EKOBIZ Headline

Bahlil: Impor Minyak dari AS Dilakukan Bertahap

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai melakukan penyesuaian dalam kebijakan impor minyak mentah dengan mengalihkan sebagian pasokan dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan dengan kapasitas penyimpanan energi nasional yang masih terbatas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa proses pengalihan sumber impor tersebut sudah mulai berjalan, meskipun belum dilakukan secara penuh.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3) malam.

Menurutnya, Indonesia tidak bisa langsung mengganti seluruh pasokan minyak secara sekaligus karena keterbatasan fasilitas penyimpanan minyak mentah atau storage di dalam negeri.

Keterbatasan Storage Jadi Tantangan

Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak mentah Indonesia masih relatif terbatas sehingga proses impor harus disesuaikan dengan kemampuan fasilitas yang tersedia. Kondisi ini membuat pemerintah perlu melakukan penyesuaian strategi energi nasional secara hati-hati.

Selain mengalihkan sumber impor minyak, pemerintah juga mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak.

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah berencana menambah kapasitas storage agar dapat menyimpan cadangan minyak lebih lama. Jika sebelumnya cadangan maksimal hanya mampu bertahan sekitar 25 hingga 26 hari, ke depan pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan.

Standar tersebut mengikuti praktik internasional yang umumnya menetapkan cadangan energi strategis dalam jangka waktu tiga bulan sebagai langkah antisipasi terhadap krisis pasokan global.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” ucap Bahlil.

Pembangunan Storage Baru di Sumatera

Untuk mewujudkan target peningkatan cadangan energi tersebut, pemerintah telah mendapatkan calon investor yang akan terlibat dalam pembangunan fasilitas penyimpanan minyak baru. Proyek ini direncanakan akan dibangun di wilayah Sumatera.

Saat ini proyek tersebut masih berada pada tahap studi kelayakan atau feasibility study. Tahap ini diperlukan untuk memastikan kelayakan teknis, ekonomi, dan operasional sebelum proyek memasuki fase konstruksi.

Pemerintah menargetkan proses pembangunan storage tersebut dapat mulai dilaksanakan pada tahun ini.

Dengan bertambahnya kapasitas penyimpanan minyak nasional, Indonesia diharapkan memiliki ketahanan energi yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian pasokan global.

Dampak Ketegangan Global terhadap Energi

Kebijakan penguatan cadangan energi ini juga tidak lepas dari situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Pada akhir Februari, serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, memicu eskalasi konflik di kawasan tersebut. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut. Kabar tersebut kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Energi

Situasi konflik ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Media Iran melaporkan bahwa selat strategis tersebut secara efektif telah ditutup setelah serangan militer terjadi, meskipun belum ada pengumuman resmi terkait blokade penuh.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah tersebut, termasuk ekspor gas alam cair dari negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab.

Diperkirakan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen konsumsi minyak global melintasi jalur tersebut. Karena itu, setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi harga energi dan stabilitas pasokan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Rizki Aminulloh

About Author

You may also like

Daerahku EKOBIZ

Kisah Si Radja Cendol di Sequis Talk

Jakarta, Teritorial.com –  Berawal dari sebuah gerobak cendol sederhana terbuat dari kayu, Danu Sofwan mengawali bisnisnya dengan berjualan cendol yang
Daerahku EKOBIZ

Lonjakan Harga Tinggi, Bitcoin Dilarang BI

 Jakarta,  Teritorial.com – Memasuki era dimana hampir semuanya dapat  didigitalisasikan, Bitcoin menjadi salah satunya fenomena yang sedang marak diperbincangkan, terkait