TERITORIAL.COM, JAKARTA – Harga emas ANTAM langsung membuat investor deg-degan di awal pekan. Senin, 9 Maret 2026, logam mulia andalan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terpangkas tajam setelah sempat menguat di penghujung pekan lalu. Kini pertanyaannya satu: apakah ini alarm bahaya, atau justru momen terbaik untuk masuk?
Berapa Harga Emas ANTAM Hari Ini?
Per Senin pagi, harga emas ANTAM dibanderol Rp3.004.000 per gram — turun Rp55.000 dibanding sesi perdagangan sebelumnya.
Tak hanya harga jual, harga buyback pun ikut terjun. ANTAM kini hanya membeli kembali emas di harga Rp2.757.000 per gram, anjlok Rp65.000 dalam sehari.
Artinya, spread antara harga jual dan buyback kini melebar hingga Rp247.000 per gram — angka yang wajib dicermati, terutama bagi investor jangka pendek.
Bukan Sekadar Fenomena Lokal
Penurunan harga emas ANTAM hari ini sejalan dengan pelemahan di pasar global. Harga emas spot dunia turun 2,5% ke level US$5.041,89 per ons, sementara kontrak berjangka April merosot 2,1% ke US$5.049,4 per ons.
Kondisi ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang menyentuh Rp16.986 per dolar AS — melemah 61 poin atau 0,36% dari posisi sebelumnya.
Kilas Balik: Perjalanan Harga Emas ANTAM Sepanjang 2026
Untuk melihat koreksi ini secara proporsional, kita perlu melihat gambaran besarnya:
- 1 Januari 2026: Harga emas ANTAM dibuka di Rp2.488.000/gram
- 29 Januari 2026: Mencetak All-Time High (ATH) di Rp3.168.000/gram
- 9 Maret 2026: Terkoreksi ke Rp3.004.000/gram
Secara keseluruhan, emas ANTAM masih naik sekitar 22% sejak awal tahun — sebuah kinerja yang jauh melampaui banyak instrumen investasi lain.
Baca juga : Tukar Uang Rupiah Sekarang atau Tunggu? Simak Dulu Kondisi Terkini Sebelum Ambil Keputusan
Di pasar global, emas juga sempat mencetak ATH di US$5.595,42 pada 29 Januari, sebelum tertekan ke US$4.401,72 akibat data ketenagakerjaan AS yang kuat, lalu pulih ke sekitar US$5.210,82 menjelang akhir Februari seiring sinyal Fed yang masih simpang siur.
Mengapa Harga Emas ANTAM Turun? 3 Faktor Utama
1. Fed Belum Akan Pangkas Suku Bunga
Pekan ini padat dengan rilis data ekonomi AS, mulai dari Consumer Price Index (CPI) Februari, data GDP kuartal IV 2025, hingga klaim pengangguran mingguan.
Data dari CME Group menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga Maret hanya 4,4%. Artinya, 95,6% pelaku pasar yakin The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%.
Ketika suku bunga tetap tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik dibanding aset berbunga.
2. Aksi Profit-Taking Usai Kenaikan Geopolitik
Konflik Timur Tengah yang memanas akhir Februari sempat mendorong emas naik hampir 5% dalam dua sesi. Namun setelah momentum itu mereda, para investor memilih mengamankan keuntungan — memicu tekanan jual yang menekan harga kembali.
3. Rupiah Melemah, Sentimen Domestik Ikut Tertekan
Melemahnya nilai tukar rupiah ke Rp16.986/USD menambah tekanan psikologis bagi pasar domestik, meski secara teori pelemahan rupiah seharusnya menopang harga emas dalam negeri.
Proyeksi Para Analis: Koreksi Ini Bukan Akhir Segalanya
Meski koreksi terasa menyengat, para analis kelas dunia justru melihatnya sebagai buying opportunity.
JP Morgan memproyeksikan emas bisa menyentuh US$6.300 per ons pada akhir 2026 — kenaikan 30% dari posisi saat ini. Analis senior Gregory Shearer mencatat: “Gold remains a dynamic, multi-faceted portfolio hedge and investor demand has continued to come in stronger than our previous expectations.”
Dua raksasa Wall Street lainnya juga optimistis:
- Goldman Sachs menargetkan emas di US$5.400 pada akhir 2026
- Bank of America bahkan berani memprediksi US$6.000 pada musim semi 2026
Di tingkat domestik, pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi melihat potensi rebound dalam waktu dekat. “Kemungkinan harga logam mulia (emas Antam) mencapai Rp3.150.000 per gram. Kemudian jika lanjut menguat, resisten kedua logam mulia di Rp3.400.000 per gram,” ujarnya.
Namun ia juga memperingatkan risiko downside: “Jika turun, akan terjadi penurunan tipis ke Rp3.045.000 per gram. Kemudian, jika lanjut terkoreksi, harga logam mulia (emas Antam) diperkirakan ke level Rp3.000.000 per gram.”
Fondasi Emas Masih Kokoh: Data Global Bicara
Di balik volatilitas jangka pendek, dua pilar besar menopang kekuatan emas secara struktural.
Permintaan bank sentral yang masif. World Gold Council mencatat ETF emas fisik global mencetak rekor arus masuk sebesar US$18,7 miliar di Januari 2026. Di sisi lain, bank sentral global menyerap 230 ton emas bersih di kuartal IV 2025 — pembelian yang terus bertahan bahkan di tengah harga tertinggi sepanjang sejarah.
Emas sebagai aset tanpa lawan. Diego Franzin, Kepala Strategi Portofolio di Plenisfer Investments, merangkumnya dengan tepat kepada Al Jazeera: “In a world where almost every financial activity incorporates credit risk – that of a state, a central bank, an intermediary – gold remains the only asset without a counterparty. It makes no promises, pays no interest, and is not dependent on political decisions. It simply exists. And that is precisely why it provides security.”
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor Sekarang?
Koreksi Rp55.000 memang terasa besar dalam satu hari. Namun dalam konteks kenaikan lebih dari 20% sejak Januari, ini masih dalam batas wajar secara teknikal.
Beberapa hal yang perlu diingat sebelum mengambil keputusan:
- Emas ANTAM lebih cocok untuk jangka panjang, mengingat spread jual-buyback yang cukup lebar saat ini
- Perhatikan aspek pajak: Transaksi buyback di atas Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemegang NPWP
- Pantau rilis CPI AS pada 11 Maret — data ini akan menjadi katalis penentu arah harga emas ANTAM berikutnya
Pasar emas hari ini tengah bergerak dalam kondisi kuat, bukan euforia. Koreksi bisa terjadi kapan saja, tetapi belum ada sinyal yang menunjukkan tren besar telah berbalik arah.

