TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah Iran menyampaikan sikap tegas terkait konflik yang tengah berlangsung dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi perang dalam jangka waktu lama dan tidak akan mudah menyerah. Ia bahkan menyebut Iran berpotensi menjadi “Vietnam Kedua” bagi Amerika Serikat, merujuk pada kekalahan memalukan Washington dalam Perang Vietnam beberapa dekade lalu.
Dalam pernyataannya dari Teheran, Khatibzadeh menekankan bahwa saat ini Iran tidak menjadikan jalur diplomasi sebagai prioritas utama. Meski begitu, ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan dialog. Namun, menurutnya, setiap upaya negosiasi harus datang dengan tawaran konkret yang benar-benar mampu mengakhiri konflik secara permanen, bukan sekadar solusi sementara.
Ketika menanggapi kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika ke wilayah Iran, ia memberikan peringatan langsung kepada Presiden AS Donald Trump. “Bacalah apa yang terjadi di Vietnam.” Ia mengisyaratkan bahwa keterlibatan militer secara langsung berisiko membawa Amerika ke dalam konflik berkepanjangan yang sulit dimenangkan.
Dampak Besar Konflik: Ribuan Korban dan Pengungsi
Konflik yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir ini menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Hampir 1.500 warga Iran dilaporkan tewas, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi mencari keselamatan.
Tidak hanya itu, korban jiwa juga terjadi di berbagai negara lain. Ratusan orang di Lebanon menjadi korban, disusul puluhan korban di Irak serta sejumlah korban di negara-negara kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait. Selain itu, korban juga tercatat di Israel, Suriah, Oman, Arab Saudi, dan Bahrain.
Di pihak Amerika Serikat, sebanyak 13 personel militer dilaporkan tewas. Sementara itu, Prancis juga kehilangan satu tentaranya akibat serangan drone di pangkalan militer yang berada di Irak. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik telah meluas dan melibatkan banyak pihak lintas negara.
Iran Tuduh Israel Picu Konflik Lebih Luas
Dalam pernyataannya, Khatibzadeh turut menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang berperan dalam memperluas konflik hingga menyeret Amerika Serikat. Ia menilai bahwa kepentingan politik Israel menjadi salah satu faktor utama di balik eskalasi perang.
Ia juga mengingatkan agar Amerika tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang dianggap tidak memahami kondisi Iran secara menyeluruh. Menurutnya, keputusan yang diambil tanpa pemahaman mendalam justru berpotensi membawa kerugian besar, baik dari segi finansial maupun nyawa prajurit.
Sementara itu, terkait kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, Khatibzadeh memastikan bahwa yang bersangkutan dalam keadaan sehat dan tetap memegang kendali penuh atas pemerintahan, meskipun belum tampil di hadapan publik.

