Jakarta, TERITORIAL.COM – Puluhan angkutan kota (angkot) T19 dari Depok, Jawa Barat, menjadi bagian dari strategi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) untuk mencapai kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, saat demonstrasi #IndonesiaSadar pada Rabu (28/10/2026).
Bukan sekadar alat transportasi, angkot tersebut dikerahkan sebagai bagian dari skema pergerakan massa dari beberapa arah. BEM UI menyebut strategi ini terinspirasi dari taktik Kuda Troya, yaitu mengalihkan perhatian lawan agar kelompok lain dapat mencapai sasaran utama.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menjelaskan bahwa sebuah bus lebih dahulu diarahkan menuju kawasan Plaza UOB. Bus tersebut membawa Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra dan Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI Hafidz Hernanda.
Pergerakan bus itu sengaja dilakukan untuk menarik perhatian aparat yang berjaga di sekitar Plaza UOB. Dengan begitu, rombongan mahasiswa lain diharapkan dapat memanfaatkan celah pengamanan dari jalur berbeda.
“Ada yang di awal itu jadi pengalih perhatian yang di UOB. UOB itu jadi kuda troyanya, yang mengalihkan perhatian biar barikade ke depan situ,” ujar Namora saat ditemui di Gedung Fakultas Hukum UI, Depok, Kamis (29/10/2026).
Sementara itu, rombongan mahasiswa lainnya bergerak dari arah utara menggunakan angkot dan transportasi umum. Mereka berusaha mencapai Bundaran HI melalui persimpangan dekat Gedung Bawaslu.
Meski sempat tertahan barikade polisi, sejumlah angkot akhirnya berhasil melewati penjagaan dan membawa mahasiswa mendekati lokasi aksi.
“Dari utara itu datang tuh angkot sama transum langsung tembus ke HI,” kata Namora.
Pergerakan juga dilakukan dari arah timur melalui Jalan Imam Bonjol. Dengan membagi massa ke beberapa jalur, mahasiswa berharap aparat tidak dapat memusatkan pengamanan hanya pada satu titik.
Wakil Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Alexander Farrel Ardan, mengatakan Plaza UOB memang diperkirakan menjadi titik dengan pengamanan paling ketat. Karena itu, rombongan yang bergerak ke lokasi tersebut disiapkan sebagai pengalih perhatian.
“Kita kan ada di UOB dan memang ekspektasi kita kan UOB itu tidak bakal tembus, karena lapisan-lapisan pengamanannya di situ sangat-sangat tebal,” ujarnya.
“Makanya biarkan saja polisi-polisi itu, tentara-tentara itu ada di UOB, biar titik-titik lemahnya ada di dua titik lainnya itu bisa kita tembus,” lanjut Ardan.
Tidak Semua Mahasiswa Berhasil Menembus Barikade
Strategi tersebut sempat membuahkan hasil. Sejumlah mahasiswa berhasil mencapai Bundaran HI melalui jalur yang berbeda. Namun, rencana itu tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan.
Namora mengatakan aparat bergerak cepat memperkuat barikade setelah mengetahui massa datang dari beberapa arah. Akibatnya, sebagian kelompok mahasiswa tetap tertahan dan tidak bisa bergabung dengan rombongan yang sudah lebih dahulu mencapai lokasi.
Bahkan, kendaraan komando BEM UI tidak berhasil masuk meski telah mencoba melewati delapan jalur berbeda.
“Di awal cukup berhasil. Cuma ternyata problemnya adalah gerak cepat juga mereka (polisi) ternyata. Gerak cepat banget ternyata bikin barikadenya,” ungkap Namora.
Kondisi tersebut membuat massa aksi akhirnya tersebar di sejumlah titik. Keberhasilan beberapa angkot melewati barikade tidak berarti seluruh peserta demonstrasi dapat berkumpul di Bundaran HI.
Sopir Angkot Sempat Didesak Menerobos Barikade
Di balik pergerakan mahasiswa, ada para sopir angkot yang mengantarkan mereka dari Depok menuju Jakarta. Salah satunya Atur Santoso (59), sopir angkot T19 yang mengaku sempat menghadapi situasi menegangkan ketika rombongannya berhadapan dengan barikade polisi.
Atur menceritakan, saat mendekati persimpangan dekat Gedung Bawaslu, mahasiswa yang berada di dalam angkot memintanya berbelok ke kiri dan terus melaju.
“Depan sudah lewat depan kan empat mobil, terus pas di lampu merah Sarinah, kata mahasiswa, ‘Belok kiri, langsung terobos saja, terobos!’,” kata Atur saat ditemui di pangkalan angkot dekat Stasiun Tanjung Barat, Kamis (29/10/2026).
Atur mengaku sempat takut menghadapi barisan aparat. Namun, angkot yang berada di belakangnya terus bergerak sehingga ia merasa harus ikut maju.
Situasi semakin ramai ketika sejumlah mahasiswa turun dari kendaraan dan ikut mendorong angkot agar tetap bergerak. Di sisi lain, polisi berusaha mendorong kendaraan tersebut untuk mundur.
