TERITORIAL.COM, JAKARTA – Situasi geopolitik dunia memasuki titik genting setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari 2026. Aksi militer tersebut memicu respons keras dari Teheran yang kemudian mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak dunia.
Penutupan jalur laut strategis ini langsung menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait potensi krisis energi dan gangguan rantai pasok internasional. Banyak negara kini menghadapi risiko lonjakan harga energi serta ketidakpastian ekonomi akibat eskalasi konflik yang semakin meluas.
Di tengah kondisi yang semakin tidak menentu, perhatian dunia mulai tertuju pada langkah Indonesia yang mengambil pendekatan berbeda, yakni melalui jalur diplomasi.
Indonesia Tawarkan Mediasi, Prabowo Siap ke Teheran
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk turun langsung dalam upaya meredakan konflik dengan menawarkan diri sebagai mediator. Bahkan, Indonesia membuka kemungkinan untuk melakukan pendekatan langsung ke Iran apabila kedua pihak yang bertikai menyetujui inisiatif tersebut.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian bunyi pernyataan Kemlu RI.
Langkah ini dinilai cukup berani, mengingat tidak banyak negara yang memiliki posisi netral sekaligus kredibilitas untuk menjembatani konflik sebesar ini. Namun, Indonesia memiliki keunggulan tersendiri yang menjadi dasar kuat dalam upaya tersebut.
Modal Sejarah dan Diplomasi Jadi Kekuatan Indonesia
Hubungan antara Indonesia dan Iran bukanlah relasi yang baru terbentuk. Secara resmi, hubungan diplomatik kedua negara telah dimulai sejak tahun 1950. Namun jika ditarik lebih jauh, interaksi antara Nusantara dan Persia sudah terjalin sejak abad ke-7 melalui jalur perdagangan.
Para pedagang Persia pada masa itu diketahui aktif berinteraksi dengan wilayah seperti Selat Malaka, Sumatra, hingga Semenanjung Malaya. Hubungan tersebut tidak hanya terbatas pada ekonomi, tetapi juga meninggalkan jejak budaya yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Beberapa contoh pengaruh tersebut antara lain karya sastra seperti Kitab Menak di Jawa dan Hikayat Amir Hamzah di tradisi Melayu, yang memiliki akar dari kisah Persia. Selain itu, unsur budaya Persia juga hidup dalam kesenian tradisional seperti wayang dan tradisi Tabot di Bengkulu.
Di tingkat modern, hubungan bilateral Indonesia dan Iran terus berkembang dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pertahanan, hingga kerja sama sosial. Interaksi antar pemimpin kedua negara juga tergolong aktif, termasuk kunjungan tingkat tinggi yang berlangsung secara berkala dalam dua dekade terakhir.
Indonesia dan Iran juga bekerja sama dalam berbagai forum internasional seperti PBB, OKI, D-8, dan BRICS. Selain itu, keberadaan ratusan warga negara Indonesia di Iran menjadi faktor penting yang turut dipertimbangkan dalam setiap langkah kebijakan luar negeri.
Di sisi lain, hubungan pertahanan kedua negara juga menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya terlihat dari pertemuan antara Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia dengan perwakilan Iran pada 2025 yang membahas kerja sama keamanan maritim.
Dengan kombinasi sejarah panjang, hubungan bilateral yang solid, serta posisi geopolitik yang relatif independen, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran strategis dalam meredakan konflik ini. Tawaran mediasi dari Presiden Prabowo menempatkan Indonesia sebagai aktor penting dalam upaya menjaga stabilitas global.
Kini, dunia menantikan respons dari pihak-pihak yang terlibat konflik. Keberhasilan atau tidaknya inisiatif ini akan menjadi ujian besar bagi diplomasi Indonesia di panggung internasional.

