TERITORIAL.COM, JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur kawasan Sumatera Utara sejak akhir pekan lalu memicu bencana besar di Tapanuli Utara. Setidaknya 14 titik terdampak. Banjir dan longsor melanda sejumlah kecamatan, beberapa dengan intensitas yang sangat parah.
Menurut Kapolres Tapanuli Utara, Ernis Sitinjak, wilayah paling parah berada di Desa Suka Maju, Kecamatan Pahae Jae. Air tergenang hingga ketinggian sekitar empat meter.
“Sejumlah titik lain di Purbatua, Siatas Barita, dan Tarutung juga terendam banjir dengan ketinggian antara 70 sentimeter hingga tiga meter,” ungkap Ernis.
Di Desa Suka Maju, sedikitnya 20 rumah warga terendam, dan satu sisi dari Jembatan Aek Puli lama ambruk. Untungnya, arus lalu lintas tetap bisa dialihkan lewat jembatan baru.
Total ada sekitar 98 rumah yang terdampak banjir. Beberapa ruas jalan di pusat Tarutung juga putus total akibat luapan air, sehingga mobilitas warga sangat terganggu.
Longsor di Jalur Strategis
Selain banjir, longsor juga terjadi di enam titik berbeda. Sebagian besar berada di jalur strategis Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) Tarutung–Sibolga. Di tiga titik sepanjang KM 29–35 longsor menutup total badan jalan.
Seorang warga, Haratua Sipahutar (50), mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa material longsor di KM 29–30. Saat ini ia dirawat intensif di RSUD Tarutung.
Di Desa Sitolu Ompu, Kecamatan Pahae Jae, longsor bahkan menimpa dua rumah, empat orang dilaporkan luka-luka, termasuk seorang anak.
Bupati setempat, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, menyebut “Ada lebih kurang 20 titik longsor yang menutupi badan jalan serta badan jalan yang rubuh ke jurang, membuat jalur Tarutung menuju Sibolga dan Tapanuli Tengah terputus total sementara.”
Masyarakat berharap pemerintah pusat dan provinsi segera turun tangan untuk memulihkan akses. Mereka juga berencana berusaha menembuskan kembali jalan Tarutung–Tapteng.
Evakuasi, Bantuan Darurat, dan Upaya Pemulihan Jalan
Meski hujan lebat masih diprediksi berlangsung beberapa hari ke depan menurut laporan dari stasiun cuaca setempat, upaya evakuasi dan pembersihan sudah dijalankan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan tim gabungan. Bersama BPBD, TNI-Polri, dan pemerintah daerah, untuk membuka kembali jalur-jalur utama dan mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Salah satu prioritas sekarang adalah pemulihan akses jalan dari Sibolga ke Tapanuli Tengah dan Selatan, serta ke Tarutung. BNPB menargetkan agar akses bisa dibuka dalam waktu satu hingga dua hari ke depan.
Kondisi Bencana di Sumatera Utara
BNPB melaporkan bahwa bencana ini tidak hanya menimpa Tapanuli Utara. Empat wilayah yaitu Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan juga dilanda banjir, banjir bandang, dan longsor secara bersamaan dalam kurun 24–25 November 2025.
Menurut data sementara dari BNPB, peristiwa ini disebabkan oleh cuaca ekstrem dan intensitas hujan yang sangat tinggi. Banyak daerah sempat terisolisasi akibat terputusnya jalur transportasi.
Media nasional juga melaporkan bahwa korban jiwa, luka-luka, pengungsi, serta kerusakan rumah dan jembatan terjadi di banyak titik, menandakan luas dan parahnya dampak bencana di Sumatera Utara.
“Upaya evakuasi, dan pembersihan material longsor sempat dihentikan Selasa malam karena hujan lebat, angin kencang, dan minimnya penerangan. Operasi akan dilanjutkan kembali pada Rabu pagi ini,” tutup Ernis.

