Jalan Terang Para Bintang di TNI AD

0

Jakarta, Teritorial.com – Kebijakan mutasi jabatan sejumlah Perwira Tinggi dan Menengah TNI oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sekarang ini tengah menjadi perbincangan publik, terhitung sudah 3 minggu lebih sejak pelantikan Hadi sebagai Panglima TNI belum ada satu pun sosok yang disebutkan untuk pengganti Hadi menduduki jabatan KSAU.

Hal serupa nampaknya juga menyasar kepada Matra Darat dikarenakan awal tahun 2018 ini merupakan hari-hari terakhir KSAD Jenderal TNI Mulyono memasuki masa purnatugas. Santer terdengar dalam pemberintaan media bahwa Jenderal Mulyono akan memasuki masa purnatugas pada bulan Juli 2018, otomatis tiga bulan sebelumnya Panglima TNI harus sudah mengantongi nama calon pengganti Jenderan Mulyono menduduki Jabatan KSAD.

Salah satu kandidat terkuat pengganti KSAD yakni Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi (Akmil 1985) telah menyatakan mundur dan pilih pensiun dini untuk maju sebagai Cagub Sumut dalam Pilkada Sumut 2018 nanti. Melalui Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/12/I/2018 tertanggal 4 Januari 2018 Letjen Agus Kriswanto (Akmil 1984) yang sebelumnya menjabat Dankodiklat TNI AD, menjadi Pangkostrad.

Mengingat hampir seluruhnya untuk jabatan KSAD sendiri sebelumnya lebih banyak diisi oleh perwira Baret Hijau, seperti Moeldoko, Budiman, Gatot Nurmantyo. Namun pertanyaan yang muncul saat ini adalah apakah hal serupa akan kembali terulang dengan naiknya Letjen Agus Kriswanto dari Pangkostrad jabatannya saat ini menjadi KSAD, masih merupakan tanda tanya besar, mengigat Letjen Agus hanya terpaut satu tahun lebih muda dibandingkan dengan Jenderal Mulyono, hal itu berarti peluang untuk menjabat KSAD jauh lebih kecil karena perhitungan masa purnatugas yang begitu dekat.

Mengamati Konfigurasi Elite TNI AD Berdasarkan Korps

Untuk posisi KSAD, perwira korps Komando baret merah,  yang menduduki posisi KSAD adalah Pramono Edhi Wibowo (Akmil 1980). Sedikit catatan bagi mantan KSAD Jenderal Budiman (Akmil 1978, zeni) mungkin bisa disebut perwira dengan dua baret, karena pernah juga bertugas di Kopassus, sebagai Kepala Zeni Kopassus. Sesudah itu dipindahkan sebagai Komandan Yonzipur 10/Para Kostrad.

Pada setiap mutasi TNI (khusunya matra darat), selalu ada upaya menjaga keseimbangan jabatan strategis antara perwira yang berasal dari Baret Merah dan Baret Hijau. Perlu juga diterangkan, bahwa perwira asal Baret Merah bisa saja pada suatu waktu ditugaskan di lingkungan Baret Hijau, karena kualifikasinya memungkinkan. Dengan kata lain, seorang perwira Kopassus pada perjalanan karirnya bisa mengenakan dua warna baret. Sama halnya perwira asal Baret Hijau juga bisa ditugaskan di jajaran Kopassus, karena alasan kualifikasi juga.

Merujuk mutasi baru-baru ini, perwira Baret Merah yang masuk posisi strategis di level bintang dua adalah Mayjen TNI Jaswandi (Akmil 1985) sebagai Pangdam Jaya. Sementara dari Baret Hijau (Akmil 1986) adalah Mayjen Tatang Sulaiman, yang diangkat sebagai Pangdam IV/Diponegoro. Di tengah konfigurasi antara Baret Merah dan Baret Hijau, juga muncul nama Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko (Akmil 1987), yang berasal dari Baret Hitam (kavaleri).

Mayjen Kustanto, meski dari segi angkatan terbilang muda, namun sudah dua kali menjadi pangdam: Pangdam IX/ Udayana dan Pangdam V/Brawijaya (sekarang). Bila Kustanto kelak menjadi KSAD, menarik juga, karena mengulang Jenderal R Hartono (Akmil 1962), KSAD penggal terakhir Orde Baru, yang juga perwira kavaleri. Tinggal perwira asal kecabangan artileri, baik armed ataupun arhanud, yang belum pernah menjadi KSAD.

