TERITORIAL.COM, JAKARTA – Korea Utara kembali melakukan pengujian senjata dengan meluncurkan rudal balistik jarak pendek yang dilengkapi hulu ledak bom klaster. Informasi ini disampaikan oleh media pemerintah pada Senin (20/4/2026), yang menyebut uji coba tersebut merupakan bagian dari peningkatan aktivitas militer dalam beberapa pekan terakhir.
Pengujian ini dipimpin langsung oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan langsung memicu respons dari Korea Selatan yang menilai langkah tersebut sebagai tindakan provokatif.
Menurut laporan kantor berita KCNA, peluncuran yang dilakukan pada Minggu (19/4/2026) bertujuan untuk menguji kemampuan serta efektivitas daya hancur hulu ledak bom klaster dan ranjau fragmentasi yang dipasang pada rudal balistik taktis.
Uji Daya Hancur dan Jangkauan Strategis
Rudal yang digunakan dalam uji coba ini adalah jenis Hwasongpho-11 Ra, sebuah rudal taktis permukaan-ke-permukaan. Dalam pengujian tersebut, sebanyak lima proyektil diluncurkan menuju target di area pulau yang berjarak sekitar 136 kilometer dari titik peluncuran.
Hasilnya, rudal dilaporkan mampu menjangkau dan menghantam wilayah seluas sekitar 12,5 hingga 13 hektare dengan tingkat kepadatan serangan yang tinggi. Media pemerintah menyebut hal ini sebagai bukti kekuatan tempur yang signifikan.
Kim Jong Un disebut merasa puas dengan hasil tersebut dan menilai pengembangan hulu ledak bom klaster akan meningkatkan kemampuan serangan, baik dalam hal intensitas maupun akurasi terhadap target tertentu.
Sejumlah analis militer menilai kemampuan rudal ini dapat memperluas jangkauan ancaman Korea Utara. Peneliti dari lembaga kajian di Korea Selatan menyebut sistem ini berpotensi menjangkau ibu kota Seoul serta instalasi militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Reaksi Seoul dan Kekhawatiran Global
Militer Korea Selatan mengonfirmasi telah mendeteksi peluncuran beberapa rudal balistik jarak pendek dari wilayah Sinpo di pesisir timur Korea Utara. Sebagai respons, Seoul menegaskan akan mempertahankan kesiapan pertahanan bersama dengan Amerika Serikat.
Pemerintah Korea Selatan juga mendesak Pyongyang untuk menghentikan rangkaian uji coba yang dinilai memperburuk ketegangan kawasan. Mereka turut mendorong Korea Utara agar kembali terlibat dalam upaya dialog damai.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai uji coba ini menjadi indikasi bahwa Korea Utara tidak menunjukkan minat untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, program pengembangan militer Korea Utara terus berjalan meskipun negara tersebut berada di bawah sanksi internasional, termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Larangan terkait pengembangan senjata nuklir dan teknologi rudal balistik masih terus dilanggar.
Sebelumnya, Korea Utara juga melakukan uji coba rudal jelajah dari kapal perang, serta mempercepat modernisasi armada lautnya. Sejumlah laporan bahkan menyebut adanya dugaan dukungan teknologi militer dari Rusia, yang dikaitkan dengan keterlibatan Korea Utara dalam konflik di Ukraina.

