Bersuara Headline

Panel Surya Pangkas Tagihan Listrik Jadi Rp 900 Ribu, Ketua RT di Jaktim Manfaatkan Air AC dan Sampah

Taufiq Supriadi Yusuf, Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, mengembangkan berbagai inovasi ramah lingkungan untuk mewujudkan kawasan permukiman padat yang lebih berkelanjutan. (KOMPAS.com/Muhammad Wildan Alghofari)

Jakarta, TERITORIAL.COM – Keterbatasan lahan di permukiman padat penduduk tidak menghalangi Taufiq Supriadi Yusuf, Ketua RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, untuk membangun lingkungan yang lebih hijau dan hemat biaya. Melalui berbagai inovasi, ia memanfaatkan energi matahari, air buangan pendingin ruangan (AC), hingga sampah rumah tangga agar bisa digunakan kembali.

Salah satu inovasi yang memberikan dampak langsung bagi warga adalah pemasangan panel surya di atap rumahnya. Energi yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik sejumlah fasilitas umum, mulai dari penerangan gang hingga pos keamanan lingkungan.

Upaya tersebut berhasil menekan tagihan listrik lingkungan dari sekitar Rp 3 juta menjadi Rp 900.000 per bulan. Artinya, pengeluaran listrik berkurang sekitar Rp 2,1 juta setiap bulan.

Taufiq tidak hanya berfokus pada penghematan energi. Ia juga mengembangkan sistem pemanfaatan air kondensasi AC untuk menyiram tanaman, mengisi kolam ikan, dan membantu mengisi lubang resapan biopori. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, hingga pakan untuk ikan lele dan ayam petelur.

“Semua air, energi, kemudian teknologi tepat guna harus diterapkan. Sumber daya enggak boleh ada yang dibuang,” ujar Taufiq saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/10/2026).

Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan terpadu yang dikembangkan bersama warga. Kawasan permukiman yang terbatas lahannya itu juga memiliki ratusan tanaman produktif dan kegiatan budidaya yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Panel Surya 10.000 Watt Pangkas Tagihan Listrik Lingkungan

Panel Surya terpasang di rumah Ketua RT 8 Malaka Jaya, membuat hemat energi dan hemat biaya, (KOMPAS.com/Muhammad Wildan Alghofari)

Panel surya berkapasitas 10.000 watt atau 10 kilowatt dipasang di atap rumah Taufiq sejak Maret 2026. Listrik yang dihasilkan kemudian dialirkan untuk menunjang kebutuhan fasilitas umum di lingkungan RT 08/RW 04 Malaka Jaya.

Penerapannya mencakup lampu penerangan gang, pos RT, serta sejumlah fasilitas pendukung kegiatan warga. Energi tersebut juga digunakan untuk mengoperasikan aerator kolam lele, pompa sirkulasi air, dan kulkas freezer milik warga.

Taufiq menjelaskan, listrik dari panel surya didistribusikan ke sejumlah titik agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu rumah.

“Jadi pemasangan panel surya ini saya taruh di atap rumah. Saya taruh (alirkan listrik) ke gang-gang, saya taruh pos RT, saya dorong ke belakang dibagi ke seluruh gang (rumah warga),” katanya.

Sistem panel surya tersebut menggunakan mekanisme on-grid, yakni terhubung dengan jaringan listrik PLN. Energi matahari dimanfaatkan ketika tersedia pada siang hari, sementara kebutuhan listrik pada malam hari tetap dipenuhi melalui jaringan PLN.

Penggunaan energi surya ini berdampak pada pengeluaran listrik lingkungan. Jika sebelumnya tagihan bulanan mencapai Rp 3 juta, kini jumlahnya turun menjadi sekitar Rp 900.000.

“Alhamdulillah dari Rp 3 juta sekarang jadi Rp 900.000 per bulan,” ujar Taufiq.

Menurut Taufiq, pemasangan panel surya yang nilainya mencapai sekitar Rp 200 juta tersebut mendapat dukungan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Agar kinerjanya tetap terjaga, permukaan panel dibersihkan setiap tiga bulan untuk menghilangkan debu dan kotoran yang dapat mengganggu penyerapan sinar matahari.

Air Buangan AC Ditampung untuk Menyiram Tanaman

Selain memanfaatkan energi matahari, Taufiq mengembangkan cara untuk mengurangi air yang terbuang percuma. Ia menampung air kondensasi dari AC yang biasanya langsung dialirkan ke saluran pembuangan.

Ide tersebut awalnya muncul ketika ia berencana menerapkan sistem pemanenan air hujan atau rainwater harvesting. Namun, karena hujan tidak kunjung turun, ia mencari alternatif lain agar kebutuhan air untuk lingkungan tetap dapat dipenuhi.

“Awalnya teknologinya digunakan sebagai rain water harvesting yaitu penampungan air hujan. Karena tidak mendapatkan hujan jadi pakai air AC untuk ditampung ke tong,” tuturnya.

