Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila tersebut menghadirkan Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia serta pengamat politik Adi Prayitno sebagai narasumber.
Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta Ahmad Zaki Iskandar mengatakan tema yang diangkat diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tantangan demokrasi di era digital, termasuk wacana penerapan sistem pemilu elektronik atau e-voting.
“Mudah-mudahan ini bisa memberikan pencerahan bagi kita semua di Hari Kelahiran Pancasila tahun 2026 ini,” kata Zaki.
Menurut Zaki, Pancasila tetap menjadi fondasi utama bangsa dalam menghadapi berbagai perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
“Tentu saja Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah landasan kita untuk terus menuju dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka mencapai cita-cita bersama, yaitu menuju kesejahteraan masyarakat, terutama menjelang 100 tahun Indonesia nantinya,” ujarnya.
Ia menilai tantangan menjaga nilai-nilai Pancasila semakin kompleks di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi komunikasi. Berbagai pengaruh dari luar, kata dia, dapat mengubah cara pandang generasi muda terhadap ideologi bangsa.
“Dari zaman dulu tantangannya sudah banyak sekali, apalagi sekarang dengan kemajuan teknologi digital dan telekomunikasi. Banyak sekali doktrin-doktrin yang mencoba mengubah cara pandang terutama para generasi muda Indonesia terhadap Pancasila. Ini yang harus kita jadikan tantangan program, terutama bagi kader Partai Golkar, bagaimana terus menggaungkan Pancasila sebagai dasar negara kita,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Baleg DPR RI Ahmad Doli Kurnia mengatakan pembahasan mengenai penerapan e-voting merupakan bagian dari isu yang akan dikaji dalam revisi Undang-Undang Pemilu. Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu di Indonesia.
“Kalau kita bicara soal apakah menerapkan e-voting atau tidak, pertama ini adalah bagian dari isu-isu yang harus kita selesaikan dalam revisi Undang-Undang Pemilu. Jadi ini bagian dari upaya kita untuk tetap meningkatkan kualitas sistem pemilu kita,” kata Doli.
Ia menjelaskan bahwa e-voting merupakan salah satu bagian dari konsep e-election yang mencakup berbagai tahapan digital dalam pemilu, mulai dari pemungutan suara, penghitungan suara hingga rekapitulasi hasil.
Menurut Doli, penggunaan teknologi digital dalam pemilu berpotensi memberikan sejumlah manfaat, seperti mempermudah partisipasi masyarakat, meningkatkan efisiensi biaya, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas proses pemilu.
Meski demikian, ia menegaskan penerapan sistem tersebut membutuhkan sejumlah prasyarat penting. Salah satunya adalah kesiapan infrastruktur digital yang merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Kita harus bisa mempersiapkan persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya infrastruktur. Infrastruktur jaringan internet kita misalnya masih banyak PR, jaringan listrik kita juga masih belum merata,” ujarnya.
Selain itu, Doli menilai tingkat literasi digital masyarakat juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan sebelum menerapkan sistem pemilu elektronik secara luas.
“Apakah semua masyarakat kita ini sudah melek digital? Secara kultural kita sudah terbiasa dengan budaya digital ini atau belum, termasuk mempersiapkan mental kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa sistem digital memiliki risiko tersendiri, termasuk ancaman peretasan (hacking) yang telah menjadi perhatian di sejumlah negara yang lebih dulu menerapkan sistem serupa.
“Sistem digital ini juga ada kelemahannya. Di beberapa negara yang sudah bertahun-tahun menerapkannya sekarang mulai agak ditinggalkan karena rawan hacking,” ujar Doli.
Karena itu, menurut dia, apabila Indonesia ingin menerapkan e-voting pada Pemilu 2029 atau pada periode berikutnya, seluruh persyaratan teknis maupun sosial harus dipenuhi terlebih dahulu.
“Kalaupun kita mau menerapkannya tahun 2029 atau kapan pun, kita harus memenuhi persyaratan yang cukup panjang, mulai dari infrastruktur, kultur, mental digital masyarakat, dan berbagai aspek lainnya,” pungkasnya.

