TERITORIAL.COM, JAKARTA – Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menjadi perhatian berbagai negara, termasuk Indonesia. Virus tersebut dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan memicu langkah antisipasi global untuk mencegah penyebaran lebih luas. Pemerintah Indonesia pun mulai memperkuat kewaspadaan, terutama terhadap kemungkinan masuknya varian Andes yang dikenal memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna memperoleh panduan penanganan serta sistem deteksi dini hantavirus. Menurutnya, hingga saat ini penyebaran virus masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut dan belum meluas ke berbagai negara.
“Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, Jadi belum nyebar ke mana-mana,” ujar Menkes, Kamis.
Pemerintah juga menyiapkan sistem pemeriksaan melalui rapid test maupun reagen PCR seperti yang pernah digunakan saat pandemi Covid-19. Dengan infrastruktur laboratorium yang kini sudah tersebar di banyak daerah, proses deteksi dinilai akan lebih mudah dilakukan jika ditemukan kasus mencurigakan di Indonesia.
Kasus di Indonesia dan Risiko Penularan
Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sudah ditemukan ratusan kasus suspek dengan puluhan di antaranya dinyatakan positif. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus positif yang tersebar di sejumlah provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Kalimantan Barat.
Meski demikian, jenis hantavirus yang umum ditemukan di Indonesia disebut berbeda dengan varian Andes yang kini menjadi perhatian dunia. Varian Andes diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia melalui kontak langsung dan tingkat kematian yang lebih tinggi dibanding tipe lain.
“Kalau yang berusia muda akan lebih kuat (menahan laju infeksi), tapi bagi orang yang berusia lanjut jika terinfeksi tingkat kematiannya lebih tinggi,” ujar Masdalina Pane.
Ia menjelaskan, sebagian besar hantavirus menyebar dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia melalui urine, air liur, atau kotoran yang mencemari lingkungan. Karena itu, kebersihan rumah dan pengendalian populasi tikus menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap orang yang baru datang dari wilayah terjangkit. Walaupun penyebarannya tidak semudah Covid-19, varian Andes tetap memiliki potensi masuk melalui mobilitas manusia internasional.
Pemerintah Perkuat Pengawasan dan Edukasi
Kementerian Kesehatan memastikan pengawasan terhadap penyakit zoonosis akan terus diperkuat, termasuk dengan memperluas sistem surveilans dan pemeriksaan laboratorium. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam tinggi, gangguan pernapasan, atau keluhan lain setelah kontak dengan hewan pengerat maupun bepergian dari negara dengan kasus hantavirus.
Menurut para ahli, langkah pencegahan paling efektif tetap berasal dari lingkungan yang bersih dan perilaku hidup sehat. Rumah yang bebas dari tikus, pengelolaan sampah yang baik, serta menjaga daya tahan tubuh dinilai menjadi kunci penting agar risiko penularan dapat ditekan.
Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap hantavirus, kesiapan sistem kesehatan nasional menjadi faktor penting untuk memastikan potensi penyebaran dapat dikendalikan lebih cepat dan efektif.

