Sejak masih anak-anak, Kusama telah mengalami pengalaman yang tidak biasa. Saat berusia sekitar 10 tahun, ia mulai melihat halusinasi berupa titik-titik dan pola menyerupai jaring yang memenuhi pandangannya. Pengalaman itu kemudian menjadi sumber inspirasi utama dalam hampir seluruh karya yang diciptakannya hingga kini.
Menurut Kusama, kondisi tersebut tidak terlepas dari tekanan yang ia alami semasa kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak mendukung cita-citanya sebagai seniman. Ibunya beberapa kali melarangnya melukis dan berharap ia menjalani kehidupan sesuai peran tradisional perempuan Jepang pada masa itu. Meski halusinasi tidak pernah benar-benar hilang, Kusama memilih menjadikannya bagian dari proses kreatif.
“Karya seniku adalah ekspresi dari hidupku, khususnya dari penyakit mentalku,” kata Kusama dalam wawancara dengan Bomb Magazine.
Usai menempuh pendidikan di Sekolah Seni dan Kerajinan Kyoto, Kusama mengadakan pameran perdananya di kota kelahirannya, Matsumoto. Di masa ketika isu kesehatan mental masih dianggap tabu, ia justru terbuka membicarakan kondisinya kepada publik.
Kurator Museum Ludwig di Köln, Stephan Diederich, menilai keterbukaan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa pada zamannya.
“Sungguh luar biasa bahwa ia membahasnya dengan begitu terbuka.”
Menurut Diederich, seni menjadi cara Kusama untuk bertahan sekaligus terapi yang terus ia jalani sepanjang hidup.
“Bagi dia, seni adalah strategi bertahan hidup dan bentuk terapi, yang selalu ia sampaikan dengan jelas tanpa menjadikannya fokus utama,” kata Diederich kepada DW.
Pada 2026, Museum Ludwig menggelar pameran retrospektif yang merangkum lebih dari 70 tahun perjalanan kreatif Kusama. Pengunjung dapat menyaksikan berbagai fase kariernya, mulai dari lukisan awal, patung, hingga instalasi imersif yang menjadi ciri khasnya. Sejumlah karya monumental seperti Aggregation: One Thousand Boats Show, I’m Here but Nothing, dan Flowers That Speak All about My Heart Given to the Sky turut dipamerkan untuk memperlihatkan evolusi artistik sang seniman.
Meninggalkan Jepang demi Kebebasan Berkarya
Masa muda Kusama di Jepang diwarnai tekanan keluarga yang ingin menjodohkannya dengan pria pilihan mereka. Situasi tersebut membuatnya merasa kehilangan kebebasan menentukan jalan hidup.
“[Orang tuaku] selalu berusaha memaksaku menikah secara diatur dengan pria-pria yang belum pernah kutemui dan berasal dari keluarga-keluarga tertentu.”
Dalam percakapannya dengan penulis Andrew Solomon, Kusama menyebut masa awal usia 20-an sebagai periode krisis mental yang membuatnya merasa seperti hidup dalam penjara.
Keputusan besar diambil pada 1958 ketika ia pindah ke New York. Kepindahan itu menjadi titik balik yang membuka kesempatan lebih luas bagi Kusama untuk mengeksplorasi ide-idenya tanpa dibatasi norma sosial Jepang pascaperang.
Di Amerika Serikat, ia memperoleh dukungan dari pelukis Georgia O’Keeffe yang lebih dahulu mengapresiasi karya-karyanya. Kusama kemudian dikenal sebagai sosok yang bekerja tanpa mengenal waktu. Dari studio kecilnya di New York lahir seri Infinity Net, lukisan dengan pola repetitif yang kemudian menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam perjalanan kariernya.
Ia juga aktif di lingkungan seniman avant-garde dan menciptakan berbagai karya eksperimental yang sering dibandingkan dengan karya Andy Warhol maupun Claes Oldenburg. Meski demikian, popularitas dan keuntungan finansial lebih banyak diraih seniman laki-laki pada masa itu, sementara Kusama masih harus berjuang mendapatkan pengakuan sebagai perempuan Asia di dunia seni Amerika.
Tekanan tersebut memperburuk kondisi mentalnya hingga ia sempat melakukan percobaan bunuh diri. Pengalaman hidup itu kemudian dituangkan ke dalam sejumlah karya, termasuk patung Traveling Life (1964) yang mengangkat isu ketimpangan gender.
Pada era 1960-an, Kusama juga menggelar berbagai aksi seni bertajuk happenings sebagai bentuk penolakan terhadap Perang Vietnam. Ia menggunakan konsep “penghapusan diri” dengan melukis tubuh manusia menggunakan pola titik-titik sebagai simbol hilangnya batas identitas individu.
“Mengapa orang-orang yang saling berbagi kenikmatan harus berperang dan membunuh orang lain? Melalui seks bebas, tembok pemisah antara saya dan orang lain dapat diruntuhkan,” tulis Kusama dalam otobiografinya.
Ia pun pernah menjelaskan gagasan tersebut melalui pernyataannya:
“Dengan menghapus diri sendiri, kamu kembali ke alam semesta yang tak terbatas.”
Pada 1966, Kusama mencuri perhatian dunia ketika menghadirkan Narcissus Garden di Biennale Venesia tanpa undangan resmi. Sebanyak 1.500 bola bercermin dipasang di area terbuka dan dijual kepada pengunjung dengan harga 2 dolar AS per buah. Meski akhirnya dihentikan panitia, aksi tersebut dikenang sebagai kritik terhadap komersialisasi dunia seni.
Diakui Dunia Hingga Menjadi Legenda Seni
Perjalanan panjang Kusama akhirnya membuahkan hasil. Pada 1993, ia kembali tampil di Biennale Venesia sebagai wakil resmi Jepang, sebuah pencapaian yang sangat berbeda dibanding aksinya hampir tiga dekade sebelumnya.
Keinginannya untuk dikenal luas memang bukan rahasia.
“menjadi lebih terkenal, bahkan lebih terkenal lagi.”
Harapan itu terwujud dalam beberapa tahun terakhir. Pameran Kusama selalu dipadati pengunjung. Museum The Broad di Los Angeles pernah menjual puluhan ribu tiket prapenjualan hanya dalam waktu singkat, sementara pamerannya di Tate Modern London juga habis terjual. Bersamaan dengan itu, nilai karya-karyanya terus meningkat hingga mencapai jutaan dolar AS di pasar lelang internasional.
Sejak kembali ke Jepang pada 1973, Kusama memilih tinggal di sebuah rumah sakit psikiatri di Tokyo. Meski menjalani perawatan secara rutin, ia tetap aktif berkarya hampir setiap hari. Dari tempat itulah lahir berbagai lukisan, patung, instalasi, hingga ruang imersif yang dipamerkan di berbagai negara.
Bagi Kusama, seni bukan sekadar profesi, melainkan cara mempertahankan hidup sekaligus memberikan harapan kepada orang lain.
“Saya akan terus menciptakan karya seni selama hasrat saya masih mendorong saya untuk melakukannya. Saya sangat tersentuh karena begitu banyak orang telah menjadi penggemar saya.”
Ia menambahkan:
“Saya kira saya tidak akan bisa mengetahui bagaimana orang-orang akan menilai seni saya sampai setelah saya meninggal. Saya menciptakan seni untuk penyembuhan seluruh umat manusia.”

