TERITORIAL.COM, JAKARTA – Di tengah perdebatan soal penggunaan artificial intelligence (AI) di dunia pendidikan, kisah Ibrahim Al Abrar bocah SD Boyolali ini justru menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Bukan menggunakan AI untuk mengerjakan tugas sekolah, Ibrahim yang saat ini duduk di bangku kelas V memanfaatkannya sebagai teman belajar hingga akhirnya berhasil memperoleh Letter of Recognition (LoR) dari NASA.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa teknologi tidak selalu identik dengan ketergantungan. Ketika digunakan secara tepat, AI justru dapat menjadi alat yang membantu seseorang memahami konsep baru dan mengembangkan kemampuan secara mandiri.
Ibrahim Al Abrar, siswa SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, menerima surat apresiasi resmi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah melaporkan kerentanan keamanan pada salah satu domain publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP). Laporannya dinyatakan valid dan mendapat pengakuan resmi pada 9 Juli 2026.
Yang membuat kisahnya semakin menarik adalah proses belajarnya. Di usia yang belum genap 12 tahun, Ibrahim mempelajari coding dan keamanan siber secara autodidak dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar gratis di internet.
Berawal dari Game, Berakhir di Dunia Cybersecurity
Minat Ibrahim terhadap teknologi sebenarnya dimulai seperti kebanyakan anak seusianya, yakni dari bermain game. Namun, sang ayah yang berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) mengarahkannya agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara teknologi bekerja.
Dari situlah Ibrahim mulai belajar membuat game sederhana. Seiring waktu, rasa penasarannya berkembang ke dunia pemrograman hingga akhirnya mengenal cybersecurity atau keamanan siber.
Dalam berbagai kesempatan, Ibrahim, bocah SD Boyolali, mengaku banyak belajar melalui video YouTube, membaca dokumentasi di internet, berdiskusi dengan komunitas daring, sekaligus memanfaatkan AI ketika menemukan materi yang sulit dipahami. AI digunakan sebagai media bertanya dan memahami konsep, bukan sebagai pengganti proses belajar.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa AI dapat berfungsi layaknya tutor yang membantu menjelaskan konsep secara lebih sederhana, selama pengguna tetap aktif berpikir dan mencoba sendiri.
Prestasi yang Tidak Datang dalam Semalam
Keberhasilan Ibrahim bukan hasil percobaan pertama.
Ayahnya mengungkapkan bahwa sebelum mendapatkan apresiasi dari NASA, Ibrahim telah beberapa kali mengirim laporan kerentanan. Ada laporan yang ditolak karena tidak memenuhi kriteria, ada pula yang dianggap duplikat karena sebelumnya sudah ditemukan peneliti lain.
Baru setelah beberapa kali mencoba, Ibrahim berhasil menemukan kerentanan bertipe broken link hijacking, yakni kondisi ketika tautan yang sudah tidak lagi digunakan berpotensi diambil alih pihak lain sehingga dapat dimanfaatkan untuk aktivitas berbahaya seperti phishing apabila tidak segera diperbaiki. Temuan tersebut kemudian diverifikasi oleh tim keamanan NASA melalui program VDP.
Proses tersebut menunjukkan bahwa dunia teknologi tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dari kegagalan.
AI Tidak Menggantikan Proses Belajar
Di kalangan pelajar, AI sering dipandang sebagai alat untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. Padahal, penggunaan seperti itu justru berisiko mengurangi kemampuan berpikir kritis.
Kisah seorang bocah SD Boyolali memperlihatkan pendekatan yang berbeda. AI dimanfaatkan untuk mencari penjelasan tambahan, memahami istilah teknis, dan membantu ketika mengalami kebuntuan dalam belajar. Seluruh proses eksplorasi, pengujian, hingga menemukan solusi tetap dilakukan oleh dirinya sendiri.
Dengan kata lain, prestasi tersebut bukan dihasilkan oleh AI, melainkan oleh rasa ingin tahu, konsistensi belajar, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak.
Pendekatan seperti ini semakin relevan di era ketika berbagai profesi mulai membutuhkan kemampuan digital, mulai dari software engineer, data analyst, hingga cybersecurity specialist.
Pelajaran untuk Gen Z dan Gen Alpha
Banyak orang beranggapan bahwa belajar teknologi membutuhkan perangkat mahal atau kursus dengan biaya tinggi. Kisah Ibrahim membuktikan sebaliknya.
Internet menyediakan begitu banyak sumber belajar gratis, mulai dari dokumentasi resmi, video pembelajaran, forum diskusi, hingga AI yang dapat membantu menjelaskan materi secara interaktif. Yang membedakan hasil akhirnya bukan semata akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan hanya menguasai aplikasinya, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan untuk terus belajar.
Bocah SD Boyolali ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang berdampak. Dari sebuah desa di Boyolali, ia berhasil membuktikan bahwa dengan semangat belajar, internet, dan pemanfaatan AI yang tepat, seorang pelajar Indonesia pun mampu berkontribusi pada keamanan sistem digital lembaga sebesar NASA.
Barangkali, pelajaran terbesar dari kisah ini bukan sekadar tentang coding atau cybersecurity. Melainkan tentang bagaimana teknologi akan menjadi peluang besar bagi mereka yang memilih untuk belajar, bukan sekadar menjadi pengguna.

