TERITORIAL.COM, JAKARTA – Gunung Dukono yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanisnya dengan erupsi yang terjadi pada Senin (6/4/2026) pagi. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik yang menjulang tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak gunung. Hingga laporan ini disusun, aktivitas erupsi dilaporkan masih terus berlangsung.
Berdasarkan keterangan petugas pengamatan gunung api, Bambang Sugiono, tinggi kolom abu yang teramati mencapai kurang lebih satu kilometer dari puncak atau sekitar 2.087 meter di atas permukaan laut. Informasi tersebut disampaikan melalui laporan resmi yang dirilis pada hari yang sama.
“Terjadi erupsi Gunung Dukono pada hari Senin, 06 April 2026, pukul 09:26 WIT tinggi kolom abu teramati ± 1.000 meter di atas puncak,” tulisnya dalam laporan dikutip Senin (6/4/2026).
Sebaran Abu Mengarah ke Barat
Kolom abu yang keluar dari kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan ketebalan cukup pekat. Dari hasil pengamatan, arah sebaran abu vulkanik bergerak menuju wilayah barat dari gunung. Kondisi ini berpotensi berdampak pada area pemukiman yang berada di jalur sebaran angin.
Aktivitas erupsi seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi Gunung Dukono, yang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Letusan terjadi secara berkala, namun tetap memerlukan perhatian serius karena potensi bahayanya yang tidak bisa dianggap remeh.
Imbauan dan Larangan dari PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat dan wisatawan yang berada di sekitar kawasan gunung. Warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius berbahaya yang telah ditentukan.
Secara khusus, area Kawah Malupang Warirang dinyatakan sebagai zona terlarang dengan radius sejauh 4 kilometer. Siapa pun dilarang mendekati kawasan tersebut demi menghindari risiko yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak abu vulkanik. Mengingat arah angin dapat berubah sewaktu-waktu, penyebaran abu bisa meluas ke wilayah lain tanpa peringatan.
Penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut sangat dianjurkan sebagai langkah pencegahan. Hal ini penting untuk melindungi sistem pernapasan dari paparan partikel abu yang dapat membahayakan kesehatan.

