TERITORIAL.COM, JAKARTA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah mengarahkan sistem peluncur rudalnya ke sejumlah target strategis milik Amerika Serikat, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln serta kapal perang lainnya yang berada di sekitar Selat Hormuz. Pihak Teheran bahkan secara terbuka mengancam akan menghancurkan armada tersebut.
Pernyataan keras ini disampaikan oleh Mohsen Rezaei, seorang pejabat senior sekaligus penasihat militer bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Dalam wawancara yang disiarkan televisi, Rezaei menegaskan bahwa posisi militer AS kini berada dalam jangkauan sistem persenjataan Iran.
“Angkatan Laut Amerika berada di bawah peluncur rudal kami,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa sistem peluncur tersebut telah dipindahkan dan diarahkan secara langsung ke kapal-kapal perang AS, termasuk USS Abraham Lincoln.
“Mereka semua berada di bawah peluncur kami sekarang dan kami akan menenggelamkan semuanya. Kami tidak akan membiarkan satu pun lolos dari kami. Gencatan senjata, biasanya, harus menjadi langkah pertama setelah serangkaian perjanjian. Itulah mengapa saya tidak menerima ini sebagai gencatan senjata. Ini adalah keheningan,” lanjut Rezaei.
Kritik terhadap AS dan Situasi Gencatan Senjata
Dalam pernyataannya, Rezaei juga menyindir Presiden AS Donald Trump dengan menyebut upaya Washington di kawasan tersebut seolah ingin menjadi “polisi” di Selat Hormuz. Ia mempertanyakan legitimasi peran tersebut dan menilai langkah militer AS justru memperbesar risiko konflik.
Menurut Rezaei, kehadiran armada militer AS di wilayah tersebut menciptakan ancaman serius dan membuka peluang konfrontasi langsung. Ia menegaskan bahwa kemampuan rudal Iran dinilai cukup untuk menghancurkan target-target tersebut jika situasi terus memburuk.
Pernyataan tersebut juga menyoroti keraguan Iran terhadap status gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan. Rezaei menyebut kondisi saat ini bukanlah perdamaian, melainkan hanya jeda sementara tanpa kepastian kesepakatan yang jelas.
Klaim Blokade AS Dipertanyakan
Di sisi lain, militer AS melalui CENTCOM menyatakan telah berhasil menghalau sejumlah kapal yang mencoba meninggalkan pelabuhan Iran sejak diberlakukannya blokade laut. Dalam laporan terbarunya, disebutkan bahwa 10 kapal telah dipaksa kembali dan tidak ada yang berhasil menembus blokade tersebut.
Namun, data pelacakan maritim menunjukkan gambaran yang berbeda. Sejumlah kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran dilaporkan sempat melintasi Selat Hormuz, meskipun beberapa di antaranya kemudian berbalik arah. Data dari penyedia intelijen maritim menunjukkan bahwa setidaknya ada kapal-kapal terkait Iran yang berhasil melewati jalur strategis tersebut setelah blokade diberlakukan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, dengan sebagian besar pasokan minyak dunia melewati kawasan ini. Oleh karena itu, setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu dampak besar terhadap stabilitas energi internasional.
Situasi yang terus memanas ini menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama jika tidak ada upaya diplomasi yang mampu meredakan ketegangan antara kedua negara.

