Jakarta, Terotorial.Com – Dolar Amerika Serikat (AS) kian menunjukkan penguatannya terhadap rupiah. Kondisi ini berkaitan dengan normalisasi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed).
Sejumlah pihak sempat mengingatkan bahwa dolar AS akan terus menguat seiring dengan kebijakan The Fed tersebut. Di antaranya mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri dan Ekonom yang juga mantan Menko Perekonomian di era Gusdur.
Chatib Basri menerangkan, rupiah bisa terus tertekan saat The Fed menaikkan suku bunga. Hal itu dinilai potensial, terlebih saat ekonomi AS pulih yang ditunjukkan dengan data pengangguran yang menurun dan inflasi yang meningkat.
The Fed pun akan kembali melakukan penyesuaian. The Fed, kata dia, akan mengembalikan posisi suku bunga dalam keadaan semula. Artinya, jika saat ini suku bunga acuan 2,25% maka The Fed akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi hingga mendekati 3,5%.
“Sekarang Fed Fund Rate 2,25%, artinya tahun ini Fed harus menaikkan at least satu kali lagi, tahun depan dua atau tiga kali. Kalau saya bikin sekali naik 25 basis poin maka Fed Fund Rate pada akhir 2019 pada kisaran 3,25 atau mungkin 3%,” katanya saat menghadiri acara Economic Outlook 2019 di kawasan Kuningan Jakarta, Rabu (3/10) kemarin.
Pemerintah pun diminta mengatasi pelemahan rupiah dengan cara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, impor minyak berkurang sejalan dengan permintaan yang berkurang. Jika itu tak diterapkan, maka tak ada cara lain untuk bangkit dari ‘keok’.
Selain itu cara lainnya untuk membantu rupiah melawan dolar AS yakni memberikan insentif pada investor yang tidak menarik dividennya untuk kemudian diinvestasikan kembali di dalam negeri.
Lalu, dengan memberikan insentif untuk pelaku usaha padat karya berorientasi ekspor dan memberikan kemudahan investasi untuk tujuan ekspor. Pelaku usaha yang impor diberikan insentif karena barang yang diimpor digunakan untuk ekspor lagi.
Sementara itu Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bisa bertindak cepat dalam menghadapi situasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dia bahkan menyebut Sri Mulyani jangan telat mikir (telmi).
Menurut Rizal, bendahara negara tersebut harus fokus mencari cara bagaimana agar devisa hasil ekspor bisa kembali ke dalam negeri. Walaupun saat ini pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) sudah mengupayakan itu, hasilnya dianggap belum optimal.
“Thailand sama sama kita yang masuk uang ekspor cuma 5% sisanya di luar negeri. 10 tahun lalu Thailand wajibkan seluruh ekspor harus masuk sistem Thailand. Memang butuh waktu lama tapi hari ini 95% hasil ekspor Thailand masuk,” katanya.
Menurut Rizal dalam membawa pulang devisa hasil ekspor ke dalam negeri, Indonesia perlu mencontoh Thailand.
“Kita ikuti sistem Thailand agar lebih stabil. Fokus sama ekspor itu dan minta Menteri Keuangannya jangan telmi,” tambahnya.
Dua pun menilai penguatan dolar AS yang saat ini sudah menembus level Rp 15.000 baru permulaan. Sama seperti Chatib Basri, menurutnya kebijakan kenaikan suku bunga AS juga akan menjadi pemicunya.
“Apakah Rp 15.000 sudah akhir? kami mohon maaf, tidak, ini baru permulaan,” kata Rizal.
Tidak sampai di situ, Rizal menganggap risiko yang sedang dialami oleh sejumlah negara emerging market bakal berdampak ke Indonesia. Diketahui memang kondisi di beberapa negara emerging market sedang tidak baik. Mulai dari Argentina hingga Turki sedang dihadapi krisis ekonomi.
Belum lagi trade war alias perang dagang antara China dan AS yang kian memanas yang semakin menyebabkan ketidakpastian global. Oleh karenanya, dengan tiga faktor itu, Rizal menilai pelemahan rupiah ke level Rp 15.000 baru permulaan.
“Jadi apakah rupiah sudah stabil Rp 15.000, kami katakan belum karena 3 (faktor) tadi. Satu AS akan naikkan lagi tingkat bunga, kedua risiko emerging market punya dampak ke Indonesia, ketiga trade war punya efek,” katanya.