Jakarta, TERITORIAL.COM – PT Pertamina (Persero) mengembangkan berbagai bahan bakar nabati atau biofuel dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri. Bahan baku yang dikembangkan meliputi kelapa sawit, molase atau tetes tebu, sorgum, hingga minyak jelantah.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas sumber energi alternatif, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan, perusahaan tengah menyiapkan uji coba biogasoline berbahan dasar kelapa sawit di dua kilang Pertamina. Selain itu, Pertamina mengembangkan bioetanol dari molase tebu dan mengkaji penggunaan bahan baku alternatif.
“Ini bagian dari bagaimana kita melakukan diversifikasi sumber energi yang kita miliki,” ujar Ary dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).
Diversifikasi tersebut menjadi salah satu upaya Pertamina untuk mengoptimalkan potensi sumber daya domestik agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Pertamina Kembangkan Bioetanol dari Sorgum
Selain kelapa sawit dan molase tebu, Pertamina menjajaki penggunaan sorgum sebagai bahan baku bioetanol. Tanaman ini dinilai berpotensi menjadi alternatif untuk memperluas sumber bahan baku bahan bakar nabati di Indonesia.
Manager Sustainability Rating & Disclosure Pertamina Hendrick Warman mengatakan, perusahaan telah mengembangkan proyek percontohan bioetanol melalui proses fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga April 2026, produksi bioetanol yang dikembangkan Pertamina masih menggunakan molase sebagai bahan baku utama. Perusahaan kemudian mengkaji kemungkinan pemanfaatan bahan lain, termasuk sorgum dan aren, yang dinilai memenuhi spesifikasi untuk dicampurkan ke dalam bensin.
“Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting,” ujar Hendrick dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).
Bioetanol merupakan bahan bakar berbasis alkohol yang dapat diproduksi melalui fermentasi bahan yang mengandung gula atau pati. Dalam campuran bensin, bioetanol dapat membantu meningkatkan angka oktan atau research octane number (RON).
Meski demikian, manfaatnya terhadap lingkungan tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan bakar yang digunakan. Besarnya penurunan emisi juga bergantung pada bahan baku, proses produksi, serta energi yang digunakan selama pengolahannya.
Minyak Jelantah Diolah Menjadi Bahan Bakar Pesawat
Pengembangan biofuel Pertamina juga menyasar sektor penerbangan melalui pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO).
Minyak bekas memasak tersebut dikembangkan sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), yaitu bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang dapat menjadi alternatif bahan bakar pesawat konvensional.
Pemanfaatan minyak jelantah membuka peluang untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah. Bahan baku ini juga berpotensi mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, bergantung pada proses produksi dan keseluruhan siklus hidup bahan bakarnya.
Namun, pengembangan SAF membutuhkan dukungan teknologi, kesiapan produksi, serta kebijakan yang memungkinkan penggunaannya diperluas di sektor penerbangan.
Ary menilai dukungan pemerintah melalui kebijakan dan regulasi, termasuk mandat pemanfaatan bahan bakar nabati, diperlukan agar pengembangan berbagai jenis biofuel dapat berjalan lebih luas.
Program Biodiesel B50 untuk Mengurangi Impor Solar
Di samping mengembangkan biogasoline, bioetanol, dan SAF, Pertamina juga mendukung pemanfaatan biodiesel B50.
B50 merupakan bahan bakar yang terdiri dari 50 persen biodiesel dan 50 persen minyak solar. Biodiesel yang digunakan dalam program ini berbahan baku minyak sawit.
Pemerintah telah meluncurkan program mandatori B50 pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Berdasarkan target pemerintah, penerapan B50 diproyeksikan dapat mengurangi kebutuhan impor solar hingga 18 juta kiloliter pada 2026. Program ini juga diperkirakan menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun.
Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 diproyeksikan menekan emisi sekitar 44,46 juta ton karbon dioksida (CO2). Sementara itu, dari sisi ekonomi, program ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel juga diproyeksikan meningkatkan nilai tambah industri minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Angka-angka tersebut merupakan target dan proyeksi manfaat program, sehingga realisasi akhirnya bergantung pada pelaksanaan kebijakan dan kondisi di lapangan.
Optimalisasi Sumber Daya Dalam Negeri
Ary mengatakan, pemanfaatan sumber daya perkebunan, termasuk kelapa sawit, merupakan salah satu pilihan untuk memperkuat pasokan energi domestik.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis bahan bakar alternatif. Karena itu, diversifikasi menjadi langkah penting agar kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis sumber daya.
Pengembangan berbagai biofuel tersebut mencakup bahan bakar untuk kendaraan darat hingga sektor penerbangan. Setiap jenis bahan bakar memiliki bahan baku, proses produksi, dan kebutuhan teknologi yang berbeda.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan sumber daya yang tersedia dapat diolah secara efisien, memenuhi standar kualitas bahan bakar, dan memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan.
Melalui pengembangan biogasoline, bioetanol, SAF, dan biodiesel B50, Pertamina berupaya memperluas pemanfaatan sumber daya domestik untuk mendukung ketahanan energi Indonesia. Keberhasilan upaya tersebut akan bergantung pada kesiapan teknologi, dukungan regulasi, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan meningkatkan produksi secara berkelanjutan.

