Daerahku Headline

Karhutla Kotim Ancam Satwa Liar, Empat Orangutan Diselamatkan dan Trenggiling Ditemukan Mati

Jakarta, TERITORIAL.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya merusak kawasan hutan, tetapi juga mengancam keselamatan satwa liar yang hidup di dalamnya. Sejumlah orangutan ditemukan di area bekas kebakaran, sementara dua ekor trenggiling ditemukan mati saat relawan menyisir lokasi terdampak.

Kerusakan habitat membuat satwa liar berisiko kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Dalam kondisi tersebut, sebagian satwa dapat berpindah mendekati perkebunan maupun permukiman warga, sehingga membutuhkan penanganan dari petugas konservasi.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit mencatat telah menyelamatkan empat individu orangutan selama Agustus hingga Oktober 2026. Keempatnya ditemukan di kawasan yang terdampak karhutla di wilayah Kotim.

Proses penyelamatan tidak selalu mudah. Petugas dan relawan harus melewati jalur yang sulit, termasuk jalan berlubang, akar pohon yang melintang, serta kawasan yang masih mengeluarkan asap.

Orangutan Ira ditemukan di hutan bekas kebakaran

Salah satu penyelamatan terbaru dilakukan pada Rabu (14/10/2026), ketika seekor orangutan betina bernama Ira ditemukan di kawasan bekas karhutla di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Gang Sahabat, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

Ira diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat badan 28 kilogram. Satwa tersebut pertama kali diketahui warga saat berada di area hutan yang telah terbakar.

Informasi awal mengenai keberadaan Ira diterima petugas BKSDA Pos Sampit dari warga bernama Sabinus. Orangutan itu ditemukan oleh rekannya, Kamilus, sekitar pukul 08.00 WIB ketika hendak membersihkan lahan kebun.

Saat menyadari kehadiran manusia, Ira naik ke pohon. Kamilus kemudian menghubungi Sabinus untuk meminta bantuan agar keberadaan satwa tersebut dapat ditangani dengan aman.

Petugas BKSDA bersama warga dan aktivis lingkungan memantau pergerakan Ira sebelum tim penyelamat tiba. Tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Tengah, Yayasan Orangutan Foundation International (OFI), dan komunitas penyelamat satwa kemudian melakukan evakuasi pada malam hari.

Lokasi penemuan cukup sulit dijangkau. Petugas harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalur sempit, medan tidak rata, serta sisa-sisa pepohonan di kawasan yang terbakar.

Saat ditemukan, Ira berada di atas pohon. Setelah dibius untuk memudahkan proses penyelamatan, tubuhnya masih tersangkut di antara ranting. Petugas kemudian menggunakan jaring pengaman untuk menurunkannya agar tidak terjatuh dan mengalami cedera.

Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka lainnya. Namun, kondisi tubuh Ira terlihat kurus sehingga petugas mengambil sampel darah untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah menjalani penanganan dan pemeriksaan lanjutan, Ira dilaporkan dilepasliarkan ke Suaka Margasatwa Lamandau, Kabupaten Kotawaringin Barat, pada Jumat (16/10/2026).

Empat orangutan diselamatkan selama karhutla

Kasus Ira menambah jumlah orangutan yang diselamatkan BKSDA Pos Sampit selama periode Agustus hingga Oktober 2026 menjadi empat individu.

Selain Ira, petugas menyelamatkan seekor induk dan anak orangutan di Jalan Sawit Raya serta satu individu lainnya di wilayah Bagendang. Seluruh satwa tersebut ditemukan di kawasan yang terdampak kebakaran, termasuk lokasi yang masih mengalami karhutla.

Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, menjelaskan bahwa kebakaran dapat merusak habitat dan mengurangi ketersediaan makanan bagi orangutan. Kondisi ini berpotensi mendorong satwa keluar dari hutan dan mendekati perkebunan atau permukiman.

BKSDA juga memantau sejumlah titik kemunculan orangutan di sekitar aktivitas warga. Pemantauan diperlukan untuk mengetahui keberadaan satwa sekaligus mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Masyarakat yang menemukan orangutan di kebun atau sekitar permukiman diimbau segera melapor kepada petugas. Warga tidak disarankan mencoba menangkap, mengejar, atau mengusir satwa tersebut sendiri karena tindakan itu dapat membahayakan manusia maupun orangutan.

Dua trenggiling ditemukan mati di lokasi bekas kebakaran

Dampak karhutla terhadap satwa liar juga terlihat di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kotim. Pada Minggu (20/9/2026), aktivis lingkungan menemukan dua ekor trenggiling dalam kondisi mati saat melakukan penyisiran di kawasan bekas kebakaran.

Kedua bangkai ditemukan di lokasi berbeda. Satu berada di area yang telah terbakar, sedangkan satu lainnya ditemukan tidak jauh dari kawasan tersebut. Relawan juga menemukan seekor ular mati di area yang sama.

Penyisiran dilakukan untuk mencari satwa yang mungkin masih bertahan hidup setelah kebakaran sekaligus mengevakuasi hewan yang terdampak. Tim biasanya menunggu api benar-benar padam atau proses pendinginan selesai sebelum memasuki lokasi, demi mengurangi risiko keselamatan selama pencarian.

Menurut aktivis lingkungan di Sampit, Harie, medan yang sulit membuat pencarian dan penanganan satwa membutuhkan waktu. Petugas dan relawan harus menyisir area terdampak dengan hati-hati untuk menemukan satwa yang masih hidup maupun yang telah mati.

Trenggiling merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Temuan bangkai tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya terlihat dari kawasan hutan yang hangus, tetapi juga dari satwa yang kehilangan habitat atau tidak berhasil menyelamatkan diri.

Lutung abu-abu ditemukan terluka di Tanah Mas

Pada Oktober 2026, warga Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, juga melaporkan penemuan seekor lutung abu-abu (Trachypithecus cristatus) dalam kondisi terluka.

Laporan diterima BKSDA Pos Sampit pada Rabu (7/10/2026) sore. Namun, ketika petugas tiba untuk memeriksa satwa tersebut, lutung sudah mati.

Berdasarkan keterangan warga yang dihimpun petugas, lutung itu diduga terjatuh dari bangunan yang cukup tinggi sebelum diserang anjing. Pemeriksaan menemukan luka sobek di bagian punggung dan pantatnya.

Dengan demikian, kematian lutung tersebut tidak dapat dipastikan sebagai akibat langsung karhutla. Meski ditemukan pada periode ketika kebakaran melanda wilayah Kotim, kronologi yang dilaporkan menunjukkan adanya dugaan jatuh dan serangan anjing.

Peristiwa ini tetap menjadi pengingat bahwa satwa liar yang ditemukan di sekitar permukiman menghadapi berbagai risiko. Warga diminta segera menghubungi petugas konservasi apabila menemukan satwa yang terluka, sekarat, atau memasuki kawasan tempat tinggal.

Kayla Dikta Alifia

About Author

You may also like

Daerahku

Kementerian Pertahanan Tinjau Pembangunan Kawasan Perbatasan Di Kalbar

Kalimantan Barat, Teritorial. Com – Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, pada tanggal 23 sampai dengan 25
Daerahku

Satgas Yonif PR 432 Kostrad Jaga perbatasan RI-PNG

Papua Barat, Teritorial.com- Prajurit Satgas Yonif PR 432, akhir november tiba desember awal langsung menempati jajaran pos sepanjang perbatasan sekotr