“Begitu sampai situ, mahasiswa pada turun semua. Yang belakang mobil ikut masuk, jadi polisinya kewalahan, lolos,” tutur Atur.
Menurut dia, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah beberapa saat terjadi aksi saling dorong, angkot-angkot itu akhirnya dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Bundaran HI.
Sopir Angkot Dibayar Rp450.000
Pengerahan angkot untuk mengangkut mahasiswa membuat para sopir harus meninggalkan trayek reguler mereka di Depok selama sehari. Atur mengatakan, penyewaan kendaraan dilakukan secara mendadak pada Rabu pagi, beberapa jam sebelum keberangkatan sekitar pukul 13.30 WIB.
Ia memperkirakan ada sekitar 40 angkot T19 yang dikerahkan untuk mengangkut mahasiswa. Jumlah tersebut belum termasuk angkot dari trayek lain yang turut digunakan.
Atur mengaku menerima bayaran sekitar Rp450.000 setelah dipotong dari pembayaran awal sebesar Rp500.000 oleh koordinator.
“Sama sekali tidak narik. Begitu ada demonstrasi, ya sudah jadi, langsung ke sana. Eh tidak tahunya jam 13.30 baru mau jalan,” ujarnya.
Meski merasa khawatir, Atur tetap menerima pekerjaan tersebut karena pendapatan dari trayek reguler sedang sepi. Ia juga harus memikirkan kebutuhan keluarganya.
“Ya takut, tapi terpaksa, tarikan lagi sepi. Keluarga bagaimana? Masa tidak membawa uang terus. Tarikan lagi sepi banget ini T19,” katanya.
Sopir angkot lainnya, Modal Ginting (46), juga mengaku menerima bayaran Rp450.000. Namun, menurut dia, jumlah tersebut tidak terlalu besar jika dikurangi setoran harian, biaya bahan bakar, serta pengeluaran selama menunggu mahasiswa menyelesaikan aksi.
Modal mengatakan, setoran hariannya mencapai sekitar Rp170.000. Ia menilai penghasilan dari pekerjaan tersebut masih harus dibagi dengan berbagai kebutuhan operasional.
“Makanya kalau dilihat kemarin itu terlalu murah kan. Jadi, mau makan sopir itu minim,” ujarnya.
Berbeda dari Atur, Modal mengaku tidak terlalu khawatir mengantar mahasiswa ke lokasi demonstrasi. Ia sudah beberapa kali membawa mahasiswa UI mengikuti aksi unjuk rasa.
Menurutnya, pengalaman mengantar suporter sepak bola justru lebih berat dibandingkan membawa rombongan mahasiswa.
Sementara itu, sopir lain bernama Ranto (56) mengatakan menerima bayaran sekitar Rp430.000 setelah dipotong koordinator. Ia tidak mempermasalahkan jumlah tersebut karena tugasnya hanya mengantar dan menjemput mahasiswa, bukan ikut berunjuk rasa.
Setelah mengantar rombongan, Ranto memarkirkan angkot di sekitar Hotel Shangri-La. Para mahasiswa kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Bundaran HI.
Setelah demonstrasi selesai, ia menjemput kembali rombongannya di kawasan Cikini. Ranto baru tiba di Depok dan menerima pembayaran sekitar pukul 02.00 WIB.
“Kita kan demonstrasi, mengantar, sudah mencari parkiran, istirahat, bukan untuk ikut demonstrasi juga kita,” katanya.
Mahasiswa Memilih Pulang karena Pertimbangan Keselamatan
Di tengah situasi yang semakin tidak kondusif, mahasiswa UI akhirnya memutuskan untuk mengakhiri aksi lebih cepat dari rencana awal.
Ardan mengatakan, massa sebenarnya telah berkoordinasi untuk meninggalkan kawasan Bundaran HI. Namun, sejumlah akses keluar disebut masih tertutup oleh barisan aparat yang berjaga di sepanjang jalur.
Mahasiswa baru dapat mencari jalan keluar melalui kawasan Cikini dan Salemba ketika hujan mulai turun.
Menurut Ardan, keputusan untuk pulang juga mempertimbangkan keselamatan peserta aksi. Situasi semakin berisiko setelah gas air mata ditembakkan dan terjadi tindakan aparat yang dinilai represif oleh mahasiswa.
“Kalau misalnya by planning itu sebenarnya kita kan mungkin akan lebih lama ya. Tapi melihat kondisinya gas air mata sudah keluar, terus dari Polri juga sudah mulai represif. Kita juga mempertimbangkan massa aksi yang begitu banyaknya, jadi demi keselamatan dan karena hujan juga sudah enggak kondusif, jadi kita memutuskan untuk pulang,” tuturnya.
Demonstrasi #IndonesiaSadar digelar bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026. Aksi tersebut melibatkan BEM UI, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, serta elemen masyarakat sipil.
Sejumlah laporan media lain juga mencatat bahwa massa sempat tertahan di beberapa titik sebelum sebagian berhasil mencapai Bundaran HI. Aksi kemudian berlangsung tegang hingga malam hari, dengan laporan penggunaan gas air mata oleh aparat.

