Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi material pengemasan berbasis hayati bernama Mushfoam. Produk ini dirancang sebagai alternatif pengganti styrofoam dengan memanfaatkan bahan alami yang mudah terurai dan mendukung konsep ekonomi sirkular (circular economy).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas bidang melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) UGM 2026.
Ketua tim riset Mushfoam, Divo Cahaya Fikri, mengatakan ide tersebut muncul dari kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan terhadap material polistirena sekaligus memanfaatkan limbah pertanian yang belum optimal digunakan.
“Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan,” jelas Divo Cahaya Fikri.
Menggunakan Jamur untuk Membentuk Material Pengganti Styrofoam
Mushfoam dikembangkan dengan memanfaatkan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) sebagai perekat alami. Jaringan akar jamur tersebut berfungsi menyatukan berbagai bahan organik hingga membentuk material yang kokoh.
Dalam proses produksinya, tim menggunakan ampas tebu yang telah diolah sebagai penguat struktur. Selain itu, tongkol jagung yang digiling digunakan sebagai bahan pengisi untuk membentuk massa material.
Campuran tersebut kemudian ditambahkan dedak padi dan kalsium karbonat untuk membantu menjaga kestabilan tingkat keasaman atau pH. Setelah melalui proses sterilisasi dan pemberian bibit jamur, material dibiarkan melalui tahap mycelium bio-fabrication selama sekitar 5 hingga 7 hari.
Pada tahap tersebut, miselium jamur tumbuh dan mengikat seluruh komponen hingga membentuk struktur yang kuat. Material yang sudah terbentuk kemudian dikeringkan menggunakan oven dan diberi lapisan lilin lebah (beeswax) agar memiliki ketahanan terhadap kelembapan.
Hasil akhirnya berupa panel ringan dengan ukuran sekitar 60 × 40 cm dan ketebalan 1–2 cm. Material ini juga dapat dicetak sesuai kebutuhan sehingga berpotensi digunakan untuk berbagai bentuk kemasan.
Dikembangkan untuk Pasar dan Industri Berkelanjutan
Selain menawarkan solusi lingkungan, Mushfoam juga dirancang agar memiliki nilai ekonomi. Berdasarkan kajian kelayakan bisnis pada tahap awal penjualan dengan target 400 unit pak, inovasi ini diproyeksikan memiliki Return on Investment (ROI) sebesar 46,24 persen dan Benefit/Cost Ratio mencapai 1,42.
Meski demikian, tim menyadari bahwa menghadirkan produk ramah lingkungan tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga strategi bisnis yang tepat agar dapat diterima masyarakat.
Anggota tim Mushfoam, Umi Muthoharoh, menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya menciptakan material berkelanjutan, tetapi juga memastikan produk mampu bersaing secara ekonomi.
“Bagi kami, tantangannya bukan hanya menghasilkan material yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar. Karena itu, kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang tetap terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang.”
Untuk tahap awal, pemasaran Mushfoam akan diarahkan melalui skema Business-to-Business (B2B) dengan menyasar pelaku UMKM di wilayah Yogyakarta. Setelah melalui tahap uji pasar, produk ini direncanakan masuk ke platform digital agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Tim juga menyusun strategi pengembangan jangka panjang dengan lima tahap berdasarkan kerangka Churchill dan Lewis (1987). Target pengembangan tersebut mencakup pembuatan varian food grade untuk kemasan makanan langsung serta pengajuan hak paten terhadap produk dan proses pembuatannya.
Tim pengembang Mushfoam terdiri dari Divo Cahaya Fikri (Teknik Nuklir, Fakultas Teknik) sebagai ketua, Nasyawana Ladita Agustine (Kimia, FMIPA), Umi Muthoharoh (Akuntansi, FEB), Reyhan Abelard Fikri (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi), Balqhis Naila Andini (Filsafat), serta dosen pendamping Choirunnisa Arifa, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA. dari Departemen Akuntansi FEB UGM.
Melalui Mushfoam, mahasiswa UGM menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi material bernilai tinggi sekaligus menjadi solusi terhadap persoalan sampah kemasan sintetis.

