TERITORIAL.COM, JAKARTA – Menteri Pertahanan Israel menyampaikan bahwa negaranya kembali melancarkan operasi militer ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini disebut sebagai “serangan kedua” dan berlangsung di tengah aktifnya sirene peringatan serangan udara di berbagai kota di Israel.
Di pihak lain, sejumlah media Iran mengabarkan adanya dentuman keras di ibu kota, Teheran. Asap dilaporkan membumbung di beberapa lokasi. Beberapa sumber menyebutkan setidaknya tiga ledakan terjadi di kawasan pusat kota, termasuk di sekitar Jalan Universitas serta distrik Jomhouriyeh. Tak lama berselang, laporan tambahan menyebut suara ledakan juga terdengar di wilayah utara dan timur kota, seperti area Seyed Khandan.
Stasiun televisi Israel, Channel 12, mengutip narasumber yang mengatakan bahwa puluhan titik yang dikaitkan dengan rezim Iran menjadi sasaran dalam operasi tersebut. Namun, belum ada rincian resmi mengenai target spesifik maupun dampak kerusakan yang ditimbulkan.
Situasi Darurat di Israel
Pemerintah Israel segera mengambil langkah antisipatif di dalam negeri. Otoritas memerintahkan penutupan seluruh sekolah, membatasi aktivitas yang melibatkan kerumunan massa, serta mengimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah hingga kondisi dinyatakan aman. Militer Israel juga memastikan bahwa sirene peringatan telah diaktifkan secara luas dalam beberapa menit terakhir sebagai langkah kesiapsiagaan nasional.
Menteri Perhubungan Israel turut mengeluarkan kebijakan pembatasan akses warga ke seluruh bandara sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Media setempat melaporkan bahwa ruang udara Israel ditutup total. Kebijakan ini berdampak pada sejumlah maskapai asing yang tengah dalam perjalanan menuju Israel, dengan beberapa di antaranya memilih membatalkan penerbangan demi alasan keselamatan.
Laporan dari Channel 13 mengutip sumber keamanan anonim yang menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan aksi terkoordinasi antara Israel dan Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa rencana ini telah dipersiapkan selama berbulan-bulan, meski belum ada konfirmasi resmi dari Washington terkait keterlibatan langsung dalam serangan.
Ketegangan yang meningkat ini menandai eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan kawasan. Hingga kini, belum ada pernyataan rinci mengenai jumlah korban maupun kerusakan infrastruktur dari kedua belah pihak. Situasi di lapangan masih berkembang, sementara komunitas internasional terus memantau dampak lanjutan dari konfrontasi tersebut.

