TERITORIAL.COM, JAKARTA – Keberhasilan meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjadi langkah penting bagi Naufal Mohamad Firdausyan dalam melanjutkan pendidikan. Tak sekadar melanjutkan studi magister, ia memilih jalur double degree yang memadukan dua disiplin berbeda namun saling berkaitan.
Naufal tercatat sebagai mahasiswa Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada saat yang sama, ia juga diterima di program Master of Science in Environment and Sustainable Development di Adam Smith Business School, University of Glasgow, Skotlandia. Kombinasi dua program tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai integrasi aspek lingkungan dalam kebijakan pembangunan ekonomi.
Minatnya terhadap isu energi dan pembangunan sudah terbentuk sejak masa sarjana. Ia menyelesaikan studi S1 Ilmu Ekonomi di UGM pada 2023, sebelum akhirnya terjun dalam kegiatan riset.
Berangkat dari Pengalaman Riset Energi
Selepas lulus, Naufal terlibat dalam penelitian dan pengabdian masyarakat di Pusat Studi Energi UGM. Fokus kajiannya meliputi tata kelola hilir migas, agenda transisi energi, serta penilaian kebijakan energi nasional. Dari pengalaman tersebut, ia terbiasa mengolah data kuantitatif, melakukan riset lapangan, hingga menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk instansi pemerintah.
Ia menyadari bahwa pembangunan berbasis sumber daya alam tidak cukup dihitung dari sisi keuntungan ekonomi semata. Ada konsekuensi sosial dan lingkungan yang kerap luput dari perhitungan kebijakan. Kesadaran inilah yang memperkuat tekadnya untuk mendalami ekonomi pembangunan berkelanjutan.
“Sering kali kita menghitung nilai tambah industri, tetapi tidak secara serius memasukkan nilai kerusakan lingkungan ke dalam perhitungan kebijakan. Di situ letak urgensi valuasi lingkungan,” ujar Naufal.
Pandangan tersebut mendorongnya memilih konsentrasi pembangunan ekonomi berkelanjutan dalam studi magisternya.
Strategi Menembus LPDP
Persiapan mendaftar LPDP dilakukan sejak akhir 2024. Ia mengikuti seleksi Batch 1 tahun 2025 bersamaan dengan proses pendaftaran kampus. Beragam dokumen seperti ijazah, transkrip akademik, sertifikat IELTS, curriculum vitae, hingga esai dipersiapkan dengan cermat.
Tantangan utama yang ia hadapi adalah menyelaraskan jadwal pendaftaran kampus dan LPDP, terutama dalam memperoleh Letter of Acceptance (LoA). Selain itu, ia harus menyusun esai yang fokus dan relevan dengan kebutuhan aktual Indonesia.
Menurutnya, kandidat perlu menampilkan positioning diri secara tegas dan realistis. Ia menyoroti pentingnya memperkuat kapasitas valuasi lingkungan di Indonesia sebagai kontribusi konkret yang bisa ia berikan.
“Esai menjadi inti penilaian karena menunjukkan arah studi dan kontribusi yang bisa diberikan. Saya mengerjakannya hampir dua minggu, berdiskusi dengan teman dan alumni LPDP agar Statement of Intent jelas dan kuat secara akademik maupun praktis,” jelas Naufal.
Pengalaman Akademik Dua Negara
Pada tahun pertama, Naufal menjalani perkuliahan di UGM, kemudian melanjutkan tahun kedua di University of Glasgow. Mengenyam pendidikan dalam dua sistem akademik berbeda memberinya perspektif luas serta jaringan profesional internasional.
Ia memandang pendidikan lanjutan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperdalam kompetensi analitis di bidang ekonomi sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.
“Pendidikan lanjut bukan sebagai tujuan akhir, bagi saya ini sebagai instrumen untuk memperkuat kompetensi analisis yang lebih komprehensif dengan menggabungkan ketajaman teori, ketelitian metodologi, dan kepekaan terhadap implikasi sosial serta lingkungan,” tuturnya.
Keberhasilan pada kesempatan pertama mengikuti seleksi LPDP menjadi pencapaian yang ia syukuri, sekaligus motivasi untuk terus berkontribusi dalam kebijakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

