TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam jalur yang aman meskipun dihadapkan pada dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa defisit fiskal tetap terkendali dan pengelolaan anggaran dilakukan secara disiplin.
Dalam konferensi pers terkait kebijakan pemerintah menghadapi kondisi geopolitik terkini, Purbaya menekankan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Ia menyebut bahwa pengelolaan fiskal dilakukan secara hati-hati agar tetap mampu menjaga keseimbangan sekaligus fleksibel dalam merespons tekanan global.
“Defisitnya terkendali dan anggarannya tidak morat marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya,” ujar Purbaya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario hingga akhir tahun, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dunia. Bahkan dengan asumsi harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel, kondisi fiskal disebut masih berada dalam batas aman.
“Hitungan kita sekarang sampai 100 dollar rata-rata sampai akhir tahun pun anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya masih terkendali,” kata dia.
Defisit Meningkat, Namun Masih Dalam Batas Aman
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit APBN hingga akhir Februari 2026 tercatat sebesar Rp 135,7 triliun atau setara 0,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini menunjukkan kenaikan cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 30,7 triliun atau sekitar 0,13 persen dari PDB.
Meski demikian, peningkatan tersebut masih dinilai wajar dan terkendali dalam kerangka pengelolaan fiskal nasional. Pemerintah tetap optimistis kondisi ini tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Dari sisi pendapatan, realisasi penerimaan negara hingga Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan. Capaian ini mengalami pertumbuhan sebesar 12,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan Pajak dan Belanja Negara Tunjukkan Tren Positif
Secara lebih rinci, penerimaan dari sektor perpajakan tercatat sebesar Rp 290 triliun atau 10,8 persen dari target yang telah ditetapkan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 240,6 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menyumbang Rp 68 triliun atau sekitar 14,8 persen dari target tahunan.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga Februari 2026 mencapai Rp 493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari total anggaran. Nilai ini meningkat signifikan sebesar 41,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Purbaya juga menyoroti tren positif dalam pengumpulan pajak di awal tahun. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dan diharapkan dapat terus berlanjut.
“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30 persen. Kita akan pastikan itu akan stabil terus ke depan,” kata Purbaya.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah memastikan bahwa kondisi APBN masih dalam keadaan stabil dan terkendali, serta mampu menghadapi tantangan ekonomi global ke depan.

