Campuz Headline

Menolak Lupa, IKA USAKTI Rawat Ingatan Reformasi 1998

Ikatan Alumni Universitas Trisakti menegaskan bahwa tragedi tersebut harus terus dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan rakyat melawan ketidakadilan. Gugurnya empat mahasiswa Trisakti, yakni Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hertanto, dan Hafidin Royan, dipandang bukan sekadar kehilangan biasa. Mereka dikenang sebagai sosok muda yang memperlihatkan keberanian luar biasa dalam memperjuangkan perubahan bagi bangsa.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi yang saat ini dinikmati masyarakat Indonesia tidak hadir begitu saja. Kebebasan berbicara, ruang kritik terhadap kekuasaan, hingga sistem yang lebih terbuka lahir melalui pengorbanan besar para mahasiswa dan rakyat yang bergerak menuntut perubahan pada masa Reformasi 1998.

Seruan Menjaga Demokrasi dan Keadilan

Melalui tema “Menolak Lupa”, Ikatan Alumni Universitas Trisakti mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga ingatan kolektif terhadap berbagai pelanggaran HAM yang terjadi pada era reformasi. Mereka menilai bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang menutupi sejarahnya, melainkan bangsa yang berani mengakui dan mempelajari masa lalunya secara jujur.

Selain itu, alumni Trisakti juga menyoroti pentingnya penegakan keadilan yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya tuntas. Pengungkapan fakta sejarah secara terbuka dianggap penting agar luka sosial yang telah berlangsung puluhan tahun tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Generasi muda pun diajak untuk terus mempertahankan nilai-nilai reformasi, seperti demokrasi, supremasi hukum, kebebasan berpendapat, serta keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Menurut mereka, nilai-nilai tersebut harus dijaga agar Indonesia tidak mengalami kemunduran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menolak Pengaburan Sejarah Bangsa

Ikatan Alumni Universitas Trisakti juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk upaya penghilangan atau pengaburan sejarah nasional. Mereka memandang hilangnya ingatan kolektif masyarakat terhadap tragedi kemanusiaan berpotensi membuka ruang terulangnya peristiwa serupa di masa depan.

Tema “Menolak Lupa” disebut bukan sekadar slogan seremonial tahunan, melainkan sikap moral untuk menjaga nurani bangsa. Sebab ketika sebuah negara mulai melupakan perjuangan dan pengorbanan para pejuangnya, saat itu pula arah perjalanan bangsa perlahan dapat kehilangan pijakan moralnya.

Semangat perjuangan mahasiswa Trisakti diyakini masih hidup hingga hari ini, terutama dalam setiap gerakan yang memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan keberanian menyampaikan suara rakyat. Karena itu, seluruh masyarakat diajak bersama-sama merawat demokrasi serta memastikan tragedi kemanusiaan seperti 12 Mei 1998 tidak pernah kembali terjadi di Indonesia.


Ilhamsyah Putra

About Author

You may also like

Campuz Nasional

KPK Tinjau Ulang Kasus Pencucian Uang Setya Novanto Pasca Bebas Bersyarat

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini meminta perkembangan terbaru dari Bareskrim Polri terkait kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian
Campuz Dunia

Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata Gaza dan Pembebasan Sandera

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Hamas mengumumkan menerima usulan gencatan senjata Gaza selama 60 hari, yang mencakup pembebasan setengah dari sekitar 20