TERITORIAL.COM, JAKARTA – Salah satu pejabat Amerika Serikat mengungkap detail operasi militer berisiko tinggi untuk menyelamatkan pilot jet tempur F-15E yang ditembak jatuh di wilayah Iran. Misi penyelamatan yang berlangsung pada Minggu (5/4) itu melibatkan kombinasi pesawat angkut dan pasukan elite dengan tingkat kerahasiaan tinggi.
Dalam keterangannya, operasi tersebut dijalankan secara senyap dengan menyusupkan pasukan khusus ke kawasan pegunungan tanpa terdeteksi pihak lawan. Tim penyelamat harus menempuh medan ekstrem dengan mendaki hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki demi mencapai lokasi pilot yang terjebak.
Setelah menemukan target, pasukan kemudian mengevakuasi pilot dengan cara manual, menyeretnya menuju area yang dinilai lebih aman sebelum proses evakuasi lanjutan dilakukan.
Kendala Teknis dan Keputusan Berisiko Tinggi
Di tengah jalannya misi, situasi menjadi semakin genting ketika dua pesawat angkut jenis MC-130 yang membawa sekitar 100 personel mengalami gangguan teknis. Kerusakan tersebut membuat pesawat tidak dapat kembali lepas landas, sehingga pasukan yang berada di dalamnya terancam terjebak di wilayah musuh.
Menghadapi kondisi tersebut, komandan pasukan khusus mengambil langkah yang penuh risiko dengan memerintahkan pengiriman armada tambahan ke dalam wilayah Iran. Evakuasi dilakukan secara bertahap untuk menghindari potensi deteksi dan serangan.
Pasukan yang sempat terjebak harus bertahan selama beberapa jam dalam tekanan tinggi sebelum bantuan akhirnya tiba. Situasi ini disebut sebagai salah satu momen paling menegangkan dalam keseluruhan operasi.
“Jika ada momen yang benar-benar mengejutkan, itulah momennya,” kata pejabat itu, dikutip Reuters.
Setelah seluruh personel berhasil ditarik keluar, militer AS mengambil langkah penghancuran terhadap peralatan yang tidak dapat diselamatkan, termasuk pesawat MC-130 dan beberapa helikopter tambahan, guna mencegah jatuh ke tangan pihak lawan.
Pilot Sempat Bersembunyi dan Operasi Diselimuti Senyap
Sebelum tim penyelamat tiba, pilot dilaporkan berhasil bertahan dengan cara bersembunyi di area pegunungan. Ia diketahui mengalami cedera berupa keseleo pada pergelangan kaki dan berlindung di celah batu di puncak bukit.
Dalam kondisi tersebut, pilot sempat melakukan kontak dengan militer AS untuk memberikan lokasi dan memastikan identitasnya. Proses verifikasi ini dinilai krusial untuk menghindari jebakan dari pihak lawan.
Sumber lain menyebutkan bahwa Central Intelligence Agency turut menjalankan strategi pengalihan informasi dengan menyebarkan kabar bahwa pilot telah ditemukan lebih awal, guna mengelabui pihak Iran.
Selain itu, militer AS juga melakukan gangguan terhadap sistem komunikasi elektronik di sekitar lokasi, serta melancarkan serangan terbatas ke jalur akses utama untuk menghambat pergerakan pihak lawan menuju area penyelamatan.
Untuk mendukung evakuasi, digunakan pesawat berukuran lebih kecil yang mampu mendarat di area terbatas. Sepanjang operasi berlangsung, Pentagon, Gedung Putih, dan Komando Pusat militer AS memilih untuk tidak memberikan pernyataan publik.
Setelah misi dinyatakan selesai, Presiden Donald Trump memberikan pujian terhadap keberhasilan operasi tersebut.
“Penyelamatan itu adalah mukjizat Paskah. Musuh besar dan ganas. Tapi, penyelamatnya brilian, kuat, tegas, dan tenang,” ungkap Trump saat wawancara dengan NBC, dikutip Fox News.
“Biasanya hal ini tidak dilakukan karena dianggap mustahil. Militer yang begitu hebat, tak tertandingi,”

