Jakarta, Teritorial.Com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah presiden RI yang paling berani memainkan bandul politik tingkat nasional maupun internasional. Hanya di era presiden Jokowi Indonesia memainkan dua kekuatan bandul politik timur dan barat sekaligus.
Faktanya berbicara dengan jelas. Presiden Jokowi mampu berkawan dengan baik dengan amerika sekaligus juga mampu bersahabat dengan china.
Dua kekuatan super power dunia saat ini bertemu dalam irisan kepentingan presiden Jokowi. Dan semuanya memberikan suport yang sangat mengesankan. Presiden Jokowi terus melangkah tanpa hambatan politik internasional yang krusial.
Amerika serikat sebagai negara adikuasa sebagaimana klaimnya tidak menunjukan sikap yang biasanya diperlihatkan kepada presiden RI sebelumnya. Terhadap Presiden Jokowi amerika serikat sangat welcome meskipun Presiden Jokowi sangat dekat dengan China. Di era Jokowi kemesraan Indonesia dan Tiongkok sangat terasa dan begitu dekat.
Sehingga banyak pihak sangat khawatir dengan kedekatannya. Bisa jadi, negara lain pun merasakan hal yang sama namun lebih memilih diam.
Akibat dianggap dekat dengan tiongkok, Presiden Jokowi pun selalu terkena terpaan isu – isu politik yang menggelikan. Bahkan ada pihak yang menganggap beliau itu kader PKI yang sengaja disiapkan untuk menjadi Presiden dengan segala bumbu- bumbu analisa yang menggelikan. Tentu saja tanpa data- data yang meyakinkan.
Dipihak lain, Presiden Jokowi juga diterpa isu anti Islam. Tuduhan yang absurd dan sangat tidak pada tempatnya. Saya mengikuti kampnye pilpres sejak awal dengan seksama. Kalimah muqodimmah Pak Jokowi lebih faseh dibandingkan dengan ‘lawan’ beliau. Dari situ saja tuduhan itu gugur.
Satu- satunya analisa politik yang menguatkan adalah pak Jokowi selalu meninggalkan bekas yang mengkhawatirkan. Kasus di Pilkada DKI jakarta dan Solo menjadi argumen sebagian kawan- kawan yang agak ‘miring’ memandang pak Jokowi. Namun itu semua tidak kuat untuk menuduh Pak Jokowi anti Islam.
Kunjungan Raja Salman dari Kerajaan Arab Saudi dengan kekuatan full ke Indonesia membuktikan betapah posisi presiden Jokowi sebagai pemimpin negara Muslim terbesar dunia sangat diperhitungkan. Seandainya presiden Jokowi Anti Islam sangat mustahil mendapat apresiasi yang sangat luar biasa dari negara- negara muslim yang tergabung di OKI. Konsistensi Indonesia dalam membantu palestina dan mendamaikan pertikaian suku di afganistan yang sesama muslim merupakan bukti nyata yang sulit dibantah. Dalam hal ini, Indonesia di bawah kepemimpinan presiden Jokowi selalu di depan.
Menurut informasi yang saya terima,pengamalan beliau terhadap ajaran- ajaran agama Islam sangat kuat dalam kehidupan pribadi dan keluarga beliau. Hingga kini beliau rutin menjalankan shaum senen kemis.
Kedekatan pak Jokowi terhadap kaum Agamawan wa bil khusus kepada para Ulama,kyai dan Ustaz sudah menjadi rahasia umum. Betapah pak Jokowi sangat mesra dengan Ketua MUI Pusat Kyai haji Makruf Amin dan para Kyai Pimpinan Pondok pesantren. Pak Jokowi selalu membuka pintu untuk menerima para kyai.
Bahkan dengan patner demokrasi beliau yang sangat keras pun seperti PA 212 beliau tetap melakukan komunikasi. Ini merupakan fakta yang jelas. Kalau beliau masih dituduh anti Islam, itu tuduhan absurd.
Dengan semangat mengejar ketertinggalan dari negara- negara Asean, pak Jokowi memilih prioritas Pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan Infrastruktur. Kebijakan dahulu yang menghabiskan apbn hanya untuk subsidi, di era pak jokowi di rubah. Tidak ada subsidi yang bersifat konsumtif. Namun pembangunan infra struktur terus digenjot hingga merata.
Memang belum semuanya bisa dinikmati seperti di sebagian daerah. Tapi terobosan- terobosan pembangunan infrastruktur sudah mulai terlihat hasilnya. Benarkah semua itu hasil dari hutang? Apakah mungkin hutang yang dibilang gede oleh para pengamat bisa membangkrutkan Indonesia kita?
Isu hutang gede ini menjadi sorotan serius oleh sebagian pihak. Tanpa melihat hasil yang telah terwujud. Seolah- olah menapikan kemampuan bangsa Indonesia untuk melunasinya. Saya percaya, pak Jokowi punya hitung- hitungan yang cermat. Dan haqqul yakin bangsa Indonesia bisa membayar hutang yang dianggap gede oleh sebagian pihak. Hutang negara pasti rakyat Indonesia akan lunasi,Kecuali hutang yang di korupsi oleh para pejabat dan politisi. Rasa-rasanya rakyat menolak untuk dibebani bayar.
Selama berhutang untuk membangun bangsa dan terlihat jelas wujudnya yakinlah rakyat Indonesia yang patriotik tidak akan meninggalkan presidennya sendirian. Saya percaya,rakyat Indonesia akan bahu membahu untuk melunasi hutang negara. 4000 T bukanlah angka mewah untuk membangun bangsa Indonesia yang besar ini.
Dengan keberanian yang lugu meminjam istilah bang Fadli Zon planga plongo, Pak Jokowi sudah membuktikan kerja kerasnya yang mengesankan. Insya Alloh sebentar lagi kita bisa menikmati MRT LRT di Ibukota Negara. Dan suatu ketika, kita akan kangen lagi suasana bermacet ria ibukota Jakarta. Hehehe.
Kita harus jujur mengakui,langkah- langkah Pak Jokowi dalam memainkan kartu As Indonesia sangat berani, baik di tingkat Nasional,regional bahkan dunia. Bahkan menurut saya, paling berani sepanjang sejarah presiden NKRI. Hanya di era pak Jokowi dua kekuatan disatukan di Indonesia : Barat dan Timur. Kapitalisme dan Sosialisme. Dan itu wujud bukti nyata, Islam Nusantara yang diajarkan Walisongo memang terbukti hebat.
Sukses untuk pak Jokowi. Bakti tulusmu pada umat bangsa dan Negara tak terlupakan dan akan dikenang selalu. Teruslah menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia. So? Lanjutkanlah pak 2019. Hehehe
Oleh Tubagus Soleh, Sekjend PP GPI periode 2013 sd 2016 & Pendiri Institut Kajian Pemikiran dan Aksi