TERITORIAL.COM, JAKARTA – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dukungan terbuka kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, setelah pergantian kepemimpinan di negara tersebut. Mojtaba naik ke posisi tersebut menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Dalam pesan yang disampaikan secara langsung kepada pemimpin baru Iran itu, Putin menegaskan bahwa Rusia tetap berada di sisi Teheran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia juga menekankan bahwa hubungan kedua negara akan terus dipertahankan sebagai kemitraan strategis.
“Saya ingin menegaskan kembali dukungan teguh kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami.”
“Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran,” lanjut Putin pada hari Senin.
Pernyataan tersebut dinilai memperkuat spekulasi yang sebelumnya beredar di media Amerika Serikat mengenai kemungkinan dukungan intelijen dari Moskow kepada Teheran. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Rusia diduga memberikan informasi strategis yang digunakan Iran untuk menargetkan aset militer Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah.
Putin juga menyampaikan bahwa kepemimpinan Mojtaba akan menghadapi tantangan besar di tengah situasi keamanan yang semakin kompleks. Ia menilai posisi tersebut menuntut keberanian dan komitmen tinggi dalam menghadapi tekanan internasional.
“Pada saat Iran menghadapi agresi bersenjata, masa jabatan Anda di posisi tinggi ini tidak diragukan lagi akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar.”
Sikap Trump Berbeda dengan Rusia
Dukungan dari Rusia tersebut sangat kontras dengan sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Sebelum pelantikannya, Trump secara terbuka menyampaikan keberatan atas kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan bahwa figur tersebut tidak dapat diterima oleh pihaknya dan berharap Iran dipimpin oleh tokoh yang lebih mampu membawa stabilitas.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran.”
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa kepemimpinan Mojtaba tidak akan bertahan lama jika tidak mendapat dukungan dari pihak Amerika Serikat.
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News pada hari Minggu.
Namun, ketika ditanya kembali mengenai perkembangan situasi tersebut, Trump memberikan jawaban yang lebih singkat.
“Kita lihat saja apa yang terjadi.”
Sosok Mojtaba Khamenei dan Eskalasi Konflik
Selama lebih dari lima dekade kehidupannya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok yang jarang muncul di ruang publik. Ia merupakan putra kedua dari Ali Khamenei dan selama ini lebih banyak beroperasi di balik layar dalam lingkaran kekuasaan Iran.
Kenaikannya ke puncak kepemimpinan terjadi di tengah tekanan besar terhadap sistem pemerintahan Iran yang telah berdiri hampir 50 tahun. Negara tersebut kini menghadapi konflik militer yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut telah berlangsung selama lebih dari sepekan dan menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang berkelanjutan. Militer Israel Defense Forces dilaporkan melancarkan serangan baru di wilayah Iran tengah pada Senin. Selain itu, infrastruktur milik Hezbollah di Beirut juga menjadi target serangan.
Serangan ini terjadi setelah sebelumnya Israel menghantam fasilitas penyimpanan minyak di Teheran. Sebagai balasan, Iran melakukan serangan ke wilayah Israel serta beberapa negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat.
Dampak konflik juga dirasakan oleh negara lain di kawasan. Pada Minggu, sebuah proyektil dilaporkan menghantam kawasan permukiman di Arab Saudi dan menewaskan dua warga asing, termasuk seorang warga negara India.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari mereda dan berpotensi memicu dampak geopolitik yang lebih luas di tingkat global.

