LUMAJANG, Teritorial.com – Gunung Semeru erupsi sebanyak tiga kali pada Sabtu (17/10/2026), dengan tinggi kolom letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak. Aktivitas vulkanik di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan rawan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dari petugas.
Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, rangkaian letusan terjadi sejak dini hari hingga menjelang siang. Kolom abu yang dihasilkan teramati berwarna kelabu hingga putih dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menyampaikan perkembangan aktivitas tersebut melalui laporan tertulis yang diterima di Lumajang. Data pengamatan menunjukkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 04.52 WIB, 06.35 WIB, dan 10.42 WIB.
Kronologi Gunung Semeru Erupsi pada Sabtu
Erupsi pertama tercatat pada pukul 04.52 WIB. Saat itu, kolom letusan teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak. Abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tebal terlihat mengarah ke barat.
Aktivitas tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 125 detik. Rekaman instrumental ini menjadi salah satu indikator yang digunakan petugas untuk memantau aktivitas vulkanik gunung api.
Selanjutnya, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 06.35 WIB. Tinggi kolom letusan meningkat menjadi sekitar 800 meter di atas puncak atau mencapai ketinggian 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Pada erupsi kedua, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 25 milimeter dengan durasi letusan sekitar 90 detik.
Erupsi ketiga terjadi pada pukul 10.42 WIB. Pada kejadian ini, kolom letusan mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Abu vulkanik kembali teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat.
Aktivitas terakhir tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 137 detik. Dengan demikian, tiga erupsi yang tercatat pada hari itu memperlihatkan tinggi kolom letusan yang meningkat dari 700 meter hingga mencapai 1 kilometer.
Status Semeru Level III, Warga Diminta Waspada
Di tengah rangkaian erupsi tersebut, status aktivitas Gunung Semeru berada pada Level III atau Siaga. Status ini menjadi dasar bagi masyarakat untuk memperhatikan batas kawasan berbahaya serta mengikuti arahan petugas.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Kawasan tersebut berpotensi terdampak bahaya vulkanik, termasuk awan panas guguran dan aliran lahar.
Selain itu, warga juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area sempadan sungai tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Pembatasan juga berlaku pada radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut dinilai rawan terhadap lontaran batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat.
Potensi Awan Panas dan Lahar Perlu Diantisipasi
Selain memperhatikan batas jarak aman, masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak gunung.
Petugas secara khusus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Sungai-sungai kecil yang terhubung dengan Besuk Kobokan juga perlu diperhatikan karena berpotensi menjadi jalur aliran lahar.
Risiko tersebut perlu diantisipasi meskipun masyarakat tidak selalu melihat tanda bahaya secara langsung. Material vulkanik yang terbawa air hujan dapat mengalir melalui sungai dan menjangkau kawasan di luar lereng gunung.
Karena itu, warga di sekitar wilayah rawan diimbau tidak mendekati aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari petugas pengamatan gunung api dan instansi penanggulangan bencana.
Perkembangan aktivitas Semeru ini menegaskan pentingnya pemantauan vulkanik dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan. Di tengah tiga erupsi yang tercatat pada Sabtu, pembatasan aktivitas di zona berbahaya menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat di sekitar gunung.

