TERITORIAL.COM, JAKARTA — Eskalasi politik di Thailand semakin memanas seiring keputusan Perdana Menteri petahana, Anutin Charnvirakul, untuk kembali mengikuti pemilu pada 8 Februari 2026.
Kepastian ini muncul setelah Partai Bhumjaithai secara resmi mendeklarasikan Anutin sebagai calon tunggal mereka untuk menduduki kursi kepemimpinan di Negeri Gajah Putih tersebut.
Dalam pidato politiknya, Anutin menegaskan bahwa partainya kini memikul tanggung jawab besar untuk menjawab harapan tinggi masyarakat Thailand.
Oleh karena itu, ia menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan kepemimpinan demi menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian politik.
Langkah Strategis Membubarkan Parlemen
Sebelum mencapai titik pencalonan ini, Anutin mengambil langkah berani dengan membubarkan parlemen pada awal Desember. Keputusan tersebut sebenarnya merupakan respons cepat terhadap ancaman mosi tidak percaya dari Partai Rakyat.
Hal ini dipicu adanya tuduhan dari Partai Rakyat mengenai pelanggaran kesepakatan Bhumjaithai terkait reformasi konstitusi yang seharusnya tuntas dalam empat bulan.
Namun, alih-alih terjebak dalam perdebatan di parlemen, Anutin justru memilih untuk mengembalikan mandat kekuasaan langsung kepada rakyat melalui pemilu yang dipercepat. Akibatnya, peta politik Thailand kini berubah secara drastis dari rencana semula.
Nasionalisme sebagai Roda Popularitas
Di samping dinamika internal, faktor eksternal turut memperkuat posisi politik Anutin di mata publik. Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang kembali memanas secara tidak langsung telah mendongkrak popularitas sang Perdana Menteri.
Melalui sikapnya yang tegas dalam isu kedaulatan, Anutin berhasil menyentuh sentimen nasionalis warga Thailand.
Selain itu, banyak pengamat menilai bahwa narasi perlindungan wilayah ini menjadi senjata utama bagi Partai Bhumjaithai untuk menarik simpati pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat di masa krisis.
Rencana Keberlanjutan Kabinet Masa Depan
Meskipun menghadapi tantangan besar, Anutin tetap optimis terhadap komposisi pemerintahan yang ia pimpin saat ini.
Ia bahkan berjanji akan mempertahankan para menteri kunci dalam kabinetnya apabila ia memenangkan pemilu mendatang.
Beberapa nama penting seperti Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas dan Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow akan tetap menduduki posisi mereka.
Dengan menawarkan keberlanjutan kebijakan ekonomi dan diplomasi, Anutin berharap para investor dan masyarakat merasa yakin akan masa depan Thailand yang lebih stabil.
Sebagai kesimpulan, kontestasi politik pada Februari mendatang akan menjadi ajang pembuktian bagi Anutin Charnvirakul.
Masyarakat kini menanti apakah janji stabilitas dan perlindungan kedaulatan yang ia tawarkan mampu menumbangkan tuntutan reformasi yang diusung oleh pihak oposisi.

