TERITORIAL.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan pada awal perdagangan Jumat pagi di pasar valuta asing Jakarta. Mata uang Garuda tercatat turun sekitar 30 poin atau setara 0,18 persen.
Berdasarkan data pembukaan perdagangan, rupiah berada di posisi Rp16.923 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.893 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang melemah ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen global maupun domestik yang memengaruhi psikologi pasar.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa meningkatnya ketidakpastian terkait konflik geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh global meningkatnya ketidakpastian berakhirnya perang Iran melawan AS-Israel yang mengakibatkan pelaku pasar menghindari aset berisiko (risk off) seperti rupiah yang menyebabkan index dollar meningkat,” katanya.
Ketika ketegangan global meningkat, investor biasanya memilih untuk memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Kondisi ini menyebabkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Ketegangan Iran dan AS-Israel Memicu Kekhawatiran Pasar
Ketidakpastian global semakin meningkat seiring konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Mengutip laporan dari Sputnik, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, menyampaikan bahwa Iran akan meminta pertanggungjawaban Presiden AS Donald Trump atas agresi militer terhadap negaranya.
Larijani juga menyindir pernyataan Trump terkait konflik tersebut. Ia mengatakan bahwa sebuah perang tidak dapat dimenangkan hanya melalui pernyataan singkat di media sosial.
Selain itu, Larijani menegaskan bahwa keputusan untuk menyerang Iran akan menjadi kesalahan strategis yang serius bagi pihak Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump juga menyampaikan pernyataan keras terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa Iran berada “di ujung jalan” dan bahkan mengancam dapat menghancurkan kapasitas listrik negara tersebut dalam waktu singkat jika diperlukan.
Namun demikian, Trump menyatakan bahwa ia berharap langkah tersebut tidak perlu dilakukan.
Sentimen Domestik Juga Tekan Rupiah
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Pelaku pasar mulai memperhatikan kondisi fiskal pemerintah, terutama terkait potensi peningkatan defisit anggaran.
Rully menjelaskan bahwa kekhawatiran pasar muncul akibat kemungkinan bertambahnya subsidi energi seiring kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dapat berdampak terhadap disiplin fiskal pemerintah.
“Sementara dari domestik, (sentimen) terkait kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran dampak dari kenaikan subsidi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dan disiplin fiskal pemerintah,” ungkap Rully.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 mencatat defisit sebesar 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Februari 2026.
Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp135,7 triliun.
Secara keseluruhan, pemerintah memperkirakan APBN 2026 akan mengalami defisit sekitar Rp698,15 triliun atau sekitar 2,68 persen dari total PDB nasional.

