TERITORIAL.COM, JAKARTA – Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran memicu reaksi keras dari luar negeri, terutama dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump bahkan secara terbuka meremehkan sosok Mojtaba tak lama setelah pengumuman resmi dilakukan oleh otoritas Iran.
Pengangkatan tersebut dilakukan setelah wafatnya Ali Khamenei yang selama puluhan tahun memimpin Iran. Ali Khamenei diketahui meninggal dunia pada 28 Februari setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel menghantam Teheran.
Lembaga yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Iran, yakni Assembly of Experts atau Majelis Pakar, mengumumkan keputusan tersebut pada Minggu. Dalam pernyataannya, majelis menyebut bahwa penunjukan Mojtaba dilakukan setelah melalui proses pertimbangan yang mendalam.
“Dalam sesi luar biasa hari ini, Majelis Pakar, dengan suara menentukan dari para anggotanya, memilih dan memperkenalkan Ayatollah Seyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” kata majelis tersebut dalam sebuah pernyataan.
“Sebagai penutup…(Majelis) menyerukan kepada rakyat Iran yang mulia, khususnya para elite dan intelektual seminari dan universitas, untuk bersumpah setia kepada kepemimpinan dan menjaga persatuan di sekitar poros penjagaan,” lanjut pernyataan tersebut.
Latar Belakang Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 dan merupakan anak kedua dari enam bersaudara dari keluarga Ali Khamenei. Pada masa mudanya, ia pernah bergabung sebagai relawan dalam konflik Iran–Iraq War yang berlangsung pada dekade 1980-an.
Setelah perang berakhir, Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota suci Qom yang dikenal sebagai salah satu pusat utama teologi Syiah di Iran. Kota tersebut menjadi tempat pendidikan banyak ulama terkemuka di negara itu.
Dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya, beberapa anggota keluarga Mojtaba juga dilaporkan turut menjadi korban. Sejumlah laporan media Israel menyebutkan bahwa Mojtaba sendiri mengalami luka dalam peristiwa tersebut.
Setelah penunjukan tersebut diumumkan, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) melalui jaringan medianya menyatakan dukungan penuh kepada pemimpin tertinggi baru Iran.
Trump dan Israel Menentang Penunjukan
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran langsung menuai kritik dari Washington. Presiden Donald Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras yang meragukan legitimasi kepemimpinan Mojtaba.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa setiap pemimpin tertinggi Iran yang baru seharusnya mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump kepada ABC News, merujuk pada Mojtaba.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” lanjut Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penunjukan pemimpin tertinggi merupakan urusan internal Iran yang tidak dapat dicampuri oleh negara lain.
Ia juga mendesak Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat Timur Tengah atas konflik yang semakin memburuk akibat perang yang sedang berlangsung.
Penolakan terhadap kepemimpinan Mojtaba juga datang dari Israel. Militer Israel bahkan mengeluarkan peringatan keras terhadap siapa pun yang terlibat dalam proses penunjukan pengganti Ali Khamenei.
Melalui akun resminya di platform X, militer Israel menyatakan bahwa setiap pihak yang berupaya menunjuk atau menjadi calon pemimpin Iran dapat menjadi target operasi militer.
“Kami ingin memberi tahu Anda bahwa tangan Negara Israel akan terus mengejar setiap calon pengganti dan setiap orang yang berupaya menunjuk pengganti,” tulis IDF di X.
“Kami memperingatkan semua orang yang berniat untuk berpartisipasi dalam pertemuan pemilihan pengganti bahwa kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda juga. Ini adalah peringatan!” lanjut IDF.

