saw.
Sepeninggal ibunya, Nabi Muhammad harus diasuh oleh Abdul Muthalib, kakeknya. Sang kakek dikisahkan memiliki tempat spesial karena Nabi Muhammad saw. menghabiskan masa kecil bersamanya.
Demikianlah, seorang Nabi Muhammad yang masih berusia 6 tahun sudah harus menjadi seorang anak yatim piatu tanpa kedua orang tuanya. Hal ini membuat Nabi Muhammad dirawat sepenuhnya oleh Abdul Muthalib yang sangat menyayanginya.
Nabi Muhammad kecil hidup bahagia dalam asuhan Abdul Muthalib dan Ummu Aiman. Namun, seakan kebahagian tidak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, Muhammad kecil kembali kehilangan seseorang yang istimewa baginya, yakni sang kakek, Abdul Muthalib.
Tidak dapat dibayangkan bagaimana kesedihan seorang anak usia 8 tahun tersebut.
Pengasuhan Muhammad kecil kemudian diserahkan kepada pamannya yang bernama Abu Thalib. Disebutkan dalam sejumlah sirrah bahwa Abdul Muthalib mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib, mengingat Abdullah dan Abu Thalib adalah saudara seibu.
Saat bersama pamannya inilah, seorang pemuka agama mengenali Muhammad sebagai utusan Allah swt. dan membawa Islam pada seluruh masyarakat dunia.
Kisah kelahiran Nabi Muhammad saw. yang lahir tanggal 12 Rabiul Awal pada hari Senin bernilai istimewa bagi umat Islam. Sebab itulah kita juga mengenal amalan sunnah puasa Senin-Kamis sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Sejarah Maulid Nabi
Berkenaan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad saw., kita mengenal juga istilah Maulid Nabi. Namun, tahukah kamu sejarah Maulid Nabi itu sendiri?
Nah, pada artikel ini akan dibahas secara singkat mengenai sejarah Maulid Nabi Muhammad saw., Berikut sejarah Maulid Nabi saw. yang sering kita rayakan atau peringati.
Sejarah Maulid Nabi tidak lepas dari momen kelahiran Rasulullah yang memiliki banyak keistimewaan. Dikutip dari buku Inilah Kisah Sang Rasul, Sejarah Nabi Muhammad dan Af-Khufafaa ‘Ar-Raasyidiin, karya Muhammad Luqman H. Za, Nabi Muhammad saw. lahir di Makkah pada Senin, 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah.
Rasulullah anak dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Abdullah merupakan anak dari pemimpin Suku Quraisy yang sangat dihormati di kalangan penduduk. Pada tahun itu, Nabi Muhammad saw. yang lahir di Makkah dibesarkan sebagai anak yatim lantaran sang ayah wafat sebelum ia dilahirkan.
Setelah menghabiskan beberapa tahun bersama sang Ibu, Nabi Muhammad saw. tinggal bersama kakeknya Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sangat menyayangi cucunya. Ia senantiasa berdoa dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt. atas kelahiran Nabi Muhammad saw..
Kemudian, sang kakek menyerahkan bayi Muhammad kepada ibu susu yang berasal dari Bani Sa’ad bin Bakar, Halimah binti Abi Dzuaib. Saat itu Halimah dan rombongannya pergi ke Makkah dengan harapan sang cucu tumbuh di lingkungan pedesaan yang bersih dan berbahasa Arab fasih.
Awalnya, rombongan Halimah menolak tawaran tersebut lantaran mengharapkan imbalan. Meskipun demikian, Halimah menyatakan kesediaannya menyusui bayi Muhammad, dan membawanya ke pemukiman Bani Sa’ad selama empat tahun.
Halimah memulangkan bayi Muhammad kepada ibu kandungnya saat menginjak usia 5 tahun, dan kembali memulai kehidupannya bersama sang ibu dan kakeknya. Namun, tidak berselang lama, Aminah wafat ketika Rasullullah saw. berusia enam tahun karena jatuh sakit.
Dua tahun kemudian Abdul Muthalib menyusul kepergian Aminah. Nabi Muhammad saw. yang telah kehilangan tiga orang terkasih akhirnya tinggal bersama pamannya Abu Thalib. Abu Thalib dikenal sangat dermawan meskipun hidup serba kekurangan.
Bersama pamannya, Nabi Muhammad saw. pergi berdagang ke Negeri Syam hingga sukses menjalankan bisnisnya. Di tengah perjalanan bisnisnya, Nabi Muhammad saw. dipertemukan dengan seorang rahib bernama Nasthur, yang mengungkapkan adanya keistimewaan dalam dirinya.
Nabi Muhammad saw. tumbuh menjadi pemuda yang mempunyai budi pekerti baik. Sepulangnya dari Negeri Syam, Rasulullah saw. menikah dengan Khadijah binti Khuwailid dan dikaruniai tiga putera dan empat puteri.
Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun. Peristiwa diangkatnya Nabi Muhammad saw. menjadi rasul terjadi tepat pada 17 Ramadhan tahun 611 M. Nabi Muhammad saw. menerima wahyu untuk pertama kalinya melalui malaikat Jibril di Gua Hira.
