Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi satwa yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memastikan proses penyelamatan serta perawatan orangutan berjalan dengan baik. Gibran hadir bersama sejumlah pegiat konservasi satwa dan dokter hewan yang datang dari Jakarta untuk meninjau upaya penanganan di lokasi.
Dalam agenda tersebut, Gibran berkesempatan melihat aktivitas perawatan orangutan secara langsung. Ia juga didampingi oleh tim konservasi saat meninjau kawasan rehabilitasi, termasuk berinteraksi dengan satwa yang sedang menjalani proses pemulihan.
“Penanganan karhutla harus menyeluruh. Manusia harus terlindungi, tetapi satwa dan habitatnya juga tidak boleh kita abaikan. Saya ingin memastikan kebutuhan perawatan di sini benar-benar terpenuhi,” kata Gibran mengutip keterangannya, Jumat (11/9).
Selain melihat kondisi orangutan, Gibran berdiskusi dengan dokter hewan, relawan, serta para pekerja konservasi yang selama ini menangani satwa terdampak bencana lingkungan tersebut.
Ia juga menyerahkan sejumlah bantuan untuk mendukung operasional pusat rehabilitasi, mulai dari obat-obatan, kebutuhan pakan berupa bawang bombay, hingga alat nebulizer yang digunakan dalam proses perawatan kesehatan orangutan.
Pemulihan Habitat Jadi Bagian Penanganan Karhutla
Menurut Gibran, penyelamatan satwa tidak dapat dipisahkan dari upaya pemulihan lingkungan. Satwa yang terdampak kebakaran membutuhkan perawatan medis, namun pemulihan habitat juga menjadi faktor penting agar mereka dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Perlindungan satwa dan pemulihan lingkungan adalah hal penting yang saling terkait. Termasuk penyembuhan hewan yang terluka serta penyediaan kembali sumber pakan, air dan ekosistem bagi satwa,” ucap dia.
Ia menilai keberadaan dokter hewan, relawan, yayasan konservasi, serta masyarakat yang terlibat dalam perlindungan satwa memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan ekosistem Indonesia.
“Terima kasih kepada para dokter hewan, pecinta hewan, relawan, yayasan dan seluruh tim yang terus melakukan perawatan untuk melindungi satwa Indonesia. Aksi nyata Bapak Ibu semua sangat berarti,” ujar Gibran.
Dalam kunjungannya, Gibran juga menyambangi Forest School BOSF Nyaru Menteng yang menjadi tempat pembinaan bagi 17 individu orangutan. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari proses rehabilitasi sebelum satwa dikembalikan ke habitat alami.
Selain itu, ia turut melihat area Karantina Individu Orangutan untuk menyaksikan proses nebulisasi atau terapi menggunakan uap bagi orangutan yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Di kawasan karantina tersebut, sekitar 90 orangutan kini menjalani perawatan di kandang khusus yang disesuaikan dengan kondisi medis serta kebutuhan masing-masing satwa.
Kunjungan ini menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap dampak karhutla yang tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga mengganggu keberlangsungan satwa liar dan ekosistem hutan di Indonesia.

