Wellness

Jalan Kaki Cepat Vs Lebih Jauh, Lebih Sehat Mana?

TERITORIAL.COM, JAKARTA — Banyak orang seringkali mempertanyakan metode jalan kaki mana yang memberikan dampak paling optimal bagi kesehatan tubuh. 

Sebagian orang meyakini bahwa berjalan cepat adalah kunci kebugaran, sementara sebagian lainnya memilih menempuh jarak sejauh mungkin meskipun dengan ritme santai. 

Menanggapi fenomena ini, dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, seorang pakar ilmu faal olahraga klinis, memberikan penjelasan mendalam yang menjernihkan perdebatan tersebut.

Keunggulan Intensitas dalam Memacu Jantung 

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa jalan kaki cepat atau power walking memberikan tekanan positif pada sistem kardiovaskular. Saat seseorang meningkatkan temponya, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. 

Akibatnya, otot jantung menjadi lebih kuat dan elastisitas pembuluh darah pun meningkat. Selain itu, aktivitas dengan intensitas tinggi ini memicu pembakaran kalori yang lebih efisien dalam durasi yang relatif singkat. 

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang memiliki jadwal harian padat, jalan cepat menjadi solusi praktis untuk menjaga berat badan tetap ideal.

Manfaat Jarak Tempuh bagi Ketahanan Fisik 

Di sisi lain, berjalan kaki dengan jarak yang jauh menawarkan manfaat yang tidak kalah penting, terutama dalam hal ketahanan fisik jangka panjang. 

Metode ini menuntut tubuh untuk bergerak secara konsisten dalam waktu yang lama. Meskipun pembakaran kalorinya mungkin tidak secepat jalan cepat, durasi yang panjang memastikan tubuh tetap aktif dan membakar cadangan energi secara bertahap. 

Lebih lanjut, dr. Iwan menekankan bahwa jalan jauh cenderung lebih aman bagi sendi, sehingga sangat cocok bagi pemula atau individu dengan berat badan berlebih yang baru memulai rutinitas olahraga.

Pentingnya Konsistensi di Atas Kecepatan 

Namun demikian, dr. Iwan menegaskan bahwa kunci utama dari kedua metode ini bukanlah pada persaingan kecepatannya, melainkan pada aspek konsistensi dan stabilitas gerakan. 

Beliau menyarankan agar setiap orang menjaga ritme yang dinamis tanpa terlalu banyak berhenti di tengah sesi. Sebagai contoh, berjalan secara konstan selama 30 menit jauh lebih bermanfaat daripada berjalan satu jam namun terus-menerus terhenti oleh gangguan.

Menetapkan Target Langkah yang Realistis 

Selanjutnya, dokter juga memberikan saran mengenai target langkah harian. Meskipun angka 10.000 langkah sering menjadi standar umum, beliau berpendapat bahwa 5.000 langkah sudah menjadi fondasi yang cukup solid bagi kesehatan dasar. 

Setelah tubuh terbiasa dengan beban tersebut, barulah seseorang dapat meningkatkan intensitas atau jaraknya secara bertahap untuk mencapai hasil yang lebih optimal.

Menyesuaikan Pilihan dengan Kebutuhan Tubuh 

Sebagai kesimpulan, pilihan antara jalan cepat atau jalan jauh sepenuhnya bergantung pada tujuan pribadi dan kondisi fisik masing-masing individu. 

Jika Anda ingin meningkatkan kapasitas jantung, maka jalan cepat adalah pilihannya. Sebaliknya, jika Anda mengutamakan kenyamanan dan pembiasaan gaya hidup aktif, maka jarak tempuh menjadi prioritas. 

Hal terpenting adalah segera memulai langkah pertama dan mendengarkan sinyal yang diberikan oleh tubuh untuk menghindari risiko cedera.

kaylalayalia

About Author

You may also like

Wellness

5 Posisi Tidur yang Bisa Bikin Asam Lambung Naik, Hindari!

Jakarta, teritorial.com – Asam lambung naik atau gastroesophageal reflux disease (GERD) bisa mengganggu kualitas tidur. Rasa perih di dada, sensasi terbakar di
Wellness

Menkes Budi Sebut Laki-laki dengan Ukuran Celana 33 Lebih Cepat Menghadap Allah

TERITORIAL.COM, Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi sadikin memberi peringatan kepada masyarakat untuk memperhatikan beberapa indikator kesehatan agar terhindar dari