Parlemen

TNI AU Uji Coba Pesawat Tempur Mendarat di Tol Pasuruan-Probolinggo

Pesawat tempur F-16 TNI AU yang dikerahkan dalam uji coba pendaratan dan lepas landas di Tol Jatim. (Foto: Dok. Instagram @militer.udara)

Jakarta, TERITORIAL.COM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) menguji kemampuan pendaratan dan lepas landas pesawat tempur di ruas Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), Jawa Timur, Kamis (22/10/2026). Uji coba ini dilakukan untuk memastikan kesiapan operasional TNI AU sekaligus menguji penggunaan jalan tol sebagai landasan alternatif dalam kondisi darurat.

Dalam kegiatan tersebut, TNI AU mengerahkan empat pesawat, terdiri atas dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Magetan, serta dua pesawat EMB-314 Super Tucano dari Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Keempat pesawat menjalani uji pendaratan dan lepas landas di ruas tol yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Segmen jalan yang digunakan membentang dari kilometer 834+000 hingga kilometer 837+500, dengan panjang sekitar 3,5 kilometer.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pemberitaan mengenai kegiatan tersebut, ruas tol itu memiliki lebar sekitar 24 meter. Kondisi jalan dan panjang lintasan menjadi bagian penting dalam pengujian pemanfaatan infrastruktur jalan raya untuk mendukung operasi udara.

Uji Kesiapan Operasional TNI AU

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono hadir untuk menyaksikan langsung pelaksanaan uji coba tersebut.

Menurut Tonny, kegiatan ini bertujuan menguji kesiapan operasional TNI AU sekaligus menilai kemampuan memanfaatkan infrastruktur yang tersedia di luar pangkalan udara untuk mendukung operasi militer.

Pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif dinilai penting untuk menjaga fleksibilitas operasi udara. Opsi tersebut dapat dibutuhkan apabila pangkalan udara utama tidak bisa digunakan karena situasi tertentu.

Tonny menjelaskan bahwa kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dipersiapkan agar operasi udara tetap dapat berlangsung dalam berbagai kondisi.

Uji coba ini juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap kesiapan personel, prosedur penerbangan, serta dukungan infrastruktur yang diperlukan untuk melaksanakan pendaratan dan lepas landas di luar pangkalan udara konvensional.

Jalan Tol Disiapkan sebagai Landasan Alternatif

Pemanfaatan jalan tol sebagai landasan pesawat militer dikenal dengan konsep highway strip. Dalam konsep ini, bagian jalan yang memenuhi persyaratan teknis dapat digunakan sebagai landasan alternatif ketika diperlukan.

Strategi tersebut bertujuan menjaga kemampuan operasional pesawat militer meskipun pangkalan udara utama menghadapi gangguan atau tidak dapat digunakan. Dengan adanya alternatif lokasi pendaratan, TNI AU memiliki pilihan tambahan untuk mendukung kelangsungan operasi udara.

Namun, jalan tol tidak serta-merta dapat digunakan sebagai landasan pesawat. Pemanfaatannya memerlukan pemeriksaan kondisi permukaan jalan, kecukupan panjang dan lebar lintasan, keamanan area sekitar, serta pengaturan lalu lintas dan keselamatan penerbangan.

Karena itu, uji coba di Tol Pasuruan-Probolinggo menjadi bagian dari upaya mengukur kesiapan infrastruktur sekaligus menguji koordinasi antarpihak yang terlibat.

Penggunaan jalan tol untuk kepentingan pertahanan juga tidak mengubah fungsi utamanya sebagai sarana transportasi publik. Pemanfaatannya sebagai landasan alternatif bersifat situasional dan harus mempertimbangkan aspek keselamatan serta kebutuhan operasional.

Bukan Uji Coba Pertama di Indonesia

Sebelum pelaksanaan di Jawa Timur, TNI AU telah menggelar uji coba serupa di ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka), Lampung, pada 11 Februari 2026.

Dalam kegiatan tersebut, pesawat F-16 Fighting Falcon dan EMB-314 Super Tucano berhasil melakukan pendaratan dan lepas landas di jalan tol. Uji coba itu menjadi pelaksanaan perdana pendaratan pesawat tempur di jalan tol Indonesia.

Kementerian Pertahanan menyebut pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif merupakan bagian dari penguatan kesiapsiagaan operasional dan sistem pertahanan negara. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menyediakan pilihan tambahan apabila pangkalan udara utama tidak dapat digunakan.

Keberhasilan uji coba di Tol Terpeka kemudian menjadi salah satu pengalaman bagi pelaksanaan pengujian serupa di Tol Pasuruan-Probolinggo.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, TNI AU berupaya meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan dalam operasi udara. Pemanfaatan infrastruktur alternatif diharapkan dapat membantu menjaga fleksibilitas dan kesinambungan operasi pertahanan udara Indonesia.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Parlemen

Letjen TNI (Purn) Hotmangaraja Panjaitan Masuk Dalam Daftar Calon Duta Besar RI untuk Singapura

Jakarta, Teritorial.com – Letjen TNI (Purn) Hotmangaraja Panjaitan resmi masuk ke dalam daftar calon Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI)
Parlemen

Puan Membantah Isu Gaji DPR Naik, Publik Singgung UMP

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Di tengah upaya pemerintah dalam mengelola anggaran secara efisien, isu mengenai adanya kenaikan gaji DPR yang mencapai