TERITORIAL.COM, JAKARTA –Alex Pereira sekali lagi membuktikan dirinya bukan petarung biasa. Di usia 38 tahun, sang legenda MMA asal Brasil itu justru memilih tantangan paling ekstrem dalam kariernya — naik ke divisi heavyweight untuk merebut gelar interim UFC, sebuah langkah yang berpotensi mengukir sejarah yang belum pernah ada sebelumnya.
Alex Pereira Siap Tempur di Halaman Gedung Putih
Tanggal 14 Juni 2026 sudah dilingkari merah di kalender para penggemar MMA dunia.
Di sinilah “Poatan” akan menghadapi Ciryl Gane dalam perebutan gelar interim heavyweight UFC, sebagai bagian dari gelaran UFC Freedom 250 — berlokasi di tempat yang tak kalah ikonik: halaman depan Gedung Putih, Washington D.C.
Baca juga : Inter Mendominasi, AC Milan Menang Tipis 1-0 di San Siro
Pengumuman mengejutkan ini disampaikan langsung oleh CEO UFC Dana White saat siaran langsung UFC 326 berlangsung, mengejutkan sekaligus memantik antusiasme komunitas MMA global dalam hitungan menit.
Dana White Ungkap Rencana Besar: Aspinall Menanti
Dana White tidak sekadar mengumumkan pertarungan — ia membeberkan peta jalan besar UFC untuk sang juara.
Jika Alex Pereira sukses menumbangkan Gane, maka target berikutnya sudah jelas: Tom Aspinall, juara heavyweight sejati yang saat ini masih dalam masa pemulihan akibat cedera mata parah yang dialaminya di UFC 321.
“Moving up and taking on a guy like Ciryl Gane, the way that these two strike, it’s going to be very, very interesting,” kata White dalam wawancara bersama Joe Rogan di sisi ring.
“Should [Alex Pereira] win the fight, then we figure out what’s going on with Tom Aspinall, and it could be him vs Aspinall,” lanjutnya.
Aspirall sendiri absen dari persaingan aktif setelah laga melawan Gane di UFC 321 berakhir no contest, dipicu oleh tendangan ilegal berulang yang menyasar area matanya hingga ia tak sanggup melanjutkan pertarungan.
Dari Middleweight ke Heavyweight: Rekam Jejak “Poatan” yang Tak Masuk Akal
Untuk benar-benar menghayati besarnya momen ini, perlu dilihat dari mana Pereira memulai perjalanannya.
Sejak menginjakkan kaki di UFC pada 2021, ia telah:
- 🏆 Menjadi juara middleweight UFC
- 🏆 Menjadi juara light heavyweight UFC — dua kali
- ⚔️ Meraih 7 dari kemenangan UFC-nya atas mantan juara atau calon juara
- 💥 Menyelesaikan semua itu hanya dalam 12 pertarungan
Pertarungan terakhirnya pun tak kalah dramatis. Pereira membalas kekalahan lamanya dengan men-knock out Magomed Ankalaev dari Dagestan, merebut kembali sabuk light heavyweight pada Oktober 2025.
Kini, alih-alih bersantai di puncak divisi yang sudah ia dominasi, “Poatan” justru memilih jalan yang lebih keras.
Berat Badan 242 Pon: Bukan Gertakan, Ini Serius
Keraguan soal kesiapan fisik Pereira di kelas heavyweight langsung terbantah oleh satu angka: 242 pon (±109,8 kg).
Itulah berat badan Pereira saat ini — lompatan masif dari batas timbang light heavyweight di angka 205 pon (93 kg). Bukan sekadar penambahan berat badan biasa, ini adalah sinyal bahwa program persiapannya untuk debut di kelas terberat UFC sudah berjalan serius jauh sebelum pengumuman resmi dibuat.
Ciryl Gane: Lawan yang Tidak Bisa Dianggap Enteng
Meski Pereira menjadi unggulan tipis, bukan berarti Gane bisa dipandang sebelah mata.
Bahkan Israel Adesanya — rival bebuyutan Pereira sejak era kickboxing Glory hingga ke panggung UFC — mengakui bahwa laga ini jauh dari sekadar formalitas.
“I hope Alex [Pereira] wins. That’s crazy. [Ciryl] Gane is no joke. Gane can dance around him. [He’s] slick, could knock him out as well. But I think Alex can knock him out too,” ujar Adesanya di kanal YouTube pribadinya.
Dari sisi taruhan, opening odds DraftKings menempatkan Pereira sebagai favorit di -130, sedangkan Gane tercatat sebagai underdog di +110 — selisih yang tipis dan mencerminkan betapa sulitnya memprediksi hasil pertarungan ini.
Peringatan dari Mantan Korban KO-nya Sendiri
Jamahal Hill, mantan juara light heavyweight yang pernah dirobohkan Pereira, justru memberikan peringatan keras.
Menurutnya, para petarung di kelas heavyweight punya senjata andalan yang tidak dimiliki divisi di bawahnya: keunggulan massa tubuh dan jangkauan. Di kelas terberat, bahkan petarung seelegan apa pun kerap kesulitan bergerak bebas ketika harus berhadapan dengan badan yang jauh lebih masif.
Pereira Masuk Golongan Dewa MMA
Kemenangan atas Gane hanyalah batu loncatan pertama. Jurnalis MMA senior Ariel Helwani melaporkan bahwa UFC secara internal menginginkan skenario Pereira vs. Jon Jones — pertarungan yang disebut sebagai pilihan terbaik tanpa keraguan — apabila semua pihak sepakat.
Namun lebih dari itu, jika “Poatan” berhasil menaklukkan Gane lalu menyingkirkan Aspinall, ia akan menjadi petarung pertama dalam sejarah UFC yang pernah menjadi juara di tiga divisi berbeda.
Prestasi itu tidak hanya akan mengangkat namanya ke level tertinggi dalam MMA — tapi juga mengubah narasi sejarah olahraga tempur dunia secara keseluruhan.
“Saya Punya Keinginan, tapi Tidak Sepenuhnya di Tangan Saya”
Jauh sebelum pengumuman resmi ini, Pereira sudah lebih dulu berbicara tentang mimpinya.
“I mentioned the White House against Jon Jones, and I’ve also even spoke about a fight at heavyweight for a third belt. But I don’t know, it’s not in my control. I have my desires, but I’m also just waiting like everyone else,” ujar Pereira.
Kini, semesta seolah menjawab keinginan itu.
Pada 14 Juni 2026, di bawah langit Washington D.C., di hadapan Gedung Putih yang menjadi saksi bisu, Alex Pereira akan bertaruh lebih dari sekadar sabuk — ia bertaruh pada warisannya sendiri di hadapan dunia.