Menurut Taufiq, satu unit AC yang diatur pada suhu 21 derajat Celsius dapat menghasilkan sekitar 15 liter air dalam empat jam penggunaan. Dengan asumsi jumlah air yang dihasilkan tetap sama, volume tersebut secara teoritis bisa mencapai 45 liter jika AC beroperasi selama 12 jam.

Air yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, mengisi kolam ikan, dan membantu pengisian lubang resapan biopori. Sistem perpipaan dipasang agar air dapat dialirkan menuju tempat yang membutuhkan.

Taufiq mengatakan, air kondensasi AC digunakan untuk keperluan nonkonsumsi. Air tersebut belum dimanfaatkan sebagai air minum karena kualitas dan keamanannya harus dipastikan melalui pengujian laboratorium.

“Kalau buat tanaman atau buat nyiram apa, ngisi kolam, buat ngisi lubang resapan biopori, aman-aman saja. Kecuali kalau ingin minum, bawa ke laboratorium dulu,” ujarnya.

Pemanfaatan air tersebut juga mulai dilakukan secara mandiri oleh warga. Mereka mengambil air dari tempat penampungan untuk menyiram tanaman di sekitar rumah tanpa harus diminta oleh Taufiq.

Ke depan, ia berharap sistem penampungan dapat dikembangkan menggunakan tangki bersama atau ground tank. Dengan begitu, pengumpulan dan distribusi air bisa dilakukan secara lebih teratur untuk memenuhi kebutuhan lingkungan.

Sampah Rumah Tangga Diolah Menjadi Kompos dan Pakan Ternak

Pengelolaan sampah menjadi bagian penting dari upaya Taufiq membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan. Ia menerapkan konsep closed-loop system, yaitu sistem yang memungkinkan sisa dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya.

Dalam praktiknya, sampah organik rumah tangga diolah menjadi kompos, pupuk cair, eco enzyme, serta pakan maggot. Maggot atau larva lalat tentara hitam tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan ayam petelur.

Sementara itu, sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah agar dapat dipilah dan dikelola lebih lanjut.

Dengan pendekatan tersebut, sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang masih memiliki kegunaan. Hasil pengolahan organik dapat mendukung kegiatan penghijauan dan budidaya yang berlangsung di lingkungan warga.

Taufiq juga mengembangkan penghijauan di tengah keterbatasan ruang. Sekitar 817 tanaman produktif tercatat tersebar di tiga gang di kawasan tersebut.

Keberadaan tanaman itu membuat gang tidak hanya berfungsi sebagai akses keluar-masuk rumah, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam dan merawat berbagai tanaman yang bermanfaat bagi warga.

Data mengenai 817 tanaman produktif di Malaka Jaya juga pernah disampaikan dalam pemberitaan Beritajakarta pada Maret 2026, yang menyoroti pengembangan kawasan tersebut sebagai area pertanian perkotaan berbasis partisipasi masyarakat.

Budidaya Lele dan Ayam Petelur Buka Peluang Ekonomi Warga

Pengelolaan lingkungan di RT 08/RW 04 Malaka Jaya juga terhubung dengan kegiatan budidaya ikan lele dan ayam petelur. Keduanya menjadi bagian dari upaya memanfaatkan sumber daya yang tersedia sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Sisa organik yang telah diolah dapat digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya, sedangkan listrik dari panel surya membantu mengoperasikan sejumlah peralatan, seperti aerator dan pompa sirkulasi air.

Taufiq turut mendorong keterlibatan warga dalam mengelola kegiatan tersebut. Budidaya ikan lele dikembangkan menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga hasilnya tidak hanya mendukung kebutuhan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi.

Sebanyak 20 persen hasil usaha budidaya dialokasikan untuk kas kelompok tani. Skema tersebut diharapkan dapat membantu keberlanjutan kegiatan sekaligus mendorong warga untuk bekerja sama.

“Program dibuat oleh warga kan untuk warga. Jadi saya menginisiasi, warga bisa jalan, dapat hasil dan berbagi, enggak boleh pelit,” kata Taufiq.

Model pengelolaan lingkungan berbasis warga di Malaka Jaya sebelumnya juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Deutsche Welle (DW) Indonesia, dalam laporan yang diterbitkan pada 7 Agustus 2026, mencatat kawasan tersebut menjadi tempat belajar bagi mahasiswa, komunitas, dan pengurus lingkungan dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Berbagai inovasi yang diterapkan menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya menghemat pengeluaran dan mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Bagi Taufiq, perubahan tidak harus dimulai dari program besar atau lahan yang luas. Inisiatif dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal sendiri, selama sumber daya yang tersedia dikelola dengan baik dan warga dilibatkan dalam pelaksanaannya.

“Pemimpin yang hebat bukan yang paling pintar, tetapi yang berani memulai,” ujarnya.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Bersuara

Cyber Army dan Cyber Militia

Terdapat beberapa kejadian di dunia maya yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai suatu “perang siber”. Salah satu contoh yang menarik
Bersuara

Laut Cina Selatan Masa Depan Geostrategi Tiongkok

Disamping letaknya yang sangat strategis bagi jalur pelayaran Internasional, kekayaan akan sumber daya alam berupa kandungan minyak dan gas alam