TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pejabat tinggi militer Amerika Serikat mengungkapkan kekhawatiran terkait kemampuan pertahanan negaranya dalam menghadapi perkembangan sistem rudal modern milik China dan Rusia. Dalam forum resmi bersama anggota parlemen, mereka menilai bahwa teknologi senjata kedua negara tersebut semakin canggih dan sulit ditangkal dengan sistem yang dimiliki saat ini.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pembahasan kebutuhan anggaran untuk program pertahanan terbaru yang dikenal sebagai Golden Dome. Program ini diinisiasi oleh Presiden Donald Trump sejak awal masa jabatannya pada Januari 2025, dengan tujuan memperkuat sistem pertahanan rudal Amerika Serikat secara menyeluruh, baik di darat maupun di luar angkasa.
Sejumlah pejabat Pentagon menekankan bahwa sistem pertahanan yang ada saat ini masih sangat terbatas. Kemampuan tersebut disebut hanya dirancang untuk menghadapi ancaman berskala kecil dan tidak terencana, sehingga belum cukup untuk mengantisipasi serangan kompleks dari negara dengan teknologi militer maju.
Golden Dome dan Keterbatasan Sistem Saat Ini
Dalam sidang tersebut, Asisten Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Luar Angkasa, Marc Berkowitz, menegaskan bahwa sistem pertahanan domestik AS saat ini belum mampu menghadapi berbagai jenis ancaman modern.
Ia menyebutkan bahwa Amerika Serikat menghadapi risiko besar jika harus berhadapan dengan rudal balistik skala besar. Bahkan, sistem yang ada belum memiliki perlindungan efektif terhadap senjata hipersonik maupun rudal jelajah yang kini terus dikembangkan oleh negara pesaing.
Sementara itu, pejabat militer lainnya, Michael Guetlein, menjelaskan bahwa China dan Rusia tidak hanya meningkatkan jumlah persenjataan, tetapi juga memperbarui teknologinya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan kendaraan luncur hipersonik, yakni hulu ledak yang mampu bergerak dengan kecepatan tinggi sambil bermanuver di atmosfer.
Selain itu, Rusia juga mengembangkan rudal jelajah bertenaga nuklir seperti Burevestnik, yang dirancang untuk memiliki jangkauan panjang dan kemampuan menghindari sistem pertahanan konvensional. Teknologi-teknologi ini dinilai mampu menyulitkan sistem deteksi dan pelacakan milik Amerika Serikat.
Ketegangan Global dan Biaya Besar Proyek Pertahanan
Pengembangan teknologi militer ini tidak lepas dari dinamika geopolitik global. Rusia menyebut bahwa investasi mereka dalam senjata strategis merupakan respons terhadap keputusan Amerika Serikat yang keluar dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada era Presiden George W. Bush.
Meski Washington menyatakan bahwa sistem pertahanan rudalnya ditujukan untuk menghadapi ancaman terbatas dari negara seperti Korea Utara atau Iran, pihak Rusia menilai langkah tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan pencegahan nuklir global.
Di sisi lain, konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya juga memicu kekhawatiran baru terkait kesiapan sistem pertahanan. Laporan menunjukkan bahwa persediaan pencegat rudal dalam sistem seperti THAAD dan Patriot mulai menipis, sehingga membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.
Program Golden Dome sendiri diperkirakan membutuhkan dana sangat besar. Pemerintahan Trump awalnya memperkirakan biaya mencapai sekitar 175 miliar dolar AS dalam satu dekade. Namun, proyeksi terbaru dari Pentagon meningkat hingga 185 miliar dolar AS, bahkan sejumlah analis memperingatkan bahwa angka tersebut bisa terus membengkak.
Dengan kondisi tersebut, Amerika Serikat kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga keunggulan militernya di tengah perlombaan teknologi senjata yang semakin kompleks.