Rasulullah pun mulai melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Hingga turun Surat Al-Hijr Ayat 94 yang menyuruhnya berdakwah dengan terang-terangan secara lisan. Sejak saat itu, Rasulullah saw. terus melanjutkan dakwahnya menyebarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya.
Sosok yang Pertama Kali Rayakan Maulid Nabi Muhammad
Mungkin kita sering bertanya-tanya siapa sih orang yang pertama kali memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad saw.? Kali ini kita akan mengetahui orang yang pertama kali merayakan maulid.
Orang yang pertama kali merayakan maulid nabi adalah Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, seorang penguasa Irbil yang ahlus sunah wal jama’ah. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Imam Suyuti, yang mengatakan:
وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ اِرْبِل الَملِكُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي بِنْ زَيِنِ الدِّيْنِ عَلِي اِبْنِ بَكْتَكينْ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالكُبَرَاءِ الْأَجْوَادِ وَكَانَ لَهُ آثَارٌ حَسَنَةٌ، وَهُوَ الَّذِي عَمَّرَ الجَامِعَ الْمُظَفَّرِي بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ
Artinya: “Orang yang pertama kali mengadakan seremonial (merayakan maulid nabi) itu adalah penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Ia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dia lah yang meneruskan pembangunan Masjid al-Mudhaffari di kaki gunung Qasiyun.” (Imam as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawihalaman 182).
Raja Mudhaffar merupakan seorang raja yang pertama kali yang merayakan Maulid Nabi dengan menjadikannya sebagai program yang meriah, teratur, dan tertib.
Hal tersebut juga dikatakan oleh Syekh Muhammad bin Ali asy-Syaukani dalam salah satu kitabnya, bahwa orang pertama kali yang mengadakan seremonial maulid nabi yaitu Raja Mudhaffar.
وَأَجْمَعُوْا أَنَّ الْمُخْتَرِعَ لَهُ السُّلْطَانُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي
Artinya: “Para ulama telah sepakat bahwa yang mengadakan seremonial maulid pertama kali adalah Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi.” (Imam asy-Syaukani, al-Fathur Rabbani min Fatawa Imam asy-Syaukani).
Dikutip dari ebook Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab dan Sya’ban oleh Udji Asiyah, perayaan Maulid Nabi dengan berbagai cara sejatinya sudah ada sejak lama diikuti oleh para raja-raja yang saleh dan para ulama.
Dalam hal ini, peringatan Maulid Nabi dilakukan para raja yang adil dan para ulama terkenal yaitu dalam rangka untuk menghidupkan sunnah nabi (memperingati hari kelahiran Rasulullah saw.).
Di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama ahli sejarah tentang orang pertama yang mengadakan seremonial Maulid Nabi, baik itu dari kalangan ulama salaf (klasik) maupun ulama khalaf (kontemporer).
Salah satu contohnya yaitu Sejarawan Islam asal Mesir, Syekh Hasan as-Sandubi, yang dalam kitabnya mengatakan bahwa orang yang pertama kali yang mengadakan perayaan maulid nabi ialah Dinasti Fatimiyah, dinasti yang diprakarsai oleh Ubaid al-Mahdi.
لَقَدْ دَلَّنِي البَحْثُ عَلَى أَنَّ الْفَاطِمِيِّيْنَ هُمْ أَوَّلُ مَنْ اِبْتَدَعَ فِكْرَةَ الْاِحْتِفَالِ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِي
Artinya: “Sungguh telah menjadi penunjuk kepadaku, pembahasan (di atas), bahwa sungguh Dinasti Bani Fatimah adalah kelompok pertama yang merealisasikan gagasan perayaan untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad.” (Hasan as-Sundawi, Tarikhul Ihtifal bil Maulidin Nabawi)
Tapi, perayaan Maulid Nabi pada masa Dinasti Fatimiyah tidak hanya fokus pada perayaan Maulid Nabi saja. Di mana, mereka juga merayakan perayaan musiman lainnya, seperti perayaan hari kelahiran Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, maulid Sayyidina Hasan dan Husain, dan lainnya.
Dari penjelasan di atas, kita jadi tahu bahwa para ulama memiliki pendapatnya masing-masing mengenai siapa orang yang pertama mengadakan perayaan maulid Nabi Muhammad.
Ada yang mengatakan Sultan Mudhaffar (pendapat Imam as-Suyuthi), ada yang mengatakan Dinasti Fathimiyah (diprakarsai oleh Ubaid al-Mahdi), sebagaimana pendapat Syekh Hasan as-Sandubi, serta ada juga yang mengatakan Sultan Nuruddin (pendapat Syekh Bukhit al-Muthi’i).
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang siapa yang pertama kali merayakan atau memperingati Maulid Nabi Muhammad saw., penting bagi kita sebagai umatnya harus banyak melakukan hal-hal yang baik agar mendapatkan bekah dari Allah dan juga syafaat dari Nabi Muhammad saw.