JAKARTA, Teritorial.com – Sekolah robot di China menjadi bagian dari upaya negara tersebut mempercepat pengembangan robot humanoid agar mampu menjalankan berbagai pekerjaan di dunia nyata. Di fasilitas khusus, robot dilatih melakukan aktivitas sederhana seperti mengambil botol air, membawa nampan, memindai paket hingga melipat pakaian.
Berbeda dari sekolah pada umumnya, peserta didik di fasilitas tersebut merupakan robot humanoid. Mereka berulang kali melakukan gerakan yang sama dengan bantuan operator manusia. Setiap gerakan kemudian direkam dan dikumpulkan sebagai data untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan pada robot.
Fasilitas semacam ini berkembang di sejumlah wilayah China. Salah satunya berada di Distrik Shijingshan, Beijing. Pusat pelatihan tersebut telah beroperasi sejak September 2025 dan memiliki luas lebih dari 10.000 meter persegi.
Sekolah Robot di China Kumpulkan Data Gerakan
Pelatihan robot humanoid tidak sekadar mengajarkan robot melakukan satu pekerjaan. Sistem tersebut dirancang untuk menghasilkan data dalam jumlah besar yang dapat digunakan dalam pengembangan embodied intelligence atau kecerdasan yang memungkinkan mesin memahami dan berinteraksi dengan lingkungan fisik.
Di pusat pelatihan Shijingshan, robot diarahkan untuk menghadapi berbagai skenario. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, layanan sehari-hari hingga kegiatan industri.
Robot dilatih mengambil benda dari rak, membawa makanan, memindai paket dan melakukan pekerjaan lain yang membutuhkan koordinasi antara penglihatan, gerakan tangan, keseimbangan tubuh serta kekuatan saat menggenggam benda.
Proses tersebut dilakukan berulang kali. Operator manusia menggunakan perangkat pengendali untuk memberikan contoh gerakan kepada robot. Data yang dihasilkan kemudian digunakan untuk membantu sistem robot memahami bagaimana suatu tindakan harus dilakukan dalam kondisi tertentu.
Dengan demikian, sekolah robot di China pada dasarnya berfungsi sebagai pusat pengumpulan sekaligus pengolahan data fisik untuk pengembangan robot humanoid.
Melipat Pakaian Jadi Salah Satu Latihan
Salah satu aktivitas yang menarik perhatian adalah latihan melipat pakaian. Bagi manusia, pekerjaan tersebut terlihat sederhana. Namun, bagi robot, kain memiliki karakteristik yang sulit diprediksi karena bentuknya dapat berubah, kusut, terlipat atau bergeser ketika disentuh.
Karena itu, robot perlu mempelajari cara menggenggam kain, menentukan posisi tangan, mengatur tekanan serta mengoordinasikan kedua lengan untuk menghasilkan gerakan yang tepat.
Latihan semacam itu penting karena kemampuan manipulasi objek menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan robot humanoid. Robot yang mampu menangani benda dengan bentuk dan tekstur berbeda akan memiliki peluang lebih besar untuk digunakan dalam pekerjaan rumah tangga maupun industri.
China Bangun Banyak Pusat Pelatihan Robot
Pengembangan fasilitas pelatihan robot tidak hanya berlangsung di Beijing. Sejumlah daerah lain di China juga membangun pusat serupa sebagai bagian dari pengembangan industri embodied intelligence.
Data Interact Analysis menunjukkan sedikitnya 90 pusat pengumpulan dan pelatihan data robot humanoid berada dalam tahap beroperasi, direncanakan atau dibangun di China hingga akhir April 2026. Dari jumlah tersebut, 64 fasilitas telah beroperasi.
Zhejiang, Guangdong dan Jiangsu termasuk wilayah dengan jumlah fasilitas yang cukup besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan robot mulai dipandang sebagai bagian penting dari infrastruktur teknologi, bukan lagi sekadar eksperimen di laboratorium.
China juga memiliki alasan strategis untuk mempercepat pengembangan tersebut. Produksi perangkat keras robot humanoid di negara itu berkembang pesat, tetapi kemampuan robot untuk menjalankan pekerjaan secara mandiri masih membutuhkan data dunia nyata dalam jumlah besar.
Data Jadi Kunci Pengembangan Robot Humanoid
Robot humanoid membutuhkan jenis data yang berbeda dibandingkan sistem AI generatif yang banyak memanfaatkan teks, gambar dan suara dari internet.
Untuk dapat bergerak dan berinteraksi dengan benda, robot membutuhkan data mengenai posisi tubuh, gerakan sendi, kecepatan, penglihatan, sentuhan, tekanan serta gaya. Data tersebut harus diperoleh melalui interaksi fisik secara langsung.
Kebutuhan tersebut membuat sekolah robot di China memiliki fungsi strategis. Semakin banyak skenario yang dapat disimulasikan dan semakin banyak gerakan yang direkam, semakin besar pula basis data yang dapat digunakan untuk melatih model robot.
Pusat Shijingshan, misalnya, saat ini memiliki sekitar 100 robot humanoid. Fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 29.000 jam data setiap tahun dan mencakup hampir 700 skenario pelatihan.
Dari Ruang Latihan Menuju Dunia Kerja
Pengembangan sekolah robot pada akhirnya diarahkan untuk membawa humanoid keluar dari ruang pelatihan. Robot diharapkan dapat bekerja di pabrik, pusat logistik, fasilitas pelayanan hingga lingkungan rumah tangga.
Namun, kemampuan tersebut membutuhkan proses panjang. Robot harus mampu menghadapi kondisi yang berubah-ubah, memahami objek berbeda dan menyesuaikan gerakannya secara real time.
Karena itu, pelatihan berulang melalui lingkungan nyata maupun simulasi menjadi bagian penting dari pengembangan teknologi tersebut.
Dengan membangun jaringan sekolah robot di China, negara tersebut tidak hanya berusaha meningkatkan kemampuan mesin, tetapi juga membangun fondasi data yang diperlukan agar robot humanoid dapat digunakan secara lebih luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan data yang dikumpulkan berkualitas serta mampu diterjemahkan menjadi kemampuan robot yang benar-benar berguna dalam kehidupan dan dunia kerja.