Satu nama perwira dari armed, yaitu Letjen Ediwan Prabowo (Akmil 1984), namanya sempat masuk nominasi KSAD. Namun perwira ini karirnya agak “misterius”, tiba-tiba saja namanya menghilang, dan kini statusnya sebagai perwira tinggi Mabes TNI, tanpa jabatan tertentu (nonjob). Padahal kalau dilihat dari latar belakangnya, sungguh meyakinkan, Ediwan adalah lulusan terbaik di angkatannya.

Begitulah perjalanan perwira, yang terkadang tidak selalu mulus. Salah satu kemungkinannya adalah, Ediwan dianggap terlalu dekat dengan Presiden terdahulu (SBY), mengingat Ediwan cukup lama menjadi Sekretaris Pribadi Presiden SBY, pada periode pertama pemerintahannya (2004-2009). Untuk jabatan setingkat KSAD, faktor politis selalu ikut mewarnai, mungkin publik kurang berkenan, namun begitulah kenyataannya.

Akmil 1985 Paling Berpeluang

Bila ditelusuri per angkatan, pada Akmil 1985 misalnya, terdapat nama Mayjen Doni Munardo (Pangdam Patimura) dan Mayjen Jaswandi (Pangdam Jaya), yang merupakan tipikal Baret Merah.  Mayjen Ludwig Pussung (Pangdam Bukit Barisan), dari Baret Hijau. Ludwig Pussung misalnya sejak letnan hingga letkol bertugas di Kodam Jaya, seperti Danyon 203/Arya Kemuning (kini Yonif Mekanis 203), serta Dandim Jaktim, baru pada pangkat Kolonel ditugaskan ke Kostrad, hingga sempat menjadi Panglima Divisi Infanteri di Kostrad.

Peta Akmil 1986 kurang lebih sama. Terdapat nama perwira Baret Merah seperti Letjen Hinsa Siburian (Wakil KSAD, lulusan terbaik 1986). Sementara Baret Hijau adalah Mayjen Tatang Sulaiman (Pangdam IV/Diponegoro) dan Mayjen Ganip Warsito (Pangdam XIII/Merdeka, Manado). Mayjen Tatang termasuk beragam karirnya, pernah menjadi Danyon 202 Kodam Jaya(Bekasi), Dandim Bekasi, Komandan Brigif 3 Kostrad, Kasdiv Kostrad, hingga Pangdam Iskandar Muda (Banda Aceh), sebelum menduduki posisi sekarang.

Untuk Akmil 1987 ada kasus yang sedikit berbeda, sebagaimana sudah disebut sekilas di atas, bahwa di generasi ini justru yang menonjol adalah perwira dari Baret Hitam (kavaleri), yaitu Mayjen Kustanto Widiatmoko. Sementara perwira Baret Merah tipikal adalah Mayjen Herindra (Pangdam Siliwangi, lulusan terbaik Akmil 1987), Mayjen Andika Perkasa yang baru saja dimutasi menempati jabatan  bintang tiga sebagai Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI AD dan Brigjen Santos Gunawan Matondang (Kasdam Merdeka, Manado). Sementara Baret Hijau adalah Mayjen Benny Susianto (Panglima Divif 2 Kostrad), yang karirnya juga beragam, Benny adalah yang menggantikan Tatang Sulaiman (1986) sebagai Danyon 202 Kodam Jaya (Bekasi), yang kemudian banyak ditugaskan di Kostrad. Bahkan pernah bertugas sebagai Komandan Pusat Penerbangan TNI AD, yang mungkin sedikit “menyimpang” dari kompetensinya

Bila dilihat dari tahun kelulusan di Akmil, tampaknya yang akan menjadi KSAD adalah Akmil 1985. Mengingat Akmil 1984, seperti halnya Akmil 1983, sebagian besar sudah mendekati usia pensiun. Perbedaan angkatan yang tidak terlalu jauh dengan Panglima TNI yang merupakan lulusan AAU 1986 menjadi hal yang penting, karena hal tersebut berpengaruh pada sinerjitas jalur komando di tubuh TNI.  (SON)

Sony Iriawan S.IP, M.Si (Han) pemerhati Studi Geopolitik dan Keamanan Internasional,  Kini bekerja sebagai jurnalis di teritorial.com

Share.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: