TERITORIAL.COM, JAKARTA – Presiden Donald Trump memutuskan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama dua minggu sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Kebijakan ini dikaitkan dengan peluang terciptanya gencatan senjata dua arah, dengan syarat Iran membuka akses Selat Hormuz secara penuh dan cepat.
Trump menyebut proposal 10 poin dari Teheran yang disampaikan melalui Pakistan sebagai titik awal yang cukup untuk negosiasi. Namun, ia menilai isi proposal tersebut masih perlu disempurnakan. Jika hingga batas waktu tidak tercapai kesepakatan final, Trump menegaskan opsi serangan militer tetap terbuka.
Sementara itu, Iran memandang situasi ini sebagai kemenangan strategis. Pemerintahnya menyebut Amerika Serikat pada akhirnya menerima kerangka pembicaraan yang mereka tawarkan. Negosiasi resmi dijadwalkan berlangsung pada 10 April di Islamabad dengan durasi awal dua minggu.
5 Alasan Trump Pilih Gencatan Senjata
1. Tekanan Ekonomi yang Semakin Berat
Dampak ekonomi menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan ini. Alan Eyre dari Middle East Institute menilai Trump mulai khawatir terhadap potensi krisis global, terutama akibat posisi strategis Iran di Selat Hormuz yang sangat vital bagi distribusi energi dunia.
2. Ancaman Pemakzulan dari Dalam Negeri
Tekanan politik domestik juga semakin kuat. Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez kembali mendesak agar Trump dimakzulkan.
“Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran, dan terus memanfaatkan ancaman itu,” ujarnya.
Desakan ini memperlihatkan bahwa kebijakan luar negeri Trump menuai resistensi serius di dalam negeri.
3. Minimnya Opsi Strategis
Menurut Trita Parsi dari Quincy Institute, Trump berada dalam posisi sulit. Eskalasi konflik justru berisiko memperburuk situasi, termasuk memicu krisis energi jika Iran melakukan balasan ke negara-negara Teluk.
4. Kepentingan Membuka Selat Hormuz
Pemerintah AS menilai langkah ini sebagai bagian dari keberhasilan strategis untuk memastikan jalur perdagangan global tetap terbuka. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, sehingga stabilitas kawasan menjadi prioritas utama.
5. Menekan Harga Minyak Global
Pasar global merespons positif kebijakan ini. Laporan Reuters mencatat harga minyak mentah AS turun sekitar 16 persen, sementara Brent melemah sekitar 15 persen. Penurunan ini memberi sinyal meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.
Selain itu, bursa saham di Asia juga menguat. Indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan mencatat lonjakan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap stabilitas geopolitik.
Meski demikian, para analis menilai situasi ini masih sangat dinamis. Keberlanjutan gencatan senjata sangat bergantung pada hasil negosiasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

