TERITORIAL.COM, JAKARTA – Ancaman obat palsu kian nyata di tengah masyarakat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja memberikan peringatan keras dengan merilis daftar obat-obatan yang paling sering menjadi sasaran pemalsuan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 10 persen produk medis di negara berkembang, termasuk Indonesia, dikategorikan sebagai produk palsu atau di bawah standar. Hal ini bukan perkara sepele, karena mengonsumsi obat palsu bisa berdampak fatal, mulai dari kegagalan pengobatan hingga risiko kematian.
Obat palsu sangat berisiko karena komposisinya yang tidak jelas. BPOM menjelaskan bahwa obat-obatan ini mungkin mengandung zat aktif yang terlalu sedikit, terlalu banyak, atau bahkan tidak mengandung bahan obat sama sekali. Lebih mengerikannya lagi, beberapa temuan menunjukkan adanya campuran zat berbahaya yang tidak seharusnya ada dalam obat tersebut.
Dampak jangka panjangnya tidak hanya merusak kesehatan secara fisik seperti keracunan dan resistensi obat tetapi juga merugikan secara ekonomi karena biaya perawatan yang membengkak akibat penyakit yang tak kunjung sembuh.
Berdasarkan hasil pengawasan lapangan dan laporan masyarakat, BPOM mencatat delapan produk yang sangat rawan dipalsukan:
- Viagra
- Cialis
- Ventolin Inhaler
- Dermovate
- Ponstan
- Tramadol Hydrochloride
- Hexymer
- Trihexyphenidyl Hydrochloride
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa daftar ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti temuan terbaru di lapangan. “Masyarakat dapat memantaunya secara rutin melalui kanal khusus di situs resmi BPOM,” ujarnya.
Sebagai langkah nyata mengedukasi masyarakat, BPOM kini menyediakan Kanal Komunikasi Risiko Obat Palsu. Inisiatif ini merupakan jawaban atas imbauan WHO agar otoritas kesehatan lebih transparan dalam membagikan temuan produk ilegal kepada publik.
Melalui kanal ini, masyarakat bisa melihat langsung:
– Foto dan identitas produk obat palsu.
– Modus peredaran yang digunakan pelaku.
– Dampak kesehatan yang ditimbulkan.
– Langkah hukum yang telah diambil pemerintah.
Akses informasi ini sangat penting karena minimnya pengetahuan masyarakat seringkali menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengedarkan produk berbahaya tersebut, baik secara online maupun offline.
BPOM memastikan tidak akan segan menindak tegas siapa pun yang terbukti mengedarkan obat palsu. Pengawasan ketat terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem layanan kesehatan di Indonesia.
(*)

