Headline TECHNEWS

Mengenal 10 Teknologi Penyadapan Modern, Bisa Pantau Ponsel hingga Jaringan Internet

Jakarta, TERITORIAL.COM – Kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret tiga orang sebagai tersangka di Indonesia kembali menyoroti kemampuan teknologi dalam memantau komunikasi seseorang. Perkembangan perangkat digital membuat pengintaian tidak lagi hanya dilakukan dengan menyadap sambungan telepon, tetapi juga dapat menyasar ponsel, jaringan internet, hingga perangkat elektronik yang terhubung ke internet.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sebelumnya menetapkan tiga orang berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal. Penetapan tersebut diumumkan Kepala Bareskrim Polri Komjen Asep Safrudin di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurut kepolisian, penyadapan diduga menyasar sejumlah nomor telepon, termasuk milik Presiden Prabowo Subianto, pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga pengusaha. Dugaan perbuatan itu disebut berlangsung pada periode 2025–2026.

Penyidik menduga penyadapan dilakukan tanpa mengikuti prosedur yang berlaku. Selain itu, terdapat dugaan penghapusan data hasil penyadapan dari sistem yang digunakan.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa teknologi pengawasan dapat menjadi persoalan serius ketika digunakan tanpa dasar hukum dan pengawasan yang memadai. Di berbagai negara, terdapat sejumlah perangkat dan metode yang memungkinkan pengumpulan informasi dari ponsel, jaringan komunikasi, maupun aktivitas digital seseorang.

Berikut 10 teknologi dan metode pengawasan yang dikenal dalam dunia keamanan siber dan intelijen.

1. Pegasus, spyware yang dapat menyerang tanpa klik

<escape>Pegasus</escape> merupakan perangkat lunak mata-mata atau spyware yang dikembangkan perusahaan teknologi asal Israel, NSO Group. Perangkat ini dirancang untuk menyusup ke ponsel dan mengumpulkan informasi dari perangkat yang menjadi target.

Salah satu kemampuan yang membuat Pegasus mendapat perhatian luas adalah penggunaan celah keamanan zero-click. Melalui metode ini, perangkat dapat disusupi tanpa korban harus membuka tautan atau mengeklik pesan tertentu.

Setelah berhasil masuk, spyware dapat mengakses berbagai informasi di dalam ponsel, seperti pesan, kontak, lokasi, foto, hingga data komunikasi. Dalam kondisi tertentu, perangkat lunak ini juga dapat mengaktifkan mikrofon dan kamera dari jarak jauh.

Peneliti keamanan siber dari Citizen Lab pernah mendokumentasikan serangan Pegasus yang memanfaatkan celah zero-click melalui iMessage. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa serangan semacam ini dapat terjadi tanpa tindakan langsung dari pemilik perangkat.

2. Predator, spyware yang memanfaatkan tautan berbahaya

Selain Pegasus, terdapat Predator, perangkat mata-mata yang dikembangkan oleh perusahaan Intellexa dan sebelumnya dikaitkan dengan Cytrox.

Berbeda dari serangan zero-click yang tidak membutuhkan interaksi korban, Predator dikenal menggunakan metode one-click. Artinya, target biasanya harus membuka tautan berbahaya yang dibuat menyerupai situs atau informasi yang terlihat normal.

Setelah perangkat berhasil terinfeksi, Predator dapat mengumpulkan berbagai informasi dari ponsel. Kemampuannya antara lain mengakses pesan, email, lokasi perangkat, foto, daftar kontak, serta informasi lain yang tersimpan di dalamnya.

Laporan Amnesty International juga mengungkap bahwa teknologi Predator dapat memanfaatkan ekosistem iklan digital sebagai salah satu jalur serangan. Namun, metode infeksi yang digunakan dapat berbeda bergantung pada sistem dan konfigurasi serangannya.

3. Stingray atau IMSI Catcher, penyamar sebagai menara seluler

Stingray merupakan salah satu sebutan untuk perangkat yang dikenal sebagai cell-site simulator atau IMSI catcher. Alat ini bekerja dengan meniru fungsi menara pemancar sinyal seluler sehingga ponsel di sekitarnya dapat terhubung ke perangkat tersebut.

Ketika ponsel terhubung, alat ini dapat membantu operator mengidentifikasi perangkat melalui nomor identitas pelanggan seluler, seperti IMSI, serta memperkirakan lokasi perangkat berdasarkan informasi jaringan.

Dalam kondisi tertentu, perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mencegat komunikasi yang tidak terlindungi enkripsi.

