Jakarta, TERITORIAL.COM – Mantan Presiden Paraguay Santiago Peña ditangkap setelah dimakzulkan oleh Senat pada Jumat (6/11/2026). Penangkapan tersebut terjadi di tengah krisis politik dan keuangan yang dipicu oleh runtuhnya Ueno Bank, salah satu bank digital terbesar di negara Amerika Selatan tersebut.
Peña awalnya ditempatkan dalam tahanan rumah setelah jaksa mengeluarkan perintah penangkapan. Namun, perkembangan kasus pada Sabtu (7/11/2026) membuat mantan presiden itu harus menghadapi proses hukum lebih lanjut.
Reuters dan Associated Press melaporkan, Peña telah didakwa atas dugaan pelanggaran kepercayaan dan penyalahgunaan kewenangan untuk keuntungan pribadi. Hakim kemudian memerintahkan penahanan praperadilan terhadapnya di sebuah fasilitas militer selama proses penyelidikan berlangsung.
Kasus ini menjadi pukulan besar bagi pemerintahan Paraguay karena krisis perbankan yang semula berkaitan dengan pengelolaan dana nasabah kini berkembang menjadi persoalan politik dan dugaan korupsi di tingkat pemerintahan.
Pemakzulan Santiago Peña dan Penolakan Pengunduran Diri
Sebelum dimakzulkan, Peña sebenarnya telah menyampaikan pengunduran dirinya pada Kamis (5/11/2026). Langkah tersebut diambil ketika tekanan politik terhadap dirinya semakin meningkat setelah Ueno Bank mengalami krisis dan diambil alih oleh Bank Sentral Paraguay.
Namun, parlemen tidak menerima pengunduran diri tersebut dan tetap melanjutkan proses pemakzulan.
Senat Paraguay kemudian menyetujui pemberhentian Peña melalui pemungutan suara yang hampir bulat. Sebanyak 44 dari 45 senator mendukung pemakzulan, sementara satu senator tidak hadir.
Dalam persidangan politik tersebut, Peña dinilai melakukan pengabaian tugas dan pelanggaran etika selama menjalankan pemerintahan.
Dakwaan terhadapnya mencakup dugaan konflik kepentingan, campur tangan dalam pengawasan perbankan, penempatan dana publik pada Ueno Bank, serta upaya menutupi persoalan yang terjadi di lembaga keuangan tersebut.
Pemakzulan ini juga membuat Peña kehilangan hak sebagai senator seumur hidup dan kekebalan hukum yang biasanya melekat pada mantan presiden Paraguay. Kondisi tersebut membuka jalan bagi proses hukum terhadap dirinya.
Krisis Ueno Bank Picu Protes Jutaan Nasabah
Krisis yang menimpa Peña bermula dari runtuhnya Ueno Bank setelah Bank Sentral Paraguay mengambil alih pengelolaan bank tersebut pada awal November 2026.
Ueno Bank merupakan salah satu lembaga keuangan digital terbesar di Paraguay. Bank tersebut memiliki sekitar 2,94 juta nasabah di negara dengan populasi sekitar 6,1 juta hingga 6,5 juta jiwa.
Pengambilalihan dilakukan setelah regulator menemukan persoalan serius terkait kondisi keuangan bank, termasuk dugaan kekurangan modal dan praktik pemberian pinjaman kepada perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemegang saham pengendali.
Akibatnya, jutaan nasabah mengalami kesulitan mengakses rekening dan simpanan mereka. Sejumlah dana publik serta dana pensiun yang ditempatkan di bank tersebut juga ikut menjadi sorotan.
Situasi ini memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah, terutama di ibu kota Asuncion. Para nasabah menuntut pemerintah mengembalikan uang mereka dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang diduga terlibat dalam krisis tersebut.
Menurut laporan AP, sekitar 1,2 juta nasabah telah menerima pengembalian sebagian atau seluruh simpanan melalui skema penjaminan pemerintah. Sementara itu, proses pemulihan dana nasabah lainnya masih berlangsung.
Peña Diduga Memiliki Konflik Kepentingan dengan Ueno Bank
Salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian penyelidik adalah hubungan bisnis Peña dengan perusahaan induk Ueno Bank.
Sebelum menjabat sebagai presiden, Peña diketahui memiliki saham di perusahaan induk bank tersebut. Ia baru melepas kepemilikan sahamnya pada Maret 2025.
Penyidik menduga Peña menggunakan pengaruh jabatannya untuk mempertahankan penempatan dana pemerintah dan lembaga negara di Ueno Bank, meskipun terdapat persoalan dalam kondisi keuangan lembaga tersebut.
Selain itu, muncul dugaan adanya campur tangan terhadap lembaga pengawas perbankan agar persoalan Ueno Bank tidak segera ditindaklanjuti.
Peña juga diselidiki atas dugaan penyalahgunaan kepercayaan dan pengelolaan dana untuk kepentingan pribadi.
Meski demikian, Peña membantah melakukan pelanggaran hukum. Ia sebelumnya menyatakan bahwa persoalan Ueno Bank merupakan urusan pengawasan regulator dan berjanji akan bekerja sama dalam proses penyelidikan.
Pengacara Peña, Ricardo Preda, juga menolak tuduhan yang diarahkan kepada kliennya. Pihak pembela menilai proses pemakzulan tersebut berlangsung secara terburu-buru dan bermuatan kepentingan politik.
Pedro Alliana Resmi Gantikan Santiago Peña
Setelah Peña diberhentikan, Wakil Presiden Pedro Alliana resmi dilantik sebagai presiden Paraguay untuk melanjutkan sisa masa jabatan hingga Agustus 2028.
Dalam pidato pertamanya, Alliana berjanji pemerintah akan bertanggung jawab terhadap masyarakat yang terdampak keruntuhan Ueno Bank.
Ia memastikan para nasabah yang kehilangan akses terhadap simpanan mereka akan mendapatkan kompensasi penuh sesuai mekanisme yang ditetapkan pemerintah.
Alliana juga menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dan menjaga stabilitas politik negara tersebut.
Sementara itu, penyelidikan terhadap Peña masih berlanjut. Jika terbukti bersalah atas seluruh dakwaan yang dikenakan, mantan presiden Paraguay itu berpotensi menghadapi hukuman penjara.
Krisis Ueno Bank pun menjadi salah satu skandal keuangan dan politik terbesar Paraguay dalam beberapa tahun terakhir. Selain berdampak terhadap jutaan nasabah, kasus ini turut mengguncang pemerintahan dan memicu tuntutan masyarakat agar pengelolaan dana publik dilakukan secara lebih transparan dan bertanggung jawab.

