Dunia

Harga Minyak Dunia Melonjak pada Oktober 2026, Brent Tembus US$117 per Barel

Jakarta, TERITORIAL.COM – Harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam sepanjang Oktober 2026. Minyak mentah Brent tercatat menguat 13,6 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 15,2 persen dibandingkan akhir September.

Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik yang melibatkan Iran dan risiko terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah. Situasi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati keamanan jalur distribusi energi, terutama Selat Hormuz.

Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember naik 2,76 dollar AS atau 2,4 persen menjadi 117,64 dollar AS per barel. Dalam perdagangan hari itu, harganya sempat menyentuh 118 dollar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah WTI AS menguat 2,12 dollar AS atau 2,08 persen menjadi 104,12 dollar AS per barel.

Untuk kontrak Brent pengiriman Januari 2027 yang lebih aktif diperdagangkan, harganya naik 2,63 dollar AS menjadi 113,43 dollar AS per barel.

Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke level penutupan tertinggi sejak akhir April 2026. Dengan demikian, Brent dan WTI sama-sama mencatat kenaikan selama empat bulan berturut-turut.

Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran

Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak adalah serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz.

Lembaga keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal tanker terkena bahan peledak yang dipasang dari kapal kecil. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran di ruang mesin kapal.

Menurut sumber maritim yang dikutip Reuters, serangan itu menggunakan ranjau magnetik atau limpet mines yang ditempelkan pada lambung kapal. Peristiwa tersebut disebut sebagai serangan pertama yang diketahui berhasil menggunakan jenis bahan peledak itu di Selat Hormuz sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026.

Meski demikian, pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut belum diketahui. UKMTO menyatakan seluruh awak kapal selamat, kebakaran berhasil dipadamkan, dan kapal tetap melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan berikutnya.

Insiden ini menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak mentah dan bahan bakar dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai rata-rata sekitar 20,7 juta barel per hari sepanjang 2024. Jumlah itu setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial Dennis Kissler mengatakan pelaku pasar masih akan memantau aliran minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan meningkatnya eskalasi konflik.

“Para pedagang akan tetap berfokus pada aliran minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan eskalasi yang dilakukan oleh pasukan AS dan sekutunya,” ujar Kissler, dikutip dari Reuters, Sabtu (31/10/2026).

AS Tarik Sebagian Pegawai dari Arab Saudi

Ketegangan di Timur Tengah juga meningkat setelah Kedutaan Besar AS di Riyadh mengumumkan perintah bagi pegawai pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi mulai 23 Oktober 2026.

Keputusan tersebut diambil karena meningkatnya risiko keamanan, termasuk ancaman serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting.

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran sebelumnya mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas di Arab Saudi. Beberapa lokasi yang disebut menjadi sasaran adalah kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco.

Klaim serangan tersebut turut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan fasilitas produksi dan distribusi energi di kawasan Teluk.

Upaya Diplomasi AS-Iran Masih Berlangsung

Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara AS dan Iran masih berjalan.

Mediator dari Qatar kembali mengunjungi Teheran pada Jumat (30/10/2026) sebagai bagian dari upaya terkoordinasi untuk mendorong tercapainya kesepakatan antara kedua negara.

Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan bahwa Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi pihak Iran untuk membantu negara tersebut memperoleh pasokan medis.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran telah menerima surat dari Vance. Namun, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi dan disebut masih menginginkan AS memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan.

Perkembangan diplomasi tersebut belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik kembali meningkat.

Harga Minyak Diperkirakan Masih Bergejolak

Ketidakpastian geopolitik diperkirakan masih membayangi pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang. Saxo Bank memperkirakan volatilitas pasar dapat meningkat menjelang pemilihan umum sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.

Dalam analisisnya, bank asal Denmark tersebut memperkirakan harga minyak mentah dapat bertahan di kisaran 70–90 dollar AS per barel bahkan setelah konflik berakhir. Kisaran ini lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang yang berada di sekitar 60–70 dollar AS per barel.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak tidak hanya bergantung pada perkembangan konflik. Kondisi produksi, persediaan minyak, permintaan global, serta kelancaran pengiriman juga menjadi faktor yang memengaruhi pasar.

Dengan masih tingginya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan keamanan di Selat Hormuz dan arah hubungan diplomatik AS-Iran.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Dunia

Menteri pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat kembali bertemu

Jakarta teritorial.com – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, kembali bertemu dengan koleganya, Menteri Pertahanan Amerikat Serikat, James Mattis, di akhir acara
Dunia

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal yang Targetkan Bandara

Jakarta territorial.com- Pasukan pertahanan Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan dari wilayah konflik di Yaman, Sabtu (4/11/2017) malam