Headline Nasional

Antisipasi El Nino, Pemerintah Siapkan Strategi Air

TERITORIAL.COM, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi potensi kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan curah hujan sangat rendah di berbagai wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau 2026.

Salah satu upaya utama yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang kini telah menjadi bagian dari protokol penanganan kekeringan. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan bahwa teknologi ini digunakan untuk memperpanjang potensi hujan serta menjaga ketersediaan air di wilayah rawan kekeringan.

“OMC ini berkembang setelah tahun 2023 dan hari ini sudah menjadi protokol penanganan memperpanjang curah hujan dan penyediaan air untuk membasahi daerah bawahnya. Kemudian dari sisi lapangan, kita akan melakukan tindakan permanen penanggulangan kanal, yang dikenal canal blocking,” kata Menteri Hanif.

Selain OMC, pemerintah juga akan melakukan pengelolaan kanal di lahan gambut. Indonesia diketahui memiliki jaringan kanal yang sangat panjang, mencapai hampir 600 ribu kilometer. Penutupan sebagian kanal akan dilakukan dengan berbagai metode untuk menjaga ketersediaan air dan mencegah risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Penguatan Sistem Pengelolaan Air Gambut

Dalam upaya memperkuat ketahanan air, KLH juga mengembangkan program desa mandiri peduli gambut. Program ini berfokus pada pemantauan tinggi muka air di lahan gambut sebagai indikator utama kondisi lingkungan.

Ketika permukaan air gambut turun hingga di bawah ambang batas tertentu, pemerintah akan segera mengambil tindakan. Dalam hal ini, KLH bekerja sama dengan BMKG dan BNPB untuk mengaktifkan Operasi Modifikasi Cuaca.

“Jadi, kita memiliki kriteria ketika air gambut ini sudah di bawah 80 cm, maka kami akan mengaktivasi BMKG dan BNPB untuk segera melalukan OMC,” jelasnya.

Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kelembapan lahan gambut sekaligus mencegah terjadinya kebakaran yang kerap muncul saat musim kemarau ekstrem.

Ancaman Kemarau Ekstrem dan Dampaknya

Pemerintah memprediksi bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung cukup panjang, yakni dari April hingga November 2026. Selama periode tersebut, curah hujan diperkirakan berada pada titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.

“Tahun ini, kemarau dimulai bulan April sampai November. Ada tujuh bulan yang akan kita hadapi di dalam rangka perkembangan dan penambahan masa kemarau sejak bulan April. Pada saat kemarau panjang ini, di sisi lain, di Samudra Pasifik bagian tengah, dinamika suhu permukaannya naik sehingga memicu El Nino, sehingga tingkat curah hujan kita berada pada kondisi paling rendah selama 30 tahun,” ucap Menteri Hanif.

Rata-rata curah hujan bulanan bahkan diprediksi berada di bawah 100 mm. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan luas, termasuk penurunan cadangan air tanah dan mengeringnya lahan gambut.

Menteri Hanif menegaskan terdapat tiga faktor utama yang perlu diwaspadai, yaitu durasi kemarau yang panjang, penurunan curah hujan ekstrem, serta meningkatnya risiko kekeringan lahan.

“Sehingga ada tiga kondisi kunci yang harus menjadi perhatian. Pertama, kemarau panjang. Kedua, curah hujan yang paling rendah setelah 30 tahun dan kemudian kekeringan lahan,” tutur Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

Rizki Aminulloh

About Author

You may also like

Nasional

Munas NU Sepakat Tingkatkan Kontribusi Memperkokoh Nilai Kebangsaan

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Besar NU dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Tema
Nasional

Kedubes AS sampaikan penolakan Panglima TNI kesalahan administratif

Jakarta, Teritorial.com- Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta menyampaikan bahwa penolakan masuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke wilayah AS