TERITORIAL.COM, JAKARTA – Bencana tanah longsor melanda wilayah Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, pada Selasa (7/4/2026) malam. Peristiwa ini terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan kerusakan parah pada permukiman warga. Sedikitnya delapan rumah dilaporkan tertimbun material longsor, sementara lima orang dinyatakan meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, longsor terjadi sekitar pukul 21.30 WIB setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras dalam durasi cukup lama. Kondisi tanah yang labil tidak mampu menahan beban air, sehingga memicu pergerakan tanah yang langsung menghantam area tempat tinggal warga.
Proses Evakuasi dan Pencarian Korban
Kepala Basarnas Medan, Hery Marantika, menjelaskan bahwa curah hujan tinggi menjadi faktor utama terjadinya longsor tersebut.
“Semalam memang area ini diguyur hujan dengan intensitas lebat sehingga terjadi longsor yang menimpa delapan rumah. Dari delapan rumah yang tertimbun longsor, dilaporkan ke Basarnas ada enam korban,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Tim SAR gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pencarian sejak dini hari. Dalam proses awal evakuasi, petugas berhasil menemukan satu korban dalam kondisi selamat.
“Saat pencarian awal pada dini hari ditemukan satu korban selamat,” katanya.
Upaya pencarian terus dilanjutkan hingga pagi hari dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk warga setempat. Namun, hasil pencarian berikutnya menemukan lima korban lainnya dalam kondisi meninggal dunia.
“Pencarian berlanjut hingga pagi hari dan lima orang kami temukan dalam kondisi meninggal dunia,” katanya.
Korban selamat diketahui bernama Sehat Tarigan (70) yang kemudian segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Pancur Batu untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, lima korban meninggal dunia yakni Global (39), Rizki Sembiring (14), Boy Simorangkir (48), Jamilah Ginting (49), dan Rosilawati Ginting (48). Seluruh korban ditemukan dalam kondisi tertimbun material longsor yang menutup bangunan rumah mereka.
Potensi Longsor Susulan Masih Mengancam
Hingga saat ini, tim SAR masih melakukan sterilisasi dan pemantauan di lokasi kejadian. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan longsor susulan yang masih berpotensi terjadi.
Petugas mengidentifikasi adanya “mahkota longsor” atau bagian atas lereng yang masih labil dan berisiko runtuh kembali. Kondisi tersebut membuat area sekitar dinilai belum sepenuhnya aman untuk dihuni atau didekati.
Oleh karena itu, masyarakat sekitar diimbau untuk tetap waspada dan menjauh dari lokasi terdampak hingga situasi benar-benar dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam, khususnya di wilayah dengan kontur tanah yang rentan longsor, terlebih saat curah hujan tinggi melanda dalam waktu lama.

