TERITORIAL.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.614 per dolar AS atau melemah sekitar 84 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS di pasar global. Kondisi tersebut juga diikuti mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona merah pada perdagangan pagi.
Berdasarkan data pasar, won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen. Sementara peso Filipina turun 0,13 persen, baht Thailand terkoreksi 0,28 persen, dan ringgit Malaysia ikut tertekan sebesar 0,39 persen.
Tekanan serupa juga dialami yuan China yang melemah 0,14 persen terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,11 persen, dolar Singapura melemah 0,15 persen, sedangkan dolar Hong Kong dan rupee India masing-masing terkoreksi tipis.
Bukan hanya mata uang Asia, sejumlah mata uang utama negara maju juga bergerak melemah. Poundsterling Inggris tercatat turun 0,28 persen, dolar Australia melemah 0,47 persen, euro Eropa turun 0,19 persen, franc Swiss terkoreksi 0,23 persen, dan dolar Kanada melemah 0,16 persen terhadap dolar AS.
Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah
Analis pasar uang Lukman Leong menjelaskan pelemahan rupiah dipicu menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap hubungan Amerika Serikat dan China.
Pelaku pasar disebut tengah menantikan perkembangan pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump. Harapan terhadap membaiknya hubungan ekonomi kedua negara dinilai mendorong penguatan indeks dolar AS.
Meski demikian, hingga perdagangan berlangsung, belum ada pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan antara kedua pemimpin tersebut.
“Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam setahun turut menekan rupiah. Kondisi itu dipicu data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Selain faktor global, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Kenaikan inflasi di AS membuat pasar memperkirakan peluang pengetatan kebijakan moneter masih terbuka.
Rupiah Diproyeksi Bergerak di Kisaran Rp17.500-Rp17.650
Di tengah tekanan tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini.
Ia memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS. Pergerakan mata uang domestik diperkirakan masih sangat dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan dinamika hubungan dagang global.
Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi Negeri Paman Sam masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