Meski demikian, kemampuan Stingray tidak berarti seluruh percakapan dan pesan di ponsel otomatis dapat dibaca. Komunikasi yang dilindungi enkripsi tetap memiliki lapisan keamanan tersendiri. Kemampuan penyadapan juga bergantung pada jenis perangkat, jaringan, dan konfigurasi yang digunakan.

4. Echelon, sistem pengawasan komunikasi berskala global

Echelon dikenal sebagai sistem pengumpulan dan pemantauan komunikasi yang dikaitkan dengan kerja sama intelijen negara-negara dalam aliansi Five Eyes, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Sistem ini menjadi perhatian publik setelah berbagai laporan pada akhir 1990-an mengungkap dugaan pemantauan komunikasi internasional dalam skala besar.

Dalam pembahasan mengenai Echelon, pengawasan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan panggilan telepon, tetapi juga transmisi informasi lintas negara yang melewati berbagai infrastruktur komunikasi.

Pengumpulan data dalam skala besar memungkinkan informasi tertentu dianalisis berdasarkan kata kunci, identitas, atau pola komunikasi. Namun, Echelon merupakan sistem yang banyak dibahas dalam konteks sejarah intelijen dan pengawasan global. Tidak tepat jika seluruh kemampuan teknis yang sering dikaitkan dengannya dianggap telah terbukti beroperasi dalam bentuk yang sama hingga saat ini.

5. Perangkat intersepsi seluler portabel

Selain sistem yang dipasang secara permanen, terdapat perangkat intersepsi seluler yang dirancang untuk digunakan di lokasi tertentu.

Perangkat semacam ini dapat digunakan untuk memantau identitas perangkat, mengumpulkan informasi jaringan, atau melakukan intersepsi terhadap komunikasi seluler dalam kondisi tertentu.

Sebagian teknik serangan terhadap jaringan seluler juga memanfaatkan kelemahan protokol komunikasi yang lebih lama. Salah satu contohnya adalah upaya memaksa perangkat berpindah ke jaringan generasi sebelumnya yang memiliki perlindungan keamanan lebih lemah.

Namun, tidak semua perangkat intersepsi portabel bekerja dengan cara yang sama. Istilah portable interception kits juga bukan nama satu produk atau teknologi tunggal.

6. Backbone Interception, pemantauan lalu lintas internet

Backbone interception merupakan istilah untuk teknik pemantauan lalu lintas data yang dilakukan pada infrastruktur utama jaringan internet.

Jalur backbone menjadi penghubung penting yang membawa lalu lintas data dalam jumlah besar ant jaringan, wilayah, maupun negara. Karena itu, akses terhadap infrastruktur tersebut dapat memberikan peluang untuk mengumpulkan informasi komunikasi yang melintas.

Data yang dapat diamati bergantung pada titik pemantauan dan perlindungan yang digunakan. Informasi tertentu, seperti alamat IP, waktu komunikasi, dan metadata jaringan, dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas digital pengguna.

Namun, bukan berarti seluruh isi pesan, kata sandi, atau dokumen yang melintas otomatis dapat dibaca. Enkripsi HTTPS dan protokol keamanan lainnya membatasi kemampuan pihak yang hanya dapat mengamati lalu lintas jaringan.

7. Cobalt Strike dan perangkat simulasi serangan siber

Cobalt Strike merupakan perangkat lunak yang awalnya dikembangkan untuk membantu pengujian keamanan jaringan melalui simulasi serangan atau red team operations.

Perangkat ini memungkinkan tim keamanan menguji kemampuan pertahanan sistem dengan meniru sejumlah teknik yang biasa digunakan pelaku serangan siber.

Namun, Cobalt Strike juga kerap disalahgunakan oleh kelompok peretas untuk menjalankan aktivitas berbahaya. Setelah memperoleh akses ke suatu sistem, perangkat ini dapat digunakan untuk mengendalikan perangkat yang terinfeksi, menjalankan perintah, serta membantu pergerakan ke sistem lain dalam jaringan.

Karena memiliki fungsi ganda, Cobalt Strike tidak tepat disebut sebagai alat penyadapan khusus milik intelijen. Penggunaannya dapat bersifat sah untuk pengujian keamanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari serangan siber jika digunakan tanpa izin.

8. Botnet perangkat pintar, memanfaatkan kamera dan perangkat rumah

Perangkat yang terhubung ke internet atau Internet of Things (IoT) juga dapat menjadi sasaran pengambilalihan oleh pelaku kejahatan siber.

