TERITORIAL.COM, JAKARTA – Upaya membangun kembali Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran besar pada Agustus 2026 dinilai tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik. Proses pemulihan kawasan bersejarah tersebut juga harus memastikan kelestarian budaya Suku Sasak tetap terjaga serta masyarakat adat tetap menjadi bagian utama dalam pengelolaan kawasan wisata.
Akademisi Universitas Mataram (Unram), Agus Purbathin Hadi, mengatakan rekonstruksi Kampung Adat Sade perlu dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan kebutuhan sektor pariwisata. Menurutnya, nilai utama kampung adat tersebut bukan semata-mata terletak pada bangunan tradisionalnya, melainkan pada kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi turun-temurun.
“Jangan sampai setelah dibangun kembali Sade menjadi museum yang kehilangan kehidupan masyarakatnya. Kekuatan Sade justru terletak pada budaya yang masih hidup,” ujarnya di Mataram, Jumat.
Selama ini Kampung Adat Sade dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya paling terkenal di Pulau Lombok. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat bentuk rumah tradisional Sasak, tetapi juga menyaksikan langsung aktivitas masyarakat yang masih menjalankan adat istiadat, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Rekonstruksi Harus Libatkan Masyarakat Adat
Agus menilai pembangunan kembali kawasan terdampak kebakaran sebaiknya tidak hanya mengembalikan bentuk fisik permukiman. Lebih dari itu, proses tersebut harus memberi ruang bagi masyarakat adat untuk tetap menjadi pelaku utama dalam menjaga sekaligus mengembangkan Kampung Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya.
Ia menyarankan penerapan konsep community-based cultural tourism, yakni pengembangan pariwisata berbasis budaya masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari atraksi wisata, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi secara langsung sebagai pemilik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Agus, keterlibatan masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan menjadi faktor penting agar identitas Kampung Adat Sade tetap terjaga. Dengan demikian, pembangunan yang dilakukan tidak sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi juga mempertahankan nilai sejarah dan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.
“Yang harus kita bangun kembali dari Sade bukan hanya rumah yang terbakar, tetapi rasa memiliki masyarakat terhadap budayanya. Ketika masyarakat adat tetap menjadi pusat keputusan, maka bangunan yang berdiri kembali bukan hanya menjadi bangunan baru, tetapi menjadi kelanjutan sejarah dan peradaban Sasak,” pungkas dia.
Puluhan Bangunan Rusak akibat Kebakaran
Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade terjadi pada malam hari, tepatnya sekitar pukul 22.00 WITA pada 22 Agustus 2026. Api dengan cepat menyebar karena sebagian besar bangunan di kawasan tersebut masih menggunakan material tradisional yang mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang sebagai atap.
Berdasarkan data yang dihimpun, peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan pada 75 rumah adat, delapan berugak atau gazebo tradisional, enam bangunan sekenam, satu masjid, dua fasilitas toilet, serta 69 artshop milik warga yang selama ini menjadi pusat penjualan kerajinan dan cendera mata bagi wisatawan.
Sejumlah warga yang menyaksikan kejadian tersebut menyebut kobaran api pertama kali muncul dari salah satu rumah yang berada di bagian tengah permukiman. Dalam waktu singkat, api menjalar ke bangunan lain karena jarak antarrumah yang berdekatan dan dominasi material berbahan alami.
Kampung Adat Sade sendiri merupakan salah satu warisan budaya tertua di Pulau Lombok. Permukiman ini diyakini telah berdiri sejak abad ke-16 dan diwariskan secara turun-temurun hingga mencapai sekitar 15 generasi. Karena nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya, proses rekonstruksi kawasan tersebut diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat adat sebagai bagian penting dari identitas budaya Sasak.

