TERITORIAL.COM, JAKARTA – Kabar duka datang dari dunia musik sekaligus ranah aktivisme Indonesia. Johnsony Maharsak Lumbantobing, yang publik kenal sebagai John Tobing, meninggal dunia pada Rabu malam, 25 Februari 2026. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Akademik UGM sekitar pukul 20.45 WIB.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, melainkan juga bagi generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu perjuangan ciptaannya. Informasi wafatnya pertama kali diumumkan melalui akun Instagram Kagama Channel, kanal komunikasi alumni Universitas Gadjah Mada.
“Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya Bapak John Tobing, Alumni Fakultas Filsafat UGM 1986. Semoga amal bakti beliau diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan,” tulis Kagama Channel, Kamis (26/2/2026).
Dari Kampus ke Gelombang Perlawanan
Semasa berkuliah di Fakultas Filsafat UGM, John dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa. Ia terlibat dalam dinamika gerakan kampus yang kala itu berada dalam tekanan politik. Situasi nasional pada akhir Orde Baru diwarnai pembatasan ruang kritik, penindasan terhadap aktivis, hingga pembungkaman media.
Dalam atmosfer yang penuh tekanan tersebut, John memilih jalur ekspresi yang berbeda. Alih-alih hanya berorasi di mimbar, ia menuangkan kegelisahan sosial melalui musik. Dari proses itulah lahir lagu “Darah Juang” pada awal dekade 1990-an—sebuah karya yang kemudian melampaui ekspektasinya sendiri.
Lagu yang Menggema di Era Reformasi
Nama “Darah Juang” melejit saat gelombang Reformasi 1998 mencapai puncaknya. Lagu itu dinyanyikan ribuan mahasiswa ketika menduduki kompleks parlemen di Jakarta, bergema dalam aksi-aksi di Yogyakarta, hingga terdengar dalam prosesi pemakaman sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer.
Lagu tersebut menjelma menjadi simbol perlawanan generasi muda yang menuntut perubahan politik dan sosial. Ia menjadi anthem yang mengiringi tuntutan agar Soeharto melepaskan jabatannya sebagai presiden.
Menariknya, John baru menyadari besarnya pengaruh lagu ciptaannya sekitar tahun 2010. Ia mengaku terkejut mengetahui bahwa karyanya ikut menjadi latar emosional dalam momen bersejarah bangsa.
Kehidupan Pribadi dan Warisan Abadi
John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara. Dalam kehidupan sehari-hari, ia menetap di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama istrinya, Dona, serta tiga anak mereka.
Kepergiannya menandai akhir perjalanan seorang seniman yang memilih menyuarakan kegelisahan zaman lewat lirik dan melodi. Namun, karya yang ditinggalkannya terus hidup—dinyanyikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Selamat jalan, John Tobing. Nada dan pesan perjuanganmu tak akan pernah padam.