Contohnya meliputi kamera pengawas, router, pengeras suara pintar, hingga perangkat rumah tangga yang memiliki koneksi internet.

Perangkat dengan kata sandi bawaan yang tidak pernah diganti atau sistem keamanan yang lemah berisiko diambil alih. Jika banyak perangkat berhasil dikuasai, pelaku dapat menggabungkannya menjadi sebuah botnet.

Botnet biasanya digunakan untuk menjalankan aktivitas seperti serangan terhadap server, pengiriman spam, atau aktivitas siber lainnya. Dalam kondisi tertentu, perangkat yang telah dikuasai juga dapat dimanfaatkan untuk memantau lingkungan sekitar, bergantung pada fitur dan akses yang berhasil diperoleh pelaku.

9. AI dan Open Source Intelligence, mengumpulkan informasi dari jejak digital

Tidak semua bentuk pengawasan membutuhkan peretasan atau perangkat mata-mata khusus. Informasi yang dibagikan secara terbuka di internet juga dapat dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode Open Source Intelligence (OSINT).

OSINT merupakan teknik pengumpulan informasi dari sumber yang dapat diakses publik, seperti media sosial, situs berita, dokumen resmi, foto, dan berbagai platform digital lainnya.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat proses pengumpulan dan analisis informasi tersebut semakin cepat. Teknologi ini dapat membantu menghubungkan berbagai data yang sebelumnya tersebar di banyak platform.

Misalnya, unggahan media sosial, foto dengan informasi lokasi, dan riwayat aktivitas publik dapat digunakan untuk menyusun gambaran mengenai kebiasaan seseorang, jaringan pertemanan, hingga pola perjalanannya.

Meski demikian, OSINT berbeda dari penyadapan langsung. Informasi yang dianalisis berasal dari sumber terbuka atau data yang dapat diakses, bukan otomatis dari komunikasi pribadi yang terenkripsi.

10. Carrier-Level Interception, intersepsi melalui jaringan operator

Carrier-level interception merupakan metode pengumpulan komunikasi melalui infrastruktur penyedia layanan telekomunikasi atau operator jaringan.

Dalam sistem yang dikenal sebagai lawful interception, penyedia layanan dapat diminta membantu aparat penegak hukum mengakses komunikasi atau metadata pelanggan berdasarkan kewenangan dan prosedur hukum yang berlaku.

Informasi yang dapat diserahkan bergantung pada ketentuan hukum, jenis layanan, serta data yang tersedia pada operator. Data tersebut dapat mencakup informasi pelanggan, catatan koneksi, waktu komunikasi, hingga isi komunikasi tertentu apabila secara teknis dan hukum memungkinkan.

Di Indonesia, penyadapan untuk kepentingan penegakan hukum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 11/PER/M.KOMINFO/02/2006 mengatur bahwa penyadapan informasi secara sah harus dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan dan ditujukan untuk kepentingan proses penegakan hukum.

Penyadapan dan pengawasan digital harus dibatasi hukum

Berbagai teknologi tersebut memperlihatkan bahwa pengawasan komunikasi dapat dilakukan melalui banyak jalur, mulai dari perangkat pribadi hingga infrastruktur jaringan berskala besar.

Meski memiliki kemampuan teknis yang berbeda, penggunaan teknologi pengawasan tetap harus memperhatikan aspek hukum, privasi, dan hak asasi manusia.

Dalam konteks Indonesia, kasus dugaan penyadapan ilegal yang tengah ditangani Bareskrim menjadi pengingat bahwa kewenangan mengakses komunikasi seseorang harus memiliki dasar hukum yang jelas dan mengikuti prosedur.

Teknologi yang seharusnya dapat membantu penegakan hukum justru berpotensi menjadi alat pelanggaran privasi apabila digunakan tanpa pengawasan dan pertanggungjawaban.

Pada akhirnya, persoalan utama bukan hanya seberapa canggih teknologi penyadapan yang tersedia, tetapi juga siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, dan bagaimana penggunaannya diawasi.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

TECHNEWS

Terungkap Mode Gelap di HP Ternyata Ada Manfaatnya Bagi Kesehatan

Jakarta, Teritorial.com – Fitur mode gelap atau yang dikenal dengan Dark Mode sepertinya sudah menjadi fitur yang wajib ada di
TECHNEWS

ChatGPT Nilai Denny JA sebagai Tokoh Highly Gifted dengan IQ 145–155

Jakarta, 2 Juni 2025 Sebuah penilaian yang menggugah perhatian muncul dari dunia kecerdasan buatan. ChatGPT, model AI canggih dari OpenAI